Rabu, 22 Februari 2012

Operet Cendol Jack #2

Ada yang menarik dari diktat yang kubaca, pada cerita nomor 6, mendengar Bang Nestor berbicara sejak tadi di depan menciptakan voice or writer, seolah-olah penulisnya langsung berkata pada kita. Sederhananya, cerita itu Bang Nestor banget! Selanjutnya pada cerita kedua sampai kelima dari cuplikan sebuah novel (kalau tidak salah ingat), narasinya tidak membosankan, penulis pandai sekali menceritakan kegiatan sehari-hari dengan apik dan meliuk-liuk, sehingga pembaca tidak bosan membacanya.

Pesan dari bang Nestor kalau di resume dari diktat yang kubaca :
1.                   ATM (Amati, Teliti dan Modifikasi)
Kasus ini memang menarik untuk didiskusikan, ini kali kedua saya mendapati hal yang sama diutarakan pembicara di pelatihan. Mba Asma Nadia juga mengatakan hal ini, dikarenakan para penulis pemula memang memerlukan contoh yang dapat diikuti. Namun, bukan berarti menjiplak (plagiat) tiap kata dan idenya. Mencontoh dalam artian membaca cerita keseluruhan, lalu amati tiap cerita yang sudah ada, di sana banyak ide yang bertebaran dan bisa kita rangkai menjadi ide kita dengan memodifikasi. Kalau Bang Nestor menegaskan untuk mengamati tiap media, sebab masing-masing media memiliki ciri khas tersendiri. Sebab di balik media itu ada seorang redaktur yang menentukan cerita yang akan diterbitkan.
2.                   Kreatif = Kaya Wawasan
Menjadi kreatif sama seperti kaya wawasan dalam hal ini tentu saja penulis dituntut banyak membaca. Dengan membaca kita dapat mengeksplore kekayaan yang kita miliki. Menulis kreatif itu menulis bagus. Bagus di sini relatif pada tiap pembaca, tapi sebisa mungkin penulis menciptakan cerita yang dapat mengena di hati para pembacanya. Untuk kejelasannya disampaikan oleh om Donatus dan om Putra Gara.

Pak Kepsek MAyoko Aiko memberikan sepatah kata setelah bang nestor menyudahi materinya. Akhirnya, aku dapat bertemu langsung dengan Petinggi Cendol ini, biasanya hanya bisa mentapanya dari layar laptop dan blackberry. Beliau membawa klan Aiko, shingga tidak dapat berlama-lama hadir di sana, cukuplah bagiku mengaguminya ditambah lagi kumpulan cerpen Pak Mayoko sudah kugenggam. Gaun-gaun kesunyian menjadi PR-ku untuk dibaca sampai tamat sepanjang perjalanan pulang, itu janjiku.

Acara selanjutnya, kami diberi waktu untuk istirahat makan dan sholat. Aku dan mba Poery merasa melihat sosok yang tidak asing lagi, tapi kami gak yakin. Sebab orang itu berada jauhnya dari kami, mba Endang SSN, pecinta senja dan kerabatku saat di WR dulu. Mba Prima mendengarnya penasaran, mencari sosok yang dimaksud dan menyapanya, “Maaf, apa mba namanya mba Endang?” tanyanya pelan, namun aku dapat mendengarnya dari jarak yang cukup dekat.

Mba Prima keluar bersama sosok itu, mungil dan mirip betul dengan di foto. Ternyata, memang dialah orangnya, mba Endang. Perjalanannya ke Jakarta memenuhi undangan launching buku Saatnya Aku berjilbab bersama mba Jazim Naira dan di sana pula aku bertemu mba Jazim. Subhanallah…

Pertemuan yang tidak direncanakan, pertemuan yang indah dan mampu membuat secuil semangat dalam hati, ‘aku ingin menulis dengan hati, agar pesan yang kusampaikan sampai di hati pembacanya’. Kami berpose beberapa kali di depan masjid dan di bawah pohon rindang yang dipilih mba Jazim. Untungnya, mba Prima membawa kamera saku sehingga dapat mengabadikan beberapa foto bersama mereka. Ah, sayang… aku belum dapat menguploadnya di blog ini.

Pemateri kedua bang Farick Ziat, seorang redaktur majalah Gadis, yang sudah berpuluh tahun bekerja di sana dengan dedikasi tinggi dan benar-benar ingin tetap menjaga Gadis masih dalam koridor cerpen sempurna. Saya salut dan berdecak kagum, tiap kalimat yang dilontarkannya seperti cambuk buatku agar bersemangat, tanpa mengeluh terus menulis cerita dengan sensasi luar biasa.

Ada tiga hal yang dipesankan bang Farick pada C-Jack :
1.                   Bahasa, menulislah dengan paragraf awal yang memukau, sebab paragraf awal menentukan nasib cerita keseluruhan bagi pembacanya. Jika alinea awal redaktur sudah tidak suka, maka akan dibuang begitu saja cerita itu.
2.                   Alur, buatlah alur cerita yang menggiring pembaca berfikir luas dengan banyak asumsi sehingga pembaca tidak bosan dan merasa cerita ini monoton.
3.                   Konflik, identik dengan permainan logika. Ketika cerita tidak menyambung dari awal hingga akhir, maka cerita itutidak berlogika. Sementara, setiap kisah memiliki konflik yang menyambung dari satu kalimat menjadi satu cerita utuh.
4.                   (tambahan) Pengantar – buatlah kata pengantar saat mengirimkan cerpen ke media, hargailah karyamu dengan menghargai orang lain. Agar orang lain dapat menghargai karya-karyamu. Percuma memiliki karya bagus tapi etika buruk

Mangstabh! Kalau sudah ahlinya, apapun yang keluar kayaknya bener semua deh. Aku terbilang baru, baru banget malah. Meski sudah menulis sejak di bangku SMP, tapi tidak digeluti benar-benar. Baru tahun 2011 bulan Maret, aku berani mengambil langkah menjadi penulis pemula, dengan segala kebenaran ala kadarnya, karena dulu saya tidak mengenal teori. Hanya menulis, menulis dan menulis. That’s it!


To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..