Minggu, 17 April 2011

SENANDUNG CINTA UNTUK BUNDA

Oleh Sabil Ananda pada 17 April 2011 jam 9:20
Teruntuk pelecut nadiku,

Ibuku adalah sebening embun pagi yang menyejukkan kehampaan dahagaku, secercah sinar mentari yang menyinar relung kosong jiwaku, seindah melati yang merekah menyebarkan wangi kebaikan untuk setiap yang menghirupnya.
Bunda, terimalah sepucuk surat cinta untukmu, wahai sang pendidik terbaik, dari mutiara cinta yang selalu ingin menjadi mata air surga untukmu kelak. Bunda, saat menuliskan ini hatiku pilu mengingat masa kecilku, kenangan yang tertulis mesra di benakku, jujur mengungkapkan ini begitu sulit untukku. Namun, atas nama cinta curahan ini harus tersampaikan dengan sejuta kerinduan yang mendalam untukmu, Bunda.


Bu, melukiskanmu bagai menulis di atas air, percikannya akan menyebar dan terus mengalir hingga seluruh samudra mendengarnya. Menuliskanmu bagai menulis di atas air, di permukaan hilang namun merambah ke dalam. Begitulah aku sekarang Bunda. Pesan-pesanmu terpatri jelas dalam sukmaku, menghunjam ke dalam jiwaku dan mendarah daging menjadi kepribadianku.

Lihat Bu, wajah kita nyaris mirip, hanya perbedaan usia saja. Jika tidak, semua orang akan mengatakan hal yang sama “kembar” seperti pinang dibelah dua. Tak hanya itu, kepribadianmu yang keras menjadi cerminan diriku, itu salah satu bukti darahmu mengalir deras dalam pembuluh darahku. Namun, entah mengapa kita tak saling bicara, tak saling menyapa dan jarang kulihat pancaran matamu mengarah padaku.

Aku merindukan sosokmu Bunda, layaknya anak kecil yang terbaring manja dipangkuanmu dan dekapan hangat seorang Ibu. Tiap malam sekujur tubuhku membeku hebat semakin dingin, aku membutuhkan penyemangat dan kecupan sayang darimu Bu. Aku tahu Bu, aku tak boleh egois, masih ada tujuh saudara lain yang juga membutuhkan segenap perhatian dan pendorong semangat hidup mereka.

Cukuplah aku yang mencoba mengerti, mencoba menyayangimu dengan caraku sendiri karena aku selalu berbeda dari yang lain. Prinsip hidupku takkan berubah meski tak sedikit yang mempertanyakan keegoisan sikapku yang idealis.
Bunda, kutitipkan salam rindu penuh cinta untukmu lewat angin yang semilir, luas langit yang terbentang, bintang yang berpijar juga pada ayah melalui sms. Maaf jika aku belum berani menelponmu, bukan karena aku tak ingin tapi aku takut untuk mundur dan goyah. Aku belum mempunyai bekal apapun untuk membuktikan padamu, pada ayah dan saudara-saudaraku yang lain. Sejujurnya aku tak mampu melihat kemesraanmu pada saudara yang lain, biarlah kuyakinkan diri ini bahwa engkau selalu menyayangiku dalam tiap tarikan nafasmu dan hembusan doa yang keluar di setiap akhir sujudmu untukku.

Bunda, sejak kutuliskan surat ini aku ingin kau tahu bahwa Allah masih menjagaku seperti doamu, Allah masih memberiku kesehatan dan semangat untuk maju dan terus berusaha untuk membuktikan padamu dan ayah. Bunda, tak perlu engkau risau dengan keberadaanku, agama yang kau ajarkan, pesan yang kau sampaikan dan prinsip hidup yang kau tanamkan menguatkanku di sini.

Satu hal yang ingin kau tahu, tesis yang kuperjuangkan selama empat bulan untuk mendapatkan gelar Master kupersembahkan untuk Bunda yang teramat kucinta, hanya untuk mengukir senyum kebanggaanmu. Aku tak pernah pilih kasih dengan ayah hanya karena tertulis untuk ayahku nomor satu sedunia, tapi kau tak bisa terlukiskan walau seuntai kata terindah kulantunkan untukmu Bunda.

Tiada kata terindah yang mampu kuucapkan selain terima kasih untukmu Bunda juga pada semua Ibu di seluruh dunia, karena pengorbanan yang kalian berikan takkan sia-sia bahkan mengajari kami arti pentingnya seorang Ibu. Tanpa Ibu kami ini siapa, tanpa bimbingan Ibu kami akan jadi apa dan tanpa doa Ibu dunia takkan bisa kami taklukan.

Salam rindu dan penuh cinta untuk Ibu,



dari mata air surgamu
Sabil Ananda
Apr 11th, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..