Minggu, 08 Januari 2012

Dalam Sebuah Surau Ada Mahar Untuk Mu


Dalam Sebuah Surau Selalu Penuh Kisah Religius dan Inspiratif



Judul : DI SEBUAH SURAU ADA MAHAR UNTUK MU
Penulis                     : Ady Azzumar, dkk
Penyunting               : TINTA Media
Design cover            : Anonim
Desain Layout Isi     :  laminasi matt ap230
Tebal Halaman         : + 450 halaman
cet. 1, 2011                      : 13,5 x 20cm
Penerbit                          : TINTA Media
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

DI SEBUAH SURAU ADA MAHAR UNTUK MU
(Novelet: Ady Azzumar)
“Semua kembali pada Abah, bila menurut Abah dan Ibu ini terbaik buat Nissa, Nissa setuju saja Abah” airmata pun tumpah membasahi ke dua pipi wajah Nissa.
“Hanya satu Abah yang ingin Nissa tanyakan pada calon suami Nissa. Mahar apa yang ia berikan buat Nissa?”
Semua terdiam. Ayah Nissa pun kaget dan tidak akan berpikir sejauh apa yang akan ditanyakan barusan oleh anaknya.
Suasana menjadi hening.
“Aku bersedia hijrah dari Katolik menuju Islam, dan Syahadatku ini nantinya  yang akan menjadi mahar untukmu” hatinya tegetar hebat ketika apa yang barusan diucapkan, pilihan bijak atau sebuah hidayah menghantarkan Zandy berkata sedemikan.
….

Surau Di Ujung Sepi
Karya: IRFAN FAUZI. 
Hanya kayu rapuh yang menyanggamu
puing berayap menjadi atapmu
kala hujan datang basah kuyup menggenangi suasanamu.
Namun dalam kedamaianmu lah akan tercipta kehidupan.
Saat kening tersentuh lantai dinginmu,
betapa sejuk jiwa dan hati bersamamu.
Kau peneduh dalam gersang kehidupan.

Ketika ufuk barat mewarnai langitnya dengan lembayung kuning
dan dawai waktu bersenandung
menggelincirkan hitungan detik menuju senja.
Di saat itulah engkau akan menebarkan Asma Tuhan,
lantunan adzan menggema dari arahmu.
Menjelajahi relung hati bagi jiwa manusia
untuk tunduk dalam dekapan rahmat Illahi.

Di bawah gemericik kasih sayangNya,
kau naungi segenap telapak diri yang pasrah pada Illahi.
Dalam pekat malam, saat cahaya rembulan menerangi jubah Mihgrobmu
hanya secercah redup dari kuningnya lentera yang tergantung di berandamu,
kau senantiasa menghidupkan hitamnya malam.
Terkadang simponi dengkuran burung menghias di atapmu
Melagukan dzikir keanggunan malam.
Namun sejalan bergantinya pagi menuju siang,
bersanding sore menyusul malam, berganti pula hari dan bulan.
Kini tak setapak pun langkah kaki
sempat bertandang menuju lantai naunganmu
debu pun semakin akrab menyusun lekuk kayu rapuh penutup punggungmu.
Kini kau sendiri, sepi ketika kau lantunkan adzan
sunyi saat kau menyeru Asma Tuhan.
Lelahnya hawa senja menjauhkan telapak yang akan mengetuk pintumu,
malam yang dingin pun jemu menelantarkan lenggangnya berandanmu
dari kening yang bersujud.

Dan ketika timur datang membawa cahaya kehidupan
kau lantunkan panggilan Tuhan dengan kesendirian.
Hanya embun dingin yang tunduk jatuh ke bumi,
hanya kabut pagi yang bersemi memuji kebesaran Illahi.
Sedang kau tersisih sepi dari tangan-tangan
yang menengadah menghadap Illahi


 Endorsemen :
“Kisah-kisah manis yang membuktikan bahwa cinta ada karena intervensi Illahi.”
(Nessa Kartika – Singapura, Penulis Favorit UNSA 2011)

Pengantar Penerbit
MASJID 
Kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali di dalam Al-Quran.  Dari  segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar kata sajada-sujud, yang  berarti  patuh,  taat,  serta  tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Meletakkan  dahi,  kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat,  adalah  bentuk  lahiriah yang  paling  nyata  dari makna-makna di atas. itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan  untuk  melaksanakan  shalat dinamakan masjid, yang artinya ”tempat bersujud.”[1]
Jika dikaitkan dengan bumi ini,  masjid  bukan  hanya  sekadar tempat  sujud  dan  sarana penyucian.
Di sini kata masjid juga tidak lagi hanya berarti bangunan tempat shalat,  atau  bahkan bertayamum  sebagai  cara  bersuci  pengganti wudu tetapi kata masjid  di  sini  berarti  juga  tempat  melaksanakan   segala aktivitas  manusia  yang  mencerminkan  kepatuhan kepada Allah Swt.  Dengan  demikian,  masjid  menjadi   pangkal   tempat   Muslim bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh.Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah, dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.Membaca kumpulan cerita pendek dan puisi yang termaktub dalam buku “DI Sebuah Surau, Ada Mahar Untuk Mu”, membuktikan bahwa generasi penulis  saat ini masih banyak yang perduli akan bacaan terhadap nilai-nilai moral agama. Bertema masjid, surau, langgar atau musholah, teringat dengan sebuah judul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia. Begitupun dengan kumpulan puisi di dalam buku ini, teringat kembali akan puisinya Karya Taufik Ismail yang berjudul Mencari Sebuah Mesjid:
Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana 
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia  dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana
Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?
Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata :
“Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”
dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran
 Jeddah 1990.

        Indah bukan? Begitupun dengan puisi-puisi yang tergabung dalam buku ini. Seni puisi atau sajak, di satu pihak harus mampu mengajak seseorang beriman,mengagungkan Tuhan,dan di lain pihak ia harus mampu mengasimilasi sifat-sifat Tuhan seperti Asmaul-Husna (99 sifat Allah) dalam diri manusia seperti ccinta kasih, penyayang, dan lain sebagainya, yang mampu membawa kedamaian bagi umat manusia. Penyair berkarya menciptakan puisi untuk menyesuaikan diri secara lebih baik dengan tata ciptaan-Nya. Dapat dinyatakan bahwa konsepsi estetik manusia-penyair berpangkal tolak dri tiga dimensi: religiusitas, personal-individual, dan mengungkap persoalan sosial.
        Akhir kata, kami hadirkan buku ini, semoga dapat menjadi makna berharga, menjadi salah satu manifestasi dari indahnya berkarya. Selamat menikmati dan menemukan maknanya.
TINTA Media.
2011

[1] Oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.


Silakan dipesan bukunya.
Naskahku berjudul : Di Pintu-Mu Aku Mengetuk
Nama Pena : Sabil Ananda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..