Senin, 20 Mei 2013

YA RABB, APA BEKALKU SUDAH CUKUP??

Monday, May 20th, 2013

Malam itu aku tak bisa menutup mata, entah ada apa...
Bolak balik aku buka status terakhir ke-empat saudaraku di BBM, tak banyak yang berubah, kecuali satu.. Bang Munzir, foto yang dipasang berupa kamar dengan desain indah, mataku terpaku beberapa lama. Entahlah.. seolah gambar itu menyiratkan sesuatu. Kamar dalam gambar itu bukan kamar di rumahnya, atau di suatu tempat yang aku kenali, agak asing.

Sabtu pagi, saat ingin berkemas untuk bermalam di rumah ibu, aku menemukan kemeja hitam di lemari. Lama kupandangi, "apa sudah muat untukku pakai?" tanyaku saat itu.
Entahlah, kulipat apik dan menjadi beberapa pilihan untuk kupakai di saat meeting pertama di hari senin nanti.
(feeling macam apa ini, meeting pertama menggunakan serba hitam, hingga jilbab dan kaos kaki).

Beberapa malam sebelumnya aku mimpi buruk. Abang Nanda juga mimpi hal yang sama, giginya patah tapi sebelah bawah. Dia tak menghiraukan mimpi itu, hanya menceritakannya padaku seolah hal biasa dan tak ada firasat apapun.

Jam 4 pagi dini hari senin, pintu kamarku diketuk ayah pelan, tapi dasar perasaan tidak enak. Ketukan pertama ayah membuatku terperanjat segera membuka pintu. Ayah memberi kabar kalau PakCek (suami adiknya ayah) meninggal jam 12 malam tadi.
Tanganku gemetar, mengambil Bb yang tergeletak pasrah di atas ranjang.

Segera kugulirkan ke-empat nama itu.
Benar, ke-empat nama itu statusnya berubah sama.
Innalillahi Wa Inna ilaihi Raji'un..

Allah......
Lemas rasanya..

Ayah memanggilku, menanyakan kegiatanku pagi itu.
"Ada meeting, Yah... tapi kalau boleh izin oleh bos-ku, insya Allah aku bisa ikut bareng ayah-ibu ke sana."
Alhamdulillah, Pak eko, Bos-ku langsung membalas dan memberikan izin.

Segera bersiap dan berangkat menuju Cikande, rumah Makcek dan Pakcek.
Sembari menemani aku mengbrol santai dengan ayah dan ibu yang sedikit mengantuk.
Ternyata ayah pernah mengalami kejadian yang sama, alhamdulillah masih diberi Allah kesempatan untuk hidup, "saat ayah lemas sehabis BAB ibu segera memberikan teh panas."

Ketika sampai aku melihat wajah dan mata saudara-saudaraku, teringat kenangan dulu saat aku kecil.
Saat aku tinggal bersama mereka ketika ayah-ibu naik haji. Aku pernah menjadi bagian keluarga kecil ini. Bahkan, aku lebih dekat dengan Makcek dari Ibu, dulu.

Ya Rabb, berkelebat dalam pikiranku kenangan-kenangan yang pernah terjadi, terukir dan sempat terekam. Aku tidak pernah tahu kapan kematian akan datang. Aku hanya tahu kematian itu pasti dan tidak bisa ditunda.
Rabb, aku bersimpuh di hadapan-Mu, meminta kepada Engkau yang Maha Pengampun.
Ampunilah dosa-dosanya, lapangkanlah kuburnya, terimalah ia di-sisi terbaik-Mu.
Ya Rabb, Engkau lebih menyayanginya daripada kami.
Aku percaya takdirmu lebih indah..

Rabb, apa bekalku sudah cukup untuk menghadapMu?


-Pondok Ketenangan-

Sekeping hati,
ia yang kukenal tak banyak berkata,
ia yang kukenal tak banyak melawan,
ia yang kukenal penuh senyum dan pemaaf.

Pondok ini begitu tenang,
Setenang wajahmu memancarkan senyummu,
Setenang jiwa-jiwa di dalam pondok ini,
Setenang caramu mendidik anak-anakmu.

Pakcek,
Darimu aku belajar arti sabar,
darimu aku mengerti ketegaran menghadapi hidup,
darimu aku mengerti segan dan tak banyak mengeluh.

Semoga pondok ketenangan ini akan terus mengikutimu hingga di alam kubur.
Pondok ketenanganmu di sana lebih indah, tenang dan damai.

With my pleasure,
Sabil ananda,


untuk Makcek, Wo Fadhilah - Bang Deddy, Bang Muzani - Ka ade,  Bang Tahmid - Kaka, Bang Munzir - Ka Risma diberikan kesabaran, ketenangan dan keikhlasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..