Senin, 04 April 2011

PKL: ANTARA “PEDAGANG KAKI LIMA” dan “PENULIS KAKI LIMA"

oleh Penerbit Azam Jaya Press pada 29 Maret 2011 jam 10:52

Istilah PKL lebih identik pada Pedagang Kaki Lima. Namun dalam hal ini, jika PKL kita terapkan pada istilah penulis, apakah sesuai? Dalam kajian yang lebih luas, Pedagang Kaki lima merupakan segrombolan pedagang yang mejeng dipinggiran jalan, dengan fasilitas dagang yang minim, hanya bermodalkan gerobag, tempat kecil, dan sebagainya. Akan tetapi, banyak Pedagang Kaki Lima yang bukan sekedar pedagang ecek-ecek, jika dilihat dari semangat kerjanya—mereka mempunyai kemauan yang tinggi, dan power yang lebih dibandingkan para pengangguran tak jelas arah nasibnya. Semangat mempertahankan hidup yang luar biasa adalah bagian dari potret besar para Pedagang model ini. Kreativitas Pedagang ini diuji ketika dia harus menjajakan keberuntungannya pada sehalai dagangannya, untuk mecari posisi yang pas, dan tempat strategis. Apalagi jika mereka sedang diuber-uber oleh Satpol PP, dalam pada ini mereka harus mempunyai seni meloloskan diri yang baik. Jadi memang para Pedang Kaki Lima harus mempunyai bekal yang berlebih, khususnya masalah kecerdikan.

Lantas apa hubungannya Pedagang Kaki Lima dengan Penulis Kaki Lima? Nah, bukan masalah korelasi yang bersesuain di sini, melainkan keterikatan semangat, dimana dalam menulis juga seharunya perlu mempunyai motivasi yang tinggi. Penulis jika diandaikan sama dengan Pedagang, keduanya memiliki keterikatan satu (seperti mata uang logam). Walaupun beda tetap pada satu bentuk kata yang berhubungan. Pedagang menjajagan dagangnya, penulis pun mengobral idenya, pedagang  memikirkan setiap apa yang mau mereka jual, penulis pun memikirkan kata dan bentuk tulisan apa yang mau mereka susun. Semua itu dilakukan, tidak lain agar dagangannya bisa menarik, dan laku karena sesuai dengan pasar. Begitupun penulis, agar tulisannya bisa menarik, sehingga diminati oleh banyak pembaca—karena sifatnya universal. Jadi, Penulis Kaki Lima jika mereka punya mental yang sama dengan Pedagang Kaki Lima, maka tak akan pernah kenal panas, susah, dan capek. Semuanya dilakukan demi memenuhi hasrat hidupnya. Karena prinsip yang harus ditanamkan ialah, manusia yang memilih hidup maka ia harus berani untuk berpikir, yaitu berpikir lebih lanjut dan berani menggagas sesuatu. Tapi jika manusia sudah memilih mati, maka mati tak perlu pikir panjang (tinggal bunuh diri, semua urusan kelar).

Memang diantara keduanya sangat bertolak belakang, karena ada perbedaan profesi. Profesi yang kadangkala tidak sesuai jika disandingkan. Tapi kalau harus jujur, istilah kasar penulis adalah penjual kata-kata, penjual ide, dan penjual huruf. Ironisnya, menulis sekarang ini sudah menjadi profesi yang laten, tidak lagi memikirkan manfaat dari semuanya. Pendapatan keuntungan lebih dominan menyelimuti pikiran manusia, dan sudah menjadi tujuan. Jadi pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis ialah apakah menulis untuk hidup, apa hidup untuk menulis? (sama saja dengan pertanyaan “makan untuk hidup atau hidup untuk makan?”), dari dua pertanyaan yang berbeda itu mungkin jawabannya akan kebalik. jika pengertian keuntungan dari menulis itu nangkring di kepala para penulis pemula, akan menjadi sebuah virus yang membahayakan. Kita hanya masih penulis kemaren sore, kenapa harus lebih dulu memikirkan keuntungan daripada kemenangan. Jika kita bandingkan dengan karya-karya fenomenal yang masih tersebar sampai saat ini, seperti kitab-kitab klasik yang sering dikaji dalam dunia pesantren (Alfiyah, Jurmiyah, Imrithi, fathul Qarib, Fathul Mu’in, Tafsir Jalalen, dan sebagainya) atau seperti buku-buku (karya-karya) Para tokoh-tokoh yang berkembang di zaman SM (Socrates, Aristoteles, dsb) atau di abad pertengahan (Spinoza, Blaise Pascal, Thomas Hobbes, dsb), karya-karya mereka masih dikaji sampai sekarang, dan buku-bukunya masih diperjualbelikan. Tapi mereka tidak pernah mengharapkan keuntungan royalti untuk itu. Kalau semisal dihitung-hitung, mungkin royalti mereka sudah mencapai triliunan, karena karya mereka turun-temurun (berabad-abad) masih selalu dipakai pada bidangnya. Kenapa demikian? Karena niat awal mereka bukanlah mencari keuntungan melainkan ada sebuah pengabdian kebaikan pada tahapan zaman. Mungkin kesadaran itu yang harus diukir pada kepala kita. Pakde Karl Marx memberikan fatwa baiknya, “Manusia adalah masa depan bagi manusia lainnya”. Jadi dalam menulis kita jangan dulu melencengkan niat. Kalau semisal kita mengesampingkan niat kita untuk menjadi manfaat, maka kita hanya akan capek pada pengemasan tuntutan profesi sebagai penulis (pengurasaan pikiran, dan pencedraan ide), Bukan lagi sebagai pengabdian. Sama halnya dengan orang sholat atau orang yang sedang sholat, tapi niatnya tidak sholat, melainkan niat puasa (itu sama saja sholatnya hanya akan menjadi olahraga) karena sudah ada pelencengan niat. Padahal kalau dipikir-pikir keuntungan finansial dari menulis itu hanya sebagai berkah dari apresiasi karya kita, tidak harus berniat mencari itu juga, nanti akan datang dengan sendirinya.

Maka dari itu, yang paling penting dalam menatap dunia kepenulisan, bukan masalah siapa kita dan dari mana asal kita, melainkan bagaimana kita menjadi penulis yang baik—dengan ide-ide yang cemerlang. Kita mungkin bisa berkaca kepada para Pedagang Kaki Lima, tidak sedikit Pedagang Kaki Lima yang sukses karena etos kerjanya yang bagus. Mungkin kita akan berpikir pedagang kaki lima menggelar dagangannya tidak lain hanya untuk mengais keuntungan semata. Ya, memang demikian, tapi mereka sadar, berapa siih keuntungan pedagang Kaki lima, tentunya tidak sebesar keuntungan pedagang berlian. Mereka hanya ingin bertahan hidup melalui kinerjanya, entah itu nantinya bisa sukses, semua itu karena perintisan awal mereka yang terus bekerja, dan bersabar untuk menaiki tangga kehidupan, kesuksesan adalah berkah dari setiap apa yang dilakukannya. Lantas apakah penulis juga ada tangga perkembangannya? Tentu saja. Ketika kita menjadi penulis yang produktif tanpa berharap ada keuntungan yang berlebih, hanya sebagai pemnfaatan kita pada kepuasaan intelektual atau sebagai jalan kita dalam menyalurkan ilmu, sudah pasti nanti juga akan ada berkah dari semua itu. Analoginya seperti ini, ada Si A namanya Udin, dia mengajar ngaji di salah satu masjid, dia pertama kali memperkenalkan dirinya dengan nama udin. Tanpa di minta si Udin lama ke lamaan dia malah dipanggil Ustadz, padahal si Udin tidak pernah mendeklarasikan bahwa dirinya adalah ustadz, dan dia tidak pernah meminta untuk memangil dia ustadz, tapi semua murid-muridnya tetap saja memanggil ustadz udin. Nah, kenapa dia bisa dipanggil ustadz? Itu semua karena dia seorang guru ngaji, yang secara tiba-tiba ada stampel khusus melekat padanya—dan panggilan ustadz itu adalah nilai berkah yang tersalurkan buat dia. Padahal awal mulanya dia hanya ingin menyalurkan ilmu. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, panggilan itu sudah menjadi karakter yang harus disandang (itulah bentuk berkah).

Intinya, cobalah kita memosisikan diri kita sebagai penulis kaki lima, yang terus mempunyai gairah tinggi untuk keluar dari kegelisahan, dan penderitaan, yang terus memolos setiap mimpi-mimpinya, dan yang terus menunaikan setiap jengkal harapan dan keinginannya. Tujuan yang baik akan mendapatkan hasil yang baik. Penulis bukanlah sebuah profesi, melainkan abdi ilmu, pelayan ilmu, dan penyaji ilmu. Menulis adalah seni dalam memolos sesuatu. Dalam teori perdagangan mengatakan, ketika kita berdagang (berusaha) benar-benar ikut andil 100% maka keuntungan dan kesuksesan buat kita pun 100%, tapi jika kita hanya berperan 70% maka keuntungan dan kesuksesan yang masuk-pun hanya 70%. Akan tetapi, jika kita hanya ikut andil mengurusi 30% maka keuntungan buat kita 30%, dan kerugian buat kita 70%. Karena kita menyiayiakan 70% aktivitas dagang tersebut, otomatis kerugian lebih besar daripada keuntungan. Begitupun dengan menulis, jika kita sungguh-sungguh mengeksplorasikan diri kita sepenuhnya, dari setiap ide yang ada, pikiran yang ada, waktu yang ada, kinerja yang ada. Maka kepuasaan hasil pun akan terlihat. Tapi jika kita hanya berlaku menjadi penulis 50:50, maka kita hanya akan menjadi “penulis nanggung”. Jadi semuanya tergantung seberapa besar kita berperan pada apa yang kita lakukan.

Tidak semuanya Pedagang Kaki Lima itu bodoh, hina, dan tidak sukses. Dan tidak semuanya juga Penulis Kaki Lima (pemula) itu tolol, bodoh, dan tidak profesional. Kadangkala para pengusaha-pengusaha sukses sudah merasa bangga, bahwa dirinya sudah maju. Tapi, ternyata kearifan yang bergelimangan, malah mebuat mereka menjadi sombong. Tidak sedikit pula penulis-penulis senior yang sudah tinggi dan merasa di atas angin, tetapi produktivitasnya malah mebuat dia menjadi mati kreativitas (khususnya dalam bertindak, dan gaya berpikir). Keuntungan mencekik mereka sendiri pada taraf kenistaan. Benar juga apa yang dikatakan oleh Paklek Nietzche dalam Zarathustra-nya, “Yang terberat adalah merendahkan dirimu sendiri agar melukai kesombongan-mu. Dan membiarkan kegilaanmu keluar agar mengejek kearifanmu”. Pengemban amanah terberat pada ruh ialah, bagi ruh-ruh pembawa beban, yang di dalamnya terdiam kemulian, keuntungan, kehormatan dan rasa segan. Kekuatannya membuat mereka menjadi runtuh pada beban prasangka hebat.

NB:
Iseng-iseng nulis buat isi catatan, gak tau bener apa kagak.. hehehehe
semga aja berkah.. amieeeen...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..