Rabu, 09 Mei 2012

SEPATU PERKALIAN


Dear Noura,

Senang sekali bisa bersenda gurau denganmu lagi, seperti dalam suratku sebelumnya, berbagi cerita apa saja padamu jadi hal paling menyenangkan setiap harinya. Pasti kamu sudah tidak sabar menunggu kisah seru apalagi yang ingin aku ceritakan padamu. Kamu tahukan kesibukanku menjadi ketua senat akhir-akhir ini menyita seluruh kesenanganku, termasuk menyediakan waktu luang yang kupunya dengan untuk mendengarkan masa kecil ayah.
Kamar pun menjadi korban, seperti kapal pecah yang tengah karam. Beruntungnya aku mendapatkan hari libur panjang ditambah lagi hari kejepit nasional. Seolah Tuhan tahu ketidakberdayaanku mengatur waktu meski sudah aku atur dengan sangat baik. Hei, tahu tidak, kamar dan sebagian rumahku sudah sangat bersih, bahkan rak sepatu yang sudah lama tidak terjamah bisa terjangkau pandanganku. Aku berhasil membuat ayah menunjukkan ekspresi tidak percaya.
Ada yang menarik, mataku terpaku pada sepasang sepatu mungil di pojok rumah dekat deretan rak sepatu. Bukan, bukan, itu bukan milikku yang sudah usang tapi sepatu itu membawaku pada cerita ayah tentang perjuangan seorang bocah berusia lima tahun beberapa puluh tahun yang lalu.
Seorang bocah lelaki sedang asik di atas bangku teras rumahnya, menuliskan deretan angka pada sebuah buku lusuh. Tampak deretan angka yang tersusun ke bawah dari angka 1 sampai 10 membentuk sebuah kolom. Tangannya terlihat lincah menghitung dengan buku-buku jari mungilnya, lalu menggoreskan hasil perhitungannya pada buku. Lucunya, mulut bocah itu komat-kamit menirukan tiap angka yang tertulis. Setelah satu kolom terisi, ia meletakkan pensil yang digenggamnya, menutup buku dan menutup kedua matanya sembari melafalkan perkalian yang baru saja dituliskan.
Ditemani sinar mentari juga hembusan angin, semangatnya menghafalkan perkalian makin menjadi, meski harus berkali-kali dituliskan juga dilafalkan. Bocah itu melupakan bermain bersama teman, makan siang di tempat yang sama dan terus menghafal. Sesekali ia mengingat hadiah sepasang sepatu yang dijanjikan oleh ayah agar semangatnya tidak luntur. Ia merasa tertantang dengan iming-iming yang begitu menggoda, juga merusak tidur nyenyaknya semalam. Ia menghabiskan malam yang terasa begitu panjang, sepasang sepatu baru selalu hadir begitu mata dipejamkan, menari-nari di benaknya. Meski ia sudah mengantuk.
Ia ingin ketika ayah pulang berdagang dari luar kota besok, perkalian 1 sampai 10 sudah lancar saat dipraktekkan di depan ayah. Ia kembali menekuni buku lusuh di depannya, kolom pertama sampai ketiga sudah terisi penuh, juga berhasil diingat dengan sempurna. Begitu seterusnya, hingga malam menjelang bocah itu masih bergelut dengan dunianya sendiri. Meski ibu sudah memanggil makan malam, ia hanya menurut ketika diajak masuk ibu, lalu tidak keluar lagi dari dalam kamar.
Esoknya, ibu menemukan sang bocah sedang mengapit buku lusuh berisi perkalian dengan mulut komat-kamit seolah ia sedang mempraktekkannya di depan ayah. Ibu mengambil buku lusuh itu dan menggantinya dengan sepasang sepatu baru. Pagi begitu semarak dengan teriakan bocah lelaki yang terkaget-kaget mendapat durian runtuh.
Teriakan itu menjadi kenangan tersendiri untukku, karena ayah mempraktekkannya persis sama seperti tingkahnya waktu itu.
“Umak.. Umak.. aku punya sepatu baru.”
Sepatu itu yang membuatnya belajar dan bekerja bersungguh-sungguh sampai saat ini, meski usianya sudah 64 tahun. Bagiku, sepatu ayah menginspirasi semangatku untuk terus berusaha. Kamu bahkan sudah mengenal sosok ayahku, bagaimana menurutmu? Apa aku mirip dengan ayahku? Apa ayah akan bangga padaku saat aku tunjukkan surat undangan wisuda ini?
Sudah dulu ya, ayah memanggilku, sekalian aku akan memberikan undangan wisuda. Kamu jangan tidur malam-malam, Noura! Ingat, sakit insomniamu belum sembuh total.

See you my besties,
Salsabila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..