Kamis, 17 November 2011

Soal penerbit indi atau POD itu

Posted on 22 October 2011 by Administrator
Pagi ini sebuah status FB yang saya baca berisi tentang curhatan sipemilik tentang betapa kesalnya dia dengan lakon seorang pengelola penerbitan indi yang sampai dua bulan lebih tidak mengirimkan buku yang sudah di pesannya; dan tentu saja dia sudah membayar sejumlah uang ke rekening yang bersangkutan. Di FB lain saya baca bagaimana dia sudah mentransfer uang ratusan ribu rupiah untuk biaya layout dan desai kaver, namun sampai sekarang bukunya tidak terbit juga. Di FB lainnya lagi saya lihat sebuah status yang curhat kalau layout halaman bukunya berantakan, masak di halaman satu fontnya X dan di halaman lain ada dua fontnya Z, padahal ia sudah membayar setengah juta untuk biaya itu semuanya.
Aih, apakah yang terjadi di dunia penulisan cum penerbitan saat ini?
Semua bermuara dari kemajuan teknologi pencetakan. Sebuah buku saat ini tidak lagi harus melalui cara, prosedur, dan kuantitas konvensional. Dulu, dengan hitung-hitungan bisnis, sebuah buku harus dicetak minimal 2000 atau 3000 oleh sebuah penerbit mayor. Jumlah itu akan didistribusikan ke toko buku dan jumlah itu juga memuat berapa hitung-hitungan angka yang harus dibagi ke berbagai pihak, seperti biata operasional, penulis, distributor, toko buku, sampai bayar rekening listrik kantor.
Namun, saat ini, dengan kemajuan mesin cetak sesuai permintaan atau istilahnya Print On Demand (POD), menyebabkan jumlah buku yang dicetak bukan menjadi persoalan. Mudahnya menggunakan tenaga lepas seperti desainer dan layouter serta gratisnya pengurusan ISBN menyebabkan semua urusan yang berbelit dan memakan waktu lama seperti dalam penerbitan mayor menjadi seperti menjentikkan jempol-telunjuk: klik, buku pun bisa terbit saat itu juga.
Sistem POD juga menyebabkan kemudahan penulis untuk menerbitkan karyanya. Bahkan jika yang ditulisnya tidak bermutu pun bukan jadi persoalan, asal punya duit kita bisa bikin buku sendiri. Ini berbeda dengan ‘tradisi’ penulis yang menawarkan naskah di penerbitkan mayor. Bahwa semua naskah harus mengalami seleksi yang super ketat, tidak hanya dari sisi konten semata melainkan juga dari aspek bisnis. Biarpun kontennya jelek, asal itungan bisnis bagus, maka naskah itu akan dijadikan buku dan dijual oleh penerbit mayor. Ini berbeda dengan POD, jika mengambil simpulan seramnya; biar kontennye buruk dan nilai bisnisnya buruk, buku tetap bisa terbit.
Kondisi ini menjadi semacam angin surga bagi para (calon) penulis atau mereka yang sudah putus asa karena naskahnya sering ditolak penerbit-penerbit mayor. Nah, dengan POD ia bisa tiba-tiba menjadi penulis; menjadi seseorang yang memiliki buku dan dengan bangganya memasang kaver di FB hanya untuk menegaskan bahwa bukunya sudah terbit dan mendapat endors dari pengunjung FB bahwa mereka pun turut senang dengan pencapaian tersebut. Sampai pada akhirnya yang komen di FB pun mengikuti jejak si (calon) penulis tersebut; mulai membongkar file lama di komputer, disusun menjadi sebuah naskah, dan diproses menjadi buku dengan sistem POD atau jika memiliki modal banyak dicetak dengan jumlah ratusan bahkan ribuan. Intinya dia menulis, dia mengeluarkan duit, dan dia yang berpromosi. All in one.
Peluang inilah yang dilihat oleh si insting bisnis. Banyaknya (calon) penulis yang benar-benar ingin bukunya diterbitkan dan melihat namanya terpampang di kaver buku menjadi semacam peluang bisnis yang luar biasa. Mulailah berdiri satu-dua “penerbitan” yang bisa menyediakan cara mudah bagi (calon) penulis untuk menerbitkan bukunya secara POD atau istilahnya indi, penerbit minor. Mereka menyediakan jasa layout, desain, edit, dan promosi. Sebaliknya penulis hanya menyediakan naskah saja.. ups, dengan duit secukupnya.
Tapi, apa daya…. para penerbit minor dadakan ini lupa bahwa proses sebuah buku itu tidak hanya asal POD saja di mesin cetak, atau malah mesin fotokopian. Sebuah buku harus mengalami proses sunting yang baik, tataletak yang enak di pandang, kaver yang sesuai, dan tentu saja sebuah naskah yang memuat konten baik, baik di sisi isi dan baik di sisi penjualan.
Persoalan kedua, bagi penerbit minor yang punya mesin POD atau sudah bekerjasama dengan percetakan yang memiliki mesin POD, soal menyetak berapapun eks buku bukan menjadi persoalan. Nah, bagi mereka yang tidak punya rekanan mau tidak mau harus bekerjasama dengan percetakan biasa yang punya batas minimal pemesanan buku. Hal ini terkait dengan jumlah tinta, lama bekerja mesin, kertas yang dibeli, dan sdm yang dipakai. Maka akhirnya si penerbit minor inipun mengambil langkah ajaib: meminta penulis mengeluarkan biaya sendiri untuk mencetak bukunya. Modusnya bisa macam-macam, salah satunya dengan membuat lomba untuk menjaring puluhan dan bahkan ratusan orang (calon) penulis. Jika ada 100 orang yang ikut dan masing-masing “menyumbang” Rp50.000 maka tertutupilah biaya produksi satu buah buku. Itupun kalo urusannya bener, kalo nggak.. ya lagi-lagi si penerbit minor ini angkat tangan dan buku pun tak kunjung nongol.
Lalu, apakah salah dengan angin surga POD itu?
Seseorang teman di FB sempat menulis bahwa ia tidak ada masalah berada di “kasta terendah” karena menerbitkan buku secara POD atau indi. Terlepas dari ada tidanya kasta dalam cara menerbitkan, yang pasti sistem POD atau indi tetap punya nilai positifnya.
POD ataupun indi memberikan jalan alternatif bagi siapa saja untuk menerbitkan buku. Ingat, jumlah penerbit yang terbatas sementara mungkin ada jutaan dan puluhan juta orang yang ingin menulis, menerbitkan buku, dan membagikan hasil pikirannya itu tidak mungkin bisa menampung naskah-naskah dari mereka. Bagi mereka yang sudah pengalaman menerbitkan buku pasti menyarankan untuk pilih penerbit mayor, tapi bagi mereka yang nggak tahu apa-apa pilihan POD dan indi menjadi lebih tepat. Karena persoalan tema atau konten berbeda menurut “siapa”. Bagi penerbit ada unsur bisnis dalam sebuah konten sementara bagi penulis ada unsur “ini penting dan layak dibaca”.Bagi penerbit males rasanya menerbitkan buku “Memelihara Jangkrik” karena siapa yang mau beli dan jangan berharap akan ada cap best seller jika buku ini terbit. Namun, bagi penulis buku ini ada pangsa pasarnya, yakni mereka yang hobi dengan ikan, jangkrik bisa jadi makanan ikan. Nah, karena unsur yang tidak nyambung ini, tak berlebihan kalau penulis memilih jalur POD atau indi. Begitu juga dengan nilai pasar naskah-naskah puisi yang ditulis oleh orang yang tidak dikenal tapi mau berkarya.
Persoalan mengeluarkan uang? Ini adalah salah satu risiko. Sebuah penerbitkan indi atau POD selalu ada uang yang dikeluarkan. Minimal uang untuk mendesai kaver, atau melayout isi, atau untuk mencetak buku. Kalau pun ada penerbitan indi yang tidak menarik uang tetap saja ia akan menagih harga buku jika penulisnya beli ke mereka, tidak seperti penerbit mayor yang memberikan 5 atau 10 buku sebagai contoh cetak-terbit. Artinya ada kesepakatan dalam melakukan ‘bisnis’ buku. Penulis menyediakan naskah dan uang, penerbit indi menyediakan jasa buku sampai terbit atau istilah kerennya pubslihing services. Rasanya tidak penerbitan indi, POD, dan atau publishing services benar-benar gratis dalam memberikan layanannya. Jika menilik teori komodifikasi Vincent Moscow atau Adorno, jika greatispun sebenarnya penulis sedang dikomodifikasi oleh sang penerbit sedang dibuat seolah-olah penulis tidak keluar sepeserpun padahal penerbit menarik keuntungan non-materi dari sipenulis, ya sekecil-kecilnya keuntungan adalah brandcommunication dari si penulis yang memberitakan bahwa “layanan penerbit ini oke” dan ‘beli dong buku saya di sini”.
Kondisi ini yang menyebabkan beberapa penerbitkan mayor besar menyediakan layanan ini. Meski pada awalnya beberapa penerbit tersebut menyediakan jasa POD hanya untuk melihat kualitas dummy dari sebuah buku, tapi apa yang dilakukan oleh Gramedia di Jakarta atau Kanisius di Yogyakarta merupakan dua contoh perusahaan penerbitan besar yang melayani sistem POD atau cetak sesuai jumlah pesanan, yang biasnaya terbatas. Konon kabarnya Penerbit Mizan mulai terjun ke usaha POD  atau publsihing services ini. Atau saat ini saya lihat beberapa tempat fotokopi di Jakarta, Depok, Bandung, Surabaya, Malang, atau Yogyakarta juga menyediakan jasa pubslihing services yang bisa mewujudkan impian (calon) penulis menerbitkan buku.
Jika ditilik kembali dari latar historis, kebiasaan POD ini memang dilakukan oleh penerbit mayor terlebih dahulu. Juga, bagi lembaga/institusi periklanan yang biasanya mengerjakan laporan tahunan perusahaan atau buku profil perusahaan. Dan toh, kalau mau jujur, banyak juga penerbit besar yang merelakan logo penerbitnya dipakai demi menyetak buku pesanan dari calon gubernur atau kepala daerah menjelang pilkada. Sama saja kan. Lagi-lagi ini adalah publsihing services dan semua sah-sah saja asal kedua belah pihak sama-sama puas.
Biarkan menjadi angin surga
Di tengah munculnya kasus ‘penipuan’ atau ‘layanan sembarangan’ atau ‘penulis harus keluar uang’ yang kelihatannya mulai muncul, ada baiknya untuk tidak menjatuhkan penilaian bahwa penerbit mayor lebih baik dari penerbit minor yang menggunakan sistem POD atau INDI. Banyak contoh bagaimana sebuah buku yang diterbitkan secara POD sangat sukses, sebagai misal buku cara membetulkan konsol gim meski dijual dengan bentuk buku elektronik telah menghasilkan puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah, atau bagaimana buku Harry Potter edisi pertama juga hanya dicetak 500 buah, karena belasan tolakan dari penerbit mayor, dan disebarkan di perpustakaan sekolah, atau bagaimana salah seorang anggota FLP setelah keluar dari posisi di penerbitan mayor membuat penerbitan sendiri, mengelola sendiri, menyetak dengan duit sendiri, mendistribusikan sendiri, dan akhirnya bisa mengeruk keuntungan… sendiri. Di lain lokasi ada novelis yang mengeluarkan uang sampai puluhan juta rupiah dan memakai jasa publishing services dengan penerbit indi dia juga puas kok dengan hasilnya; meski uang itu tidak kembali semuanya, tetapi dengan penjualan buku dan apa yang didapat dari sekadar uang (teman baru, relasi baru, karya terbit) sudah cukup untuk membayar jumlah nominal yang digelontorkan.
Yang harus dipastikan adalah sebuah konten yang kita tulis untuk diterbitkan dalm bentuk POD atau indi haruslah konten yang baik. Untuk membahas konten yang baik ini adadi ruang dan waktu khusus ya.. dengan konten yang baik akhirnya buku yang dicetak terbatas pun akan tetap menjadi bahan bacaan yang bagus dibaca dan berarti untuk orang lain. Meski yang membelinya hanya 5 orang, toh 5 orang itu sudah bisa mengambil manfaatnya. Tapi kalau ditulis, diterbitkan, dan hanya dibaca oelh si penulisnya sendiri itu sih namanya….
Tetapi jangan pula lengah dengan jasa publishing services yang marak menawarkan diri dengan label “penerbit” ini. Perhatikan 1) bagaimana kualitas pengelolaan mereka dengan melihat rekam jejak si pengelola dengan seksama. Diharapkan dengan si pengelola punya pengalaman dalam dunia penerbitan atau percetakan akan mampu memberikan layanan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. 2) Untuk itu perlulah banyak-banyak bertanya kepada siapa saja yang sudah pernah memakai jasa publishing services tersebut. Jangan karena semangat tinggi karena mau nerbitin naskah dan akan punya buku perdana membuat mata kita buta untuk langsung order ke penyedia jasa tersebut. 3) Kalaupun kita mengeluarkan uang, perhatikan apakah uang itu layak atau tidak dan atau akan digunakan sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Pastikan dengan sangat teliti berapa jumlah uang untuk keperluan X, berapa yang untuk keperluan Y, dan berapa yang untuk keperluan Z. Syukur-syukur kalau ada perjanjian hitam di atas putih. Tapi, kalau uang sudah keluar, kita tidak teliti, dan hasilnya membuat kecewa ya jangan marah-marah belakangan… toh, siapa suruh setuju langsung bayar. 4) Di sinilah perlunya membaca, memahami, atau bertanya soal apa yang dibayar dan apa yang didapat. Tak ada salahnya kita teliti dahulu seseksama mungkin sebelum kecewa di kemudian hari.
Toh, intinya kalau kita ikutan penerbit mayor atau minor, indi atau ternama, POD atau batas psikologis, itu sama saja tak ada bedanya. Jangan dikira penerbit mayor tak pernah bikin jurus tipu-tipu. Jangan menyangka naskah kita tidak akan diobrak-abrik penerbit ternama. Jangan dikiran buku kita akan ditangani secara tepat meski sudah dicetak dengan batas psikologis.
Juga, jangan mengira memasuki bisnis penerbitan indi itu mudah. Jangan dikira POD itu memudahkan segalanya. Jangan dikira mendistribusikan buku itu mudah. Jangan dikira semua bisa dilakukan, misalnya menerbitkan buku, hanya karena kita punya …. uang!
So, jika ingin angin surga, maka telitilah dengan seksama. Sebab, penerbit mayor atau minor sama-sama bisa meniupkan angin surga dan juga suatu saat bisa memberika hawa neraka.
Saya, secara pribadi, sangat percaya dan yakin kutipan seorang penulis ternama yang akhirnya memulai bisnis secara penerbitan minor (meski sekarang lebih tepatnya bermetamorfosis menjadi penerbitan mayor) bahwa “yang penting mau memulainya…”. Toh, banyak jalan ke Roma, dan tidak semuanya harus memiliki pengalaman pertama di penerbitan mayor, bukan?


http://media.kompasiana.com/buku/2011/10/23/angin-neraka-penerbit-indi-sistem-pod-atau-angin-surga-penerbit-mayor/

3 komentar:

  1. uwah... panjang banget pidatonya mbak..
    hehe..

    gonjang-ganjing soal penerbit Indie emang nggak ada habisnya yah..

    kadang aku merasa 'kasta rendah' juga udah nerbitin di Indie. ah yang penting kan terbit.

    BalasHapus
  2. @risah : iya cha, kadang agak bimbang juga...
    yg enting kita harus semangat tuk memperbaiki tulisan dan cerita

    BalasHapus
  3. tulisannya copy paste ini ya: http://media.kompasiana.com/buku/2011/10/23/angin-neraka-penerbit-indi-sistem-pod-atau-angin-surga-penerbit-mayor/

    BalasHapus

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..