Sabtu, 28 Mei 2011

Lomba Dunia Maya - TUNGGU AKU DI UJUNG PELANGI

oleh Sabil Ananda pada 28 Mei 2011 jam 9:36

TUNGGU AKU DI UJUNG PELANGI


Teruntuk Sahabat Maya,
Sahabat,
Sungguh aku tak mengerti apa makna di balik kata itu,
Berat rasanya memaknainya sebab tak mudah menjalaninya.
Buat sebagian orang mungkin mudah mengatakan “Kau sahabatku”,
Tapi apa mereka telah mengerti arti kata “sahabat”?


Diamku nanar,
Menatap ribuan nama dalam list pertemananku di sebuah jejaring,
Abjad nama kueja satu persatu, dimulai dari huruf A dan di akhiri huruf Z,
Memang kuakui dari sekian banyak nama, ada temanku sejak SD hingga bangku kuliah,
Hingga kubertemu dengan kalian.


Yah, kalian yang kutemui dalam payung beratasnamakan “penulis”.
Semakin hari daftar itu bertambah, entah kenal atau tidak aku menerima teman-teman baru yang tak kukenal.
Semakin lama, aku coba mengenal kalian satu persatu lewat status yang kalian buat,
Semangat, motivasi, keadaan yang kalian alami dan cuaca hari itu tergambar jelas dalam imaji.


Sahabat, meski aku tak tahu betul apa aku sudah menjadi sahabat kalian
Aku ingin kalian tahu, meski tak mengenal kalian secara nyata
Aku tahu betul kalian selalu menjadi sahabatku, meski dari status yang kubuat.
Kalian setia membaca status yang tertulis walau baca sekali lewat.
Ada yang menanyakan keadaaanku dari message, menuliskan di wall dan mengirimkan sms dari handphone.


Sahabat, semoga persahabatan kita tetap utuh dalam dunia maya.
Meski aku tak sanggup menjadi sebuah pensil untuk menuliskan kebahagiaan yang tercipta,
Aku akan berusaha menjadi penghapus yang dapat membantu menghapus kesedihan kalian lewat tulisan yang kurangkai,
Karena senyum, semangat dan perhatian kalian yang kubutuhkan,
Entah apa namanya, namun aku selalu merindukan kalian.


Jujur, pertama kali yang kulakukan saat memegang handphone membuka facebook dan membaca status terbaru dari kalian semua.


Teruslah mewarnai hariku dengan status yang kalian buat,
Denganmu aku tersenyum dan menitikkan air mata,
Tanpamu aku tak berguna, sebab kalian sahabat yang dipertemukan Tuhan tanpa sengaja,
Percaya atau tidak itu sudah tertuliskan dalam kitab Lauhful Mahfudz.


Bogor, 28 Mei 2011
Sabil Ananda


Itu surat yang kutuliskan untuk semua sahabatku di dunia maya, tak mungkin bisa kutemui sahabat sejati di dunia nyata karena sedikit manusia yang memiliki keikhlasan untuk menerima kita apa adanya. Entah melihat dari fisik, kekayaan yang kita miliki, kepintaran, apalah namanya berbau unsure manfaat yang bisa didapatkan. Walau sesungguhnya sebagian lagi memiliki sahabat di dunia nyata yang benar-benar sejati menyayangi sahabatnya bak dirinya sendiri.

Dari sekian banyak teman yang kumiliki di facebook, 50%-nya sahabat dunia mayaku di bawah naungan “penulis”, teman yang memiliki hobi sama dengan pandangan yang berbeda. Kami tak pernah ribut, bertengkar karena hal-hal kecil layaknya persahabatan yang pernah ada. Kami tak ribut masalah lelaki idaman yang sama, baju yang tak sesuai selera, cara pakaian, cara duduk, cara bicara dan cara pandang yang berbeda.

Kami bahkan saling mensupport satu sama lain, diskusi aktif di facebook dalam grup-grup menulis yang terus berkembang, semakin hari semakin banyak anggotanya, makin berbobot isi dokumen dan tulisan yang terpampang di dalamnya serta banyak hal positif lain yang tak kudapatkan di dunia nyata. Hampir dua minggu aku terbaring di kasur karena sakit yang menyerang, tak berhenti perhatian yang mengalir dari mereka.

Mereka mengirimiku ucapan penyemangat dan doa-doa agar aku cepat sembuh lewat sms, kartu elektronik di facebook, message, email, bahkan ada yang menelfonku dari jauh. Sekedar menanyakan kabarku, meski itu-itu saja yang mereka tahu, aku sakit. Grup kepenulisan makin ramai dengan lomba-lomba cerpen, puisi, novelette, ilmu baru tentang kepenulisan apapun bentuknya.

Hal pertama yang kulakukan saat memegang handphone yakni membuka aplikasi facebook untuk sekedar membaca status mereka, tulisan-tulisan di grup dan member kabar pada mereka semua lewat statusku. Mereka bahkan tak pernah mencemooh tulisanku walau hanya sekedar cuhatan belaka, mereka juga tak segan mampir dengan meninggalkan jejak jempol pada status dan tulisan-tulisan yang kubuat.

Aku pernah ditegur saat pertama kali aku memulai usaha menulis cerpen kolaborasi dengan seorang teman dari negeri seberang, dikarenakan hal yang aku tak mengerti. Plagiat. Yah, aku sempat ditegur akibat hal plagiat, untunglah semua hanya salah paham. Dari situ aku belajar lagi artinya menjadi seorang penulis, bukan penulis asal penulis, tapi penulis yang berkarakter dan berarti.

Sahabatku dari Riau menelfonku untuk menanyakan kesalahpahaman yang harus segera diluruskan, jika tidak maka aku akan jatuh ke jurang kebodohan yang membuatku tercoreng. Begitulah sahabatku. Sahabat tak sekedar gelar yang disandang sesorang, namun lebih pada arti hakiki. Bisa menjadi teman yang menggenggam erat jemariku, menjadi air mataku yang mengerti kesedihanku, menjadi kaki untuk menopangku saat aku terjatuh dan menjadi ranjau sebagai pengingatku.

Kini, aku sudah sehat, ingin kulanjutkan menorehkan tinta untuk semua penikmatnya. Tak ingin berhenti, tak ingin larut dalam kepuasan sesaat. Aku ingin berlari bersama kalian menggapai impian yang kunanti di ujung pelangi. Sahabat terdekatku ada di jabodetabek dan yang terjauh ada di Paris. Aku menyayangi kalian, semoga ikatan persahabatan ini takkan luntur meski waktu terus berlalu. Tunggu aku di ujung pelangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..