Minggu, 30 Desember 2012

OVER PROTECTED...

kisahku dengan cowok tampan dari sekolah lain itu, berakhir tanpa kata 'pisah'.
dia hanya mengatakan kalau diterima kuliah di IPB dengan PMDK alias tanpa tes, pembicaraan terakhir di depan primagama pula di bulan Januari. *tiba-tiba lagu Januari-nya Glenn Fredly mengalun di telingaku, pas banget sama situasinya... padahal pengennya sih 11 Januari-nya GIGI.. hahaha... ngarep abeesshhh.. :D
So, capcuslah aku ke Kota Pelajar, Yogyakarta...

Masuk perguruan tinggi negeri itu gak semudah membalikkan telapak tangan atau sekedar bersin setelah itu lega. Susahnya bisa ngerusak iman dan pikiran juga. wkwkwk... #alay
Berkutat dengan hitung-hitungan matematika dasar, matematika IPA, biologi dengan teori-terorinya yang seabreg-abreg, kimia dengan deretan rantai Carbon dan unsur kimia lainnya, fisika dengan turunan rumus yang njelimet dan bahasa inggris seadanya ajah. Itu selama 3x SPMB coy... Believe it or Not!

Meski begitu, aku sudah masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal di Yogya, mepet-mepet sawah dan berteman dengan keheningan alam. Aku bersemangat ingin masuk PTN karena ingin mengejar cita-citaku menjadi seorang dokter, namun tak mungkin kalau di swasta, karena mahal euy. alhasil, tetep ikutan bimbel di Yogya dan bertemu pemuda, beda dari cowok tampan yang dulu.

kisah itu dimulai dari kekesalanku pada seorang cowok di kelas bimbel yang sama denganku. Diam-diam dia selalu memperhatikanku, mengambil gambar diriku lewat ponsel canggihnya jaman itu. cowok itu tampangnya mesum banget, melihatnya aja udah buat bulu kuduk bergidik. Lalu aku coba meminta tolong dengan pemuda lain di kelasku juga, untuk membantuku menghapus gambar diriku di ponsel milik cowok itu. Ternyata, cowok itu sering mengikutiku dari belakang. hiiiiii.. menakutkan..

pemuda itu menawarkan bantuannya, memberiku tumpangan dengan sepeda motornya sampai di depan gang kos-kosanku. Awalnya, aku pikir hanya sampai sebatas hari itu aja, tapi berlanjut hingga obrolan dan saling berkirim pesan lewat sms. Pemuda itu cukup pemalu, namanya kalau dibilang anak jaman sekarang "agak cupu", tidak seimbang dengan perawakannya, tapi cocok jika mendengar dia berbicara. Lucu, ketika mendengarkan dia berbicara aku bisa berkali-kali menahan perut agar tidak tertawa, geli rasanya mendengar ucapan mendog ala orang kebumen.

Pertemanan itu bertahan hanya sebentar, ia tak menginginkan aku hanya jadi seorang teman, tapi lebih dari teman. Ia mengutarakan isi hatinya tanggal 17 April 2004. Sejak itu, aku memberinya nama baru, tapi tetep masih dalam kumpulan nama panjangnya. I called him, BRIAN. Cuplikan demi cuplikan mengajarkanku banyak hal baru, termasuk arti sebuah kesetiaan. Yap, setia, kata sederhana namun susahnya bukan main untuk diyakinkan.

Makan malam, makan siang bareng... seolah jadi hal biasa yang dilakukan ketika pacaran, karena ini kali pertama menjalani pacaran seperti ini, sebelum-sebelumnya hanya seperti "status" saja punya pacaran tapi untuk jalan berdua belum pernah sama sekali. Aneh rasanya, hal baru itu buat aku mengeja satu persatu dunia yang dulu sama sekali asing. Bangun pagi sudah ada telepon berdering di ponsel, membangunkanku tuk sholat subuh, terkadang sholat tahajud. Jam 6 pagi sudah datang ke kosan, mengantarkan sebungkus bubur ayam hangat. Jam 8 kurang sudah dijemput ke kosan untuk dianter ke kampus. Ber-smsan selama kuliah, senyum-senyum sendiri membaca pesan singkat dari kekasih hati. Selalu menyempatkan diri menghampiriku tuk makan siang bareng, padahal jauhnya UGM ke UMY itu lumayan lah, naik motor pula. Azan magrib langsung dapat sms mengingatkanku tuk sholat magrib, malemnya kalau lagi kepengen, ia mengajakku nonton di bioskop.

Semua itu terjadi setelah peristiwa dimana ia sakit, bisa dibilang akulah penyebabnya. Tiga bulan pertama, ia mengikuti gaya hidupku, entah benar atau tidak, sepertinya dia tidak pernah makan makanan murah. Maaf sekali, aku tidak diajarkan ibu untuk tidak menerima sesuatu dari seorang laki-laki manapun. Sebab, pada dasarnya, kalau kita mau dengan sengaja atau dengan senang hati mau menerima barang, uang atau hadiah dari mereka maka mereka (laki-laki) akan mudah saja meminta hal yang lebih dari kita. Believe it or not! LOL...

Well, itu prinsip pertamaku dalam hal berkencan dengan seorang pria.
Tidak Menerima Apapun dari Laki-laki, mau itu bentuknya hanya menjajani atau hadiah kecil. Say NO!

So, ia menurut saja, tiap kali diajak makan aku tidak pernah mau menerima, kalau ia tetap memaksa yo monggo telpon ibu ku ke rumah, minta izin padanya dan aku akan menerima, karena aku gak mau dikira macam-macam juga manfaatin anak orang ajah. Alhasil, dalam diam ia menyimpan sendiri, ikut kemana aku makan tanpa membayariku. Kalau ikut kemana aku makan, ya makan di angkringan haga 500-an itu lho! alias nasi kucing. Paling mahal yo burjo alias warung bubur kacang ijo yang ada serba mie juga goreng-gorengan gopek-an. hahaha...

Ternyatah... 3 bulan, tepar juga anak orang...
masuk RS kena tipes, berat badan turun, seperti tidak terurus.. hahhaha...

Honestly, pacaran dengannya itu seperti membawa beban.
Why??
Karena ia bukanlah anak orang biasa seperti aku, yang hidup sederhana dan pas-pasan, alhamdulillah masih bisa sekolah dan tinggal di Yogya ini.
Ia anak seorang Jendral, kendaraan yang digunakannya saja sudah cukup membuat mata wanita yang memandang 'wah'.
Pernah suatu saat aku memintanya mengganti kendaraan roda duanya dengan motor biasa, motor pitung, motor merah yang sering dipake kakek-kakek itu lho! itu lebih baik daripada harus menggunakan Mega Pro orange-nya..
Ada saja alasannya, tapi mau digimanain lagi... cuma bisa nerima ajalah...
makanya, agak males kalau diajak jalan olehnya. sebab, aku harus menyesuaikan diri dengannya juga kendaraannya.

Belom lagi, waktu ia mendapatkan hadiah dari Bapak sebuah mobil Katana, x_x
 OMG! itu terlalu berlebihan menurutku.
semingguan aku tidak ingin bertemu dengannya, lebih baik aku di kosan aja daripada harus berlenggak-lenggok dengan high heels agar seimbang dengan roda empatnya yang mentereng.

Beberapa kali mendapat telepon dari Ibu-nya, "Tolong ya, Salsa.. Kamu ngertiin anak saya, dia gak minta ko sama Bapak. Hanya itu hadiah dari Bapak. Masa kamu gak mau pergi sama dia karena dia naik mobil.."
Nah, itu dia....

(to be continued...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..