Senin, 20 Februari 2012

Operet Cendol Jack

 

"Kepada para penumpang kereta jurusan Jakarta Kota dipersilakan untuk segera dapat memasuki gerbong rangakain kereta Commuter Line. Beberapa saat lagi kereta akan diberangkatkan. Teng Tong Ting Tong..."
 Suara seorang wanita dari pengeras suara di dalam stasiun memaksaku untuk segera berlari dengan kehebohan barang yang kubawa. 
Entah kali keberapa aku ketinggalan kereta dengan alasan aneh bin ajaib. Jelas saja, jadwal kereta itu tidak pernah pasti, apalagi mau sesuai jamnya. Sebab, aku pernah harus menunggu kereta di Stasiun Bogor hingga dua jam, dikarenakan alasan yang gak masuk akal tapi terbilang kasihan. Entah ada yang rusak, mogok, musti diperbaiki, aliran listrtik yang terbakar dan terputus akibat petir.

Uang kembalian di tangan sebelah kanan, tiket di kepit dua bibir, tas tangan ungu di tangan kiri dan tas cangklong abu-abu menggantung bebas di badanku. Lebih mirip topeng monyet atau ondel-ondel? Well, sedikit berlari mengejar kereta di jalur empat lumayan juga, “Hap”, lompat ke dalam gerbong. Pintu tertutup. Hufft, nyaris sudah badanku terbelah dua. Kalau badanku saja sudah tipis begini terbelah bakal kayak jembatan shirotol mustaqim deh, tapi itu rambut yak. Hehe.. :D

Gerbong pertama wanita sudah penuh terisi, sabtu pagi penuh dengan ibu-ibu yang membawa putra-putrinya jalan-jalan atau di sudut sebelah kiri sekumpulan gadis setengah dewasa asik ngerumpi, di sudut kanan segerembolan wanita lajang dengan gadget terbaru dan dunia asingnya. Penuh semua. Ogah, kalau musti berdempet-dempet ria dengan mereka.

Melewati tiap gerbong berharap ada space mungil untukku. Berjalan di atas kereta sungguh tidak disarankan, dikarenakan tidak enak. Gaya berjalanku bak dewa pemabuk, oleng dan tidak karuan. Sesekali melenceng ke kanan, ke kiri, menubruk orang di depan, samping juga terjembab ke belakang. Temat duduk hingga di rangkaian hampir paling akhir penuh semua.

Sebal juga melihat beberapa di antara mereka yang duduk seenak engkonganya seolah tempat duduk itu asset nenek moyangnya yang diberikan khusus untuk pantatnya. Gak sadar juga kalau banyak orang yang membutuhkan tempat untuk duduk, termasuk aku. Di sini aku mulai memberikan kriteria untuk teman sebelah tempat duduk di kereta yang baik, asik dan menyenangkan.

1.      Dia bukan orang alay, kriteria alay itu berparfum menyengat, barang bawaan yang heboh, badannya gak terlalu lebar dan dandannanya gak nyentrik.
2.      Simple dan sederhana.
3.      Dia harus sibuk dengan dunianya, disebabkan aku paling suka menulis , termasuk apdet status biar tetep EKSIS dalam kondisi tidak menentu. Males juga ketika lagi nulis di samping malah baca tulisan kita.
4.      Dia gak mau ikut campur dengan dunia kita. Kan gak lucu, kalau lagi baca buku, tiba-tiba kita udah balik kertas dia menyetopkan tangan kita karena dia belom selesai baca di halaman sebelumnya. Please deh!
5.      Dia tidak memamah biak, alias ngunyah sesuatu seperti permen karet atau makanan berat di dalam kereta.
6.      Dia bukan lelaki. Jujur, gw geli dan agak-agak gak bebas ketika di samping gw itu laki-laki. Padahal, gw selalu tidur di setiap perjalanan gw direncanakan atau tidak.
7.      Dia gak kenal gw. Kalau kenal bisa-bisa sepanjang jalan gw ngobrol sama tuh orang, dikarenakan gw orang yang gak enakan. Gak enak kalau nyuekin orang yang gw kenal dan acara molor gw bisa tertunda.
8.      Dia bukan anak-anak.

Pilihan gw jatuh di samping seorang mbak-mbak dengan headset di kupingnya dan disebelahnya lagi sibuk mainin galaxy tab-nya. Puas sudah diriku bereksperimen, menulis dan membaca buku juga tidur pastinya. Sebab menulis menjadi kebutuhan EKSIS ku, apalgi dengan server AXIS, semua tidak terbatasi. Mau nge-twitt sepanjang perjalanan Jakarta - Bogor tetep bisa lancar, apdet status di FB, bloging juga gak jadi soal. Murahnya AXIS kemana-mana.

Sampai di Stasiun Cikini tukang ojek sudah menantiku, tak perlu dicari dia datang sendiri menawarkan jasanya, “Ayo, Mbak! Kemana?”

“TIM, Mas! HB Jassin ya.”

“Wah, kalau itu saya gak pernah denger.”

“Yawdah, gampanglah. Request Mas jangan pake ngebut, soalnya saya mau ganti sendal jepoit ini dengan sepatu saya daklam plastik. Ok” kataku memberi perintah di atas motor yang melaju.

“Siap, Mbak!”

Bukan hal baru bagiku melakukan sesuatu hal di atas motor yang melaju, entah itu ganti sepatu, pakai kaos kaki, pasang jaket, apdet status, nge-twitt sampai nulis cerita. Sensasinya menjanjikan. Asseekk.. Untung pake AXIS!

Singkat kata singkat cerita, di depan sebuah plang bertuliskan HB Jassin, aku bertemu dengn seorang mbak-mbak, “Mbak, mau ikutan cendol Jack juga ya?” tanyaku mensejajari langkahnya.

“Iya. Eh, itu pak Mayoko Aiko!” tunjuknya pada arah dimana ada beberapa orang berkumpul yang pada akhirnya aku tahu itu klannya pak Kepsek, klan Aiko.

Bertemu dengan pak Kepsek untuk pertama kalinya, deg-degan juga. Maklum anak baru. Ruangan workshop di lantai atas, acara sudah berlangsung 30 menit, mendadak bingung mencari tempat duduk. Belum sempat pantatku menyentuh bibir kursi, ada lambaian tangan dari mba Poery dan mba Prima memanggilku dan mengajakku duduk di dekat mereka. Tak ayal, aku segera menuju ke arah mereka.

Suker (suhu keren) pertama, bang Nestir Rico Tambunan, satu kata untuk beliau. KEREN! Sederhana, simple dan menggugah. Meski 30 menit telat setidaknya membaca diktat yang diberikan memberikan materi yang terlewat, aku ingin menguji apa aku cukup mengerti dengan apa yang diberikan lewat diktat dan kuliahnya tadi dengan menjawab pertanyaannya.

Cerita nomor 7, tentang seorang pemuda yang cuek, dengan santainya dia menjawab ucapan pamannya yang khawatir dengan gurauan dan tertawa konyolnya. Padahal paman dan sepupunya khawatir dengan keadaannya yang babak belur. Di sana bang Nestor menceritakan kejadian runut aslinya, hingga terciptalah sebuah cerpen yang surprised!

Cerita pertama aku bisa menebak, tentang seorang wanita TKI, yang harus segera berangkat ke luar negeri dan berharap ada yang menahannya untuk pergi. Di cerita ini bang Nestor juga menceritakan kejadian sebenarnya, cerita awal yang penuh duka dan berakhir penuh tanya.

Cerita terakhir mengenai seorang wanita yang bertemu dengan mantan pacarnya yang sudah lama tidak bertemu. Namun, ketika mereka bertemu lagi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Mereka masih bersikap biasa saja dan bersikap layaknya orang pacaran. Dia pikir cowok itu tidak mengetahui kalau dia sudah menikah, tepi ternyata dia salah, lelaki itu sudah mengetahuinya dengan 4 kata yang membuatnya meledak. “Salam untuk suamimu, ya!”

Ending cerita yang tidak biasa, di luar pemikiran yang biasa saja itulah yang keren dan membuat pembaca terkesan hingga dalam. Meski sudah berpuluh-puluh tahun karya itu ditelurkan.


To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..