Senin, 15 Oktober 2012

What ef....



Entah apa namanya kalau dibilang tidak semua yang aku rasakan itu benar. Perasaan gw hari ini bener-bneer buat gw muntah, aneh bangeeeett.. mau Tanya sama orang juga ga jelas kayak apa kalau digambarin pake kata-kata.
Berawal dari sebuah kesalahpahaman pada seorang pemuda jawa yang baru kukenal di kantor yang sama dengan ku. Itu juga karena mami, salah seorang temanku yang menyukainya duluan. “An, gw mau kenalan ah sm dia,” ujar mami siang itu, seminggu setelah pemuda itu berkenalan dengan kita. Maklum saja, dia orang baru di kantor ini, sikapnya yang sopan santun, bertutur kata halus dan dipandang baik di mata orang-orang sekitar.
Berhubung aku hanya menganggapnya sama seperti lainnya, perasaaanku saat itu hanya biasa-biasa saja, seolah hanya ada ketertarikan dari cerita mami tuk mendekatinya.
“An, gw dapet nih nomor handphonenya!” seru mami nunjukin sepotong kertas yang disobek pinggirnya, bertuliskan deretan angka. Mami dapetikn setelah belagak mau nge-print di printer yang sama dengan keberadaan pemuda itu. Apa sih yang gak bisa didapatkan mami tuk bisa kenal dengan seorang laki-laki.
Aku hanya tersenyum, sedikit menggeleng terkesima dengan caranya berusaha. Yah, aku hanya bisa bergumam sendiri. Tiba-tiba sosok pemuda itu dating mendekati meja kami yang sedang berada di kubikel bagian admin credit.
“Nih Mas, kenalin teman-temanku,” ucap Mami, sembari menyunggingkan senyum dan berharap kami bersikap sopan terhadapnya.
“Oya, saya Anna,” balasku sopan, menyambut uluran tangan pemuda itu.
Ari, pemuda jawa sepantaran almh. Mba aulia, lulusan hokum universitas trisakti. Standarlah untuk seorang pemuda dengan usia sekian bekerja di perbankan. Aku tidak begitu tertarik awalnya, sebab aku bukanlah orang yang suka mengambil sesuatu yang sudah disukai oleh temnku sendiri.
Entah minggu keberapa kami kerap kali bertemu, dari cerita Mami, pemuda itu pernah menelpon mami sampai habis pulsanya. Wow, Mami emang hebat! Bisa buat cowok manapun terpesona dengan sikap juga kata-katanya. Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Meski kami sering bertukar pandang, aku tak lebih hanya melempar senyum tanpa sanggup membalas ucapannya yang sopan.
Satu sore, kami bertemu tidak sengaja, dia menanyakan nomor handphoneku secara langsung tanpa tedeng aling-aling (basa-basi).
“An, bisa minta nomor handphonenya?” Tanya menghentikan langkahku menuju lift.
“Oh, boleh. Tanya aja sama Mami,” ujarku cuek dan tak peduli.
Bodoh, aku tak benar-benar ingin mengucapkan itu, tapi hanya itu yang langsung terpintas begitu saja. It’s true! Aku takut akan terjadi kesalahpahaman dengan mami seperti sebelumnya dengan Mas Gugi. Aku tahu mami menyukai pemuda ini, oleh karena itu aku lebih memilih jalan aman, menyuruhnya meminta nomorku dari mami. Masuk akal bukan? Biar mami tau kalau pemuda ini yang mau tau nomorku, bukan karena aku yang ingin berhubungan dengannya.
Tiga hari lewat sudah dari kejadian di depan lift, tak ada pesan masuk atau sekedar miscalled dari pemuda itu. “ah, mungkin saja dia hanya berpura-pura meminta nomorku. Palingan juga dia hanya ingin main-main saja denganku, takut dengan mami mungkin? I don’t know exactly.” Gumamku berhenti ketika sepasang mata menyorot ke arahku sembari menggenggam ponselnya dengan tatapan bertanya.
Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk mampir di inbox.
“assalamualaikum. Hai anna. Ini Ari, masih ingat? Tapi sepertinya mami gak ingin memberikan nomormu sama aku. Apa aku salah?”
Segurat senyum terlintas di bibir tipisku, menggamit ponselku dan mulai mengetikkan beberapa kata untuk membalasnya.
“Waalaikumsalam.. Iya, masih ingat. Ya, aku ga tau kalau mami gak ingin memberikan nomorku sama kamu. Mungkin saja dia marah? Cemburu atau gak ingin kamu berhubungan denganku? Never know it.”
Kutekan tombol enter untuk mengirim pesan singkat itu.
Tak lama balasan demi balasan mampir dan terkirim di ponsel kami, hingga kami memutuskan untuk mengenal lebih dekat dari pesan singkat itu.
Jujur saja, saat itu aku masih punya pacar, yang sudah hamper 4 tahun kami bersama menjalani masalah demi masalah yang kmai lewati.

to be continued.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..