Selasa, 21 Juli 2015

Korean Language - Foreign Student Story (Room)

Alhamdulillah....

Hari ini dapat kamar baru, beda gedung dari sebelumnya, bangunan baru dan harapan baru,"Semoga di kamar yang baru belajar bias lebih focus dan suami bias menginap di tempat yang sama kalau libur."

Kamar aku sebelumnya di bangunan tua, lantai 1, kamar nomor 102. Ada 4 ranjang, yang diperuntukan untuk 4 mahasiswa seharusnya, tapi berhubung tidak ada yang bias sekamar dengan "orang ini", jadi aku lah yang tinggal bareng dia. Karena saya baru banget pertama kali dating ke korea dan gak tau apa-apa.

Saya pikir, kamar segitu sangatlah besar, agak surprise dan seru aja macam apartemen, ada dapur, kamar mandi dalam, AC dan penghangat ruangan. Senangnya, teman sekamarku juga muslim, pake jilbab juga (dari fotonya), orang Jawa juga.
Tapi ternyata......

"ZONG!!!!"

Semua berbeda 180 derajat, dia gak Javanese banget, jorok, gak rapi, berantakan, egois (Semua tempat dikuasain sama dia), gak pernah sholat dan jilbabnya sudah dilepas sejak di Jakarta sebelum berangkat ke Korea. Dandan aja dia yang jago dan lama banget, tapi untuk urusan kamar gak sama sekali tersentuh. Saya juga gak tahan berkali-kali bersihin bekas makan dia, nyapu kamar, ngelap meja, melihat pemandangan ranjang atas bawah milik "dia" yang selalu berantakan, pakaian dalam bertebaran, bungkus snack bekas makanannya masih ada di mejalah, kasurlah. Meja untuk berdua yang punya 6 laci aja gak cukup untuk Menuhin barang-barang dia yang selalu berantakan. Setiap hari berantakan, setiap saat harus melihat kapal pecah, jadi gak betah di kamar. Alhasil, aku selalu melarikan diri ke kamar lain atau pergi ke kota untuk mencari udara segar.

Jangan coba-coba kalian minta foto kamar yang melebihi kapal pecah, pasti kalian geleng-geleng dan kalian tidak akan bilang itu kamar seorang wanita!!

1 kamar memiliki 4 lemari yang harusnya diisi 4 orang, tapi berhubung tadinya saya sama dia aja, eh sama dia diisi sendiri 3 lemari itu cuma punya dia. Segitu banyaknya lemaripun gak cukup menampung pakaian dia yang seperti artis ada ratusan. Jadi, ditambahlah hook di luar pintu-pintu lemari jadi korbannya. Jemuran pakaiannya yang panjangnya 1, meter itu pun hanya terisi baju "tuan putri saja", jemuran baju di luar pun semua milik dia. Saya setiap nyuci harus menggeser dan pernah memindah semua bajunya ke satu ranjang yang memang khusus milik "tuan putri". Kamar mandi juga tak luput dari Tanah kekuasaan tuan putri, segitu besarnya kamar mandi isinya sabun cuci muka, sabun mandi, shampoo, conditioner, sikat gigi, odol dan segala macam pernak-pernik mandi "tuan putri".

Satu hal yang menambah jengkel, dia pake panci, serabut cuci piring dan sendok yang saya beli sendiri untuk dipakai pribadi. Karena saya tahu dia makan babi, masak daging babi di kamar, minum beralkohol dll, itu urusan dialah sama Allah. So, saya menjaga diri saya sendiri saja dai hal-hal begitu. Apa salah saya menjaga diri dari api neraka? Wong saya gak makan tapi saya juga kena imbasnya. Ogah!

Please..... semua hal sudah coba saya tolerir dan saya tahan, but not for my principle and my religion.
I don't care about your habit and etc.

Doa aku, suami, ayah-ibu dan keluarga Alhamdulillah dikabulkan. Today, I have privacy room. Just for my self and my world.

1 komentar:

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..