Rabu, 21 November 2012

EMAIL DARI PARIS

Dear Ferdinand,

Aku ingin menyapamu kali ini dengan berita hangat yang pasti membuatmu kecewa bercampur bahagia. Bukan karena aku memang ingin memudarkan senyum dari bingkai wajahmu yang tampan, melainkan memberikan kejutan kecil untuk surat yang kamu kirimkan selama dua tahun ini. Isi suratmu masih tersimpan apik di deretan folder atas nama ID-mu, bahkan aku sudah mencetak beberapa email darimu sebagai petunjuk perjalananku. Hmm, semakin penasaran, bukan?
Aku harap untuk saat ini kamu benar-benar mempersiapkan diri sebelum melanjutkan membaca suratku ini. Ambillah segelas teh hangat dengan obat penenang dari laci kecil di bawah meja komputermu. Hei, kenapa keningmu berkerut? Herankah dengan kata-kataku? Tidak percaya kalau aku masih mengingat betul kebiasaan kecilmu saat menghadapi hal-hal di luar kendalimu dan di luar perkiraanmu? Mungkin, bagi orang lain hal-hal kecil seperti itu tidak penting. Namun, bagiku hal seperti itu membuatku mengenal sosokmu meski jarak jauh yang memisahkan kamu dan aku.
Kejutan kecil ini merupakan jawaban salah satu pertanyaanmu selama ini, mempertanyakan kapan kita akan saling bertatap muka. Ada sesuatu yang menggelitik, saat aku tahu kamu akan menggelengkan kepala berkali-kali setelah melahap habis suratku.
Apakah sudah cukup mengambil nafas panjang dan menerima apa yang akan kuceritakan nanti? Aku akan percaya setelah sepotong senyum terukir di sudut bibirmu.
Hmm.. bukan, bukan seperti itu.
Ayolah! Aku yakin senyummu lebih lebar dari itu.
Nah, begitu baru benar!
Masih ingat dengan email terakhir yang kamu kirimkan untukku bulan lalu? Kamu mengejutkanku dengan visa asia yang kamu urus untuk berkunjung ke negaraku. Saat itu aku pikir kamu hanya bercanda. Aku berani bertaruh, siapa di antara kamu dan aku yang akan lebih dahulu mendatangi negara kita masing-masing. Sejak aku membaca email darimu, aku bertekad untuk memberikan sebuah kejutan untukmu. Pun aku bertahan untuk tidak membuka email sampai kejutan itu berhasil aku wujudkan.
Aku percaya kalau kita nanti akan dipertemukan Tuhan di tempat dan waktu yang tepat. Tidak mungkin kita mengutamakan masalah pribadi daripada setumpuk tugas kantor. Baru beberapa minggu dari tekad itu, aku mendapatkan surat tugas dari kantor yang memintaku untuk terbang ke sebuah negara yang selama ini hanya menjadi impian. Ini kesempatan besar yang pernah aku dapatkan selama aku bekerja, lagipula bukankah ini berita yang bagus? Aku bisa mendatangimu lebih dulu.
Voila![1]
Kunjungan pertama jatuh pada Musée du Louvre, di kala malam tempat ini sangat cantik, begitu memukau sampai membuat dadaku berdesir. Aku melihat langsung dengan kedua mataku kemolekan arsitektur bangunan yang terpampang dari tiap sudut Museum Louvre. Di salah satu sisi dari museum ini terpajang sebuah piramida kaca besar menunggu kedatanganku, tak henti-hentinya decak kagum yang terdengar dari para pengunjung yang melihat kemegahannya. Sisi pertama itu bernama Napoleon Hall. Aku tak segan memberikan empat jempol untuk arsitek yang mendesain begitu detail.
Langkahku tidak berhenti sampai di situ, dengan sigap aku mencari sisi lainnya yang sangat berbeda dari Napoleon Hall tadi. Seperti yang pernah aku baca di buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya mba Hanum Salsabiela Rais. Aku membuka kembali peta lipat denah lokasi galeri-galeri di Museum Louvre, mataku tertuju pada Section Islamic Art Gallery. Di sanalah aku menemukan suasana yang berbeda, seolah berada di dunia lain struktur mengagumkan yang mampu membuatku melupakan sejenak hal lain.
Aku menyusuri artefak peninggalan islam di ruangan ini, menikmati koleksi peradaban islam yang belum pernah aku temui di museum di Indonesia. Tiba-tiba mataku berembun, mengingat kembali pelajaran tarikh islam saat di bangku sekolah dasar, sejarah itu terukir pada koleksi Islamic Gallery ini. Je suis heureux[2], bisa membuktikan sejarah peradaban islam seperti yang tertulis di buku mba Hanum juga artikel yang pernah aku baca di internet.
Malheureusement[3], aku tidak bisa berbagi kebahagiaan ini bersama denganmu. Mungkin, esok aku akan mengunjungi tempat lain yang lebih eksotis, seperti pada cerita yang pernah kamu sebut-sebut sebagai tempat paling romantis di negeri ini.
Betapa kagetnya aku saat membaca email yang baru saja masuk di dalam kotak masuk. Sementara, saat membuka email darimu aku sudah berada di Paris.
Aku akan menceritakan hal lain yang bisa aku temukan di sini, tunggu saja petualanganku di negeri yang pernah membesarkanmu. Masih banyak tempat yang menjadi korban jajahanku selanjutnya, aku yakin mereka pun tidak sabar menunggu kedatanganku. Penjelajahan ini berlanjut di Menara Eiffel, Château de Versailles, Arc de Triomphe, juga deretan nama tempat yang akan hadir dalam surat-suratku berikutnya.
Ayolah, jangan cemberut ! Aku tidak menginginkan wajah tampanmu berubah histeris mengetahui keberadaanku di Paris. Kuharapkan kamu tidak marah, karena baru  membalasnya dan memberitahukan kejutan kecil ini. Pun aku berharap berita ini menjadi kejutan untukmu seperti emailmu yang mengejutkan.
Aku ingin membuktikan padamu banyak hal yang akan membuatku menjadikannya alasan untuk semakin mencintai paris, because Je t’aime Paris.

Salam pena dari seberang benua,
Salsabila Ananda


[1] Aha!
[2] I’m happy
[3] Sayang sekali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..