Senin, 04 April 2011

TIUPAN KREATIVITAS DARI SEBUAH KARYA

Oleh Penerbit Azam Jaya Press pada 29 Maret 2011 jam 21:07

“Berkarya” merupakan sebuah wujud penggambaran aplikasi dari pencurahan diri. Yang mana manusia mengeksplorasikan semua daya potensi, kehendak, dan naluri yang fokus pada satu tahap karya. Berkarya juga mirip dengan berinovasi. Karena berkarya adalah suatu istilah menunjukan arti memproduksi sesuatu, dengan syarat sesuatu itu hendaknya bersifat baru, dan orisinil dalam penyusunannya. Meskipun “komponen-komponen” yang digunakan sebenarnya telah ada sebelumnya. Seperti, menciptakan suatu pekerjaan sastra, keilmuan, atau seni.
Kalau ditelisik lebih dalam, berkarya merupakan sinonim atau persamaan dari kecerdasan, dan bagian dari kecerdasan yang tajam,  setiap orang yang mempunyai kecerdasan yang di atas rata-rata itu dinamakan jenius. Nah, ketika manusia mempunyai dorongan nafsu untuk berkarya, maka secara spontan dorongan untuk menjadi cerdas itu ada. Sehingga berkarya bisa dikatakan sebagai rangsangan kreativitas atau suatu perwujudan seni dan sastra. Namun, kreativitas itu lebih memusatkan kepada bentuk ilmiah berarti; aplikasi dari setiap sikap yang baru dalam menghadapai problematika. Ia juga mencakup sisi-sisi sastra, keilmuan, seni, inovasi, dan humanisme. Sehingga, hubungan berkarya dan berkreativitas itu sangat erat, bahkan sampai kepada tingkat saling ketergantungan. Berkarya ini dapat juga dinamakan berinspirasi, atau sebagaimana yang dikatakan seorang penemu jenius, Adesson, bahwa kejeniusan itu satu bagiannya bergantung kepada inspirasi.

Berkarya merupakan suatu aktivitas kemanusian yang berlandaskan atas keinginan, kesungguhan, juga didasarkan kepada sebagian inspirasi dan produktivitas. Ruang lingkup untuk berkarya ini terkadang terbatas pada bentuk sastra, produk seni, dan orisinalitas ketinggian tingkat pemikiran. Ini dikarenakan kreativitas makna itu tidak menjadi besar/utama dengan sendirinya. Tetapi berkarya nyata itu terwujud dalam bentuk pemikiran dan pengaktualisasiannya dalam bentuk eksis.

Ada satu perbedaan antara orang berkarya dengan orang yang tidak berkarya. Orang berkarya dia berumur panjang, sedangkan orang yang tidak berkarya dia hanya berumur sesuai takarannya. Maksudnya ialah, orang yang berkarya walaupun dia mati, tapi matinya hanya secara fisik. Hilang tak nampak wujud. Tapi karya dan pemikirannya masih berterbangan di atas pikiran-pikiran orang lain. Sedangkan orang yang tidak berkarya, hanya meninggalkan kata dan nama. Dengan demikian, eksistensi dia sebagai manusia benar-benar “ada”, hidup memberi manfaat ketika sudah meninggalpun masih memberi manfaat. Menukil hadits Rasul, “Ada tiga bentuk amal yang tidak terputus, (1) Shodaqoh Jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat, dan (3) Anak soleh yang selalu mendoakan orang tuanya.
Pada tahap proses berkarya merupakan aktivitas untuk merangsang kreativitas. Gerak motorik kreativitas yang bertumpu di akal akan terus menjalar, mengasah daya imajinasinya yang lebih tinggi. Penguapan itu menjadi sebuah sikap yang positif, bagi setiap refleksi kecerdasaan kita. Kekuatan-kekuatan diri akan terlahir, karena adanya dorongan nilai-nilai yang ditransfer pada setiap inti sifat kreatif. Akal yaitu kata yang menunjukan kepada pusat syaraf otak, atau pusat pemikiran manusia. Akal merupakan tempat lahirnya kreativitas, dan tempat bergerak dan berpikir bagi manusia. Karena itu, sebagaian pemikir berpendapat bahwa hubungan antara perkembangan akan dan kekuatan-kekuatan individu lainnya itu saling memengaruhi. Adapun perkembangan berfungsi untuk mempermudah perkembangan syaraf. Perkembangan syaraf itu membantu strata (tingkat) tinggi untuk belajar. Ada pula riset ilmiah yang menunjukan bahwa perkembangan syaraf tidaklah sempurna sebelum mencapai fase kedewasaan. Pemikiran yang kreatif merupakan perwujudan dari kemampuan akal yang dihasilkan melalui empat fase:
  1. Fase Persiapan; Yakni menyiapkan suatu kehidupan yang kreatif untuk dapat menghasilkan suatu kreasi.
  2. Fase Pengasuhan; Yaitu fase pertengahan antara kesiapan dan inspirasi untuk berpikir.
  3. Fase Inspirasi; Fase ini dimplementasikan dengan munculnya solusi yang kreatif dengan cara spontan.
  4. Fase Realisasi; Dalam fase ini diupayakan adanya penjelsan mengenai kebenaran apa yang direalisasikan dari kreasi atau inovasinya dengan cara meletakannya untuk diuji cobakan demi memperoleh keterangan mengenai kebenarannya.
Melihat fase-fase yang ada, bahwasanya tIngkatan kreativitas bisa dibentuk dengan adanya perkembangan tuntutan diri kita. Dimana kita mampu mengoptimalkan semua bakat, kemampuan dan potensi, khususnya dalam berkarya. Ketika karya disebut sebagai karya tulis, maka bentuk kreatif seperti ini bisa dikatakan masuk dalam semua kategori, kenapa? Karena menulis adalah sebuah bentuk proses yang diawali oleh input kemauan, atau keinginan untuk menjadi penulis. Rangsangan berkarya dalam bentuk tulisan biasanya ada karena tuntutan intelektual untuk menyebarkan apa yang ia dapatkan. Kalau dilihat dari susunan karakter manusia, manusia mempunyai kegelisahan, penderitaan, keinginan dan harapan. Nah, ketika manusia tidak bisa keluar dari karakter-karakter tersebut, maka manusia hanya akan terpenjara pada kotak keterasingan diri. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk berpikir, menguap menjadi inisiasi, melahirkan sebuah gagasan dan membentuk definisi baru dari setiap solusi. Dengan adanya gagasan, di situlah manusia dituntut untuk berproses pada tahap kreativitas yang sesungguhnya. Menulis adalah bagian dari karya, karya yang diciptakan manusia dengan bentuk nyata, sesuai sarat utama karya harus bersifat nyata dan tidak abstrak. Maka menulis menampuk semua jenis rukunya.

Dalam pada itu, kreatif harus ada produksi kreatif, kerja kreatif, dan pemikiran yang kreatif. Dengan menganut paham kreativitas dari segala segi, maka apa yang kita jadikan karya akan lebih mempunyai bobot timbang tinggi. Pengemasan karya menjadi energik dan menarik. Melalui tingkatan kreativitas, ada sebuah proses jalan yaitu, ada tahapan kreativitas ekspresionis, maksudnya ialah kreativitas yang mempunyai bentuk ungkapan bebas dan mandiri yang di dalamnya tidak memiliki urgensi/kepentingan bagi kemahiram dan keaslian. Tahap selanjutnya ialah kreativitas produktif yaitu hasil-hasil produksi seni dan keilmuan yang diperoleh melalui usaha mendisiplinkan kecenderungan untuk bermain bebas, dan dengan menetukan langkah-langkah untuk mencapai hasil yang sempurna. Dalam kreativitas inovatif adalah kreativitas ini banyak diungkapkan oleh para penemu yang memperlihatkan kejeniusan mereka dengan menggunakan pengembangan ketrampilan-ketrampilan individu. Selanjutnya kreativitas pembaruan ini berarti pengembangan dan perbaikan yang mencakup penggunaan ketrampilan-ketrampilan individu, lantas yang terakir ialah kreativitas emanasi ialah menunjukan prinsip baru atau aksioma-aksioma baru yang muncul dari pendapat yang baru.
Dengan demikian, karya yang terlontar dari hasil kreatif, maka menjadi sebuah bentuk kejeniusan berpikir. Pendayagunaan keseluruhan akan menjadi fungsi yang cocok, bagi menjalarnya alur akal dan hati yang berjalan. Menulis bukan hanya memakai kreasi pikiran, melainkan kreasi hati, agar tulisan yang tercurah bukan hanya bentuk kekakuan pikiran, melainkan ada kelenturan yang diadopsi oleh hati yang halus. Jadi berkarya, karya yang penuh jiwa memang dapat mendorong semua bentuk gerak rangsang kreativitas. Pikiran hidup, akal berkelakar, dan hati berkoar. Selain itu, karya juga kalau diobok-obok secara dalam bukan hanya dideskripsikan oleh kemampuan akal dan pengetahuan secara parsial saja. Akan tetapi, harus ada keselarasan sosial yang memelihara karakteristik-karakteristik karya dan pengembangannya disela-sela proses pertumbuhan sosial yang membantu orsinalitas kemampuan berkarya yang berbeda-beda. Hal ini berarti ada hubungan yang kuat antara berkarya dan berkreativitas.

NB: Maaf mengotori tembok anda lagi..
maklum lagi iseng.. mumpung gak ada kerjaan.. hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..