Senin, 25 April 2011

PENULIS BAGAIKAN tuhan-tuhan kecil MEREKA

 oleh Penerbit Azam Jaya Press pada 27 Maret 2011 jam 13:03

Tidak sedikit manusia yang menganut paham-paham para tokoh orang terkanal, seperti: Imam Ghozali, Ibnu Rusyd, Kiyai Nitzche, Ustadz Freud, Romo Descrates, Pakde Thomas, Paklek James, Bang Karl Marx, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, dan sebagainya. Memberikan kesan, adanya sebuah peniruan gaya berpikir dari manusia-manusia sekarang. Ketika mereka berbicara, ketika mereka menulis, ketika mereka bertindak, dan sebagainya mereka meniru adegan apa yang pernah diajarkan para tokoh tersebut melalaui pemikirannya yang tertuang dalam bukunya. Toko-tokoh zaman dulu yang tersohor, tidak lain mereka dikenal salahsatunya karena karya tulisnya, yang mana semua bentuk karya-karyanya masih selalu dikaji oleh manusia-manusia pada saat ini, seperti imam ghozali dengan ihya ‘ulumuddinnya, ibnu rusyd dengan Bidayatul Mujtahidnya, Kiyai Nitzche dengan Zarathustra, dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, dekade yang tidak begitu jauh juga, Rene Descrates pernah mengatakan Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Perancis. Artinya adalah: "aku berpikir maka aku ada", dia mengatakan itu adalah celothnya. Padahal kalau dikorek lebih dalam ungkapan itu tidak mutlak miliknya, Imam Ghozali sudah lebih dulu mengatakannya dalam kitab al Munqidz, dengan istilah, “Ana Afkar Idzan ana Maujud” (Aku berpikir maka aku ada). Itu sebagai bukti, bahwasanya sebuah pengaguman peniruan akan pemikiran kadang kala “diakui” kadangkala tidak “mengakui”, seperti halnya manusia dalam meyakini Tuhannya ada yang THEIS ada juga yang ATHEIS. Berkaca dari itu, para tokoh masyhur tersebut bisa berperan sebagai “tuhan” yang terakui karena paham-pahamnya yang dipinjam, dan pemikirannya yang selalu diikuti oleh para penganutnya, dan kadang juga berperan sebagai “tuhan” yang dibuang, karena tidak terakui dan gengsi untuk mengakuinya (MAKNA-NYA ialah Seharusnya dalam menulis, ketika kita meniru atau menukil dari sebuah paham yang telah diacungkan oleh seseorang, maka harus diungkapkan dengan jelas, agar refrensi dan data yang diambil sesuai, jadi pembaca tidak bingung “JADILAH PENULIS YANG JUJUR JANGAN JADI PENULIS YANG DURHAKA”).
Lantas Kenapa dikatakan penulis bagaikan tuhan-tuhan kecil mereka? Perlu diingatkan dulu, kata tuhan ini hanya sebagai istilah, bukan berarti tuhan yang disembah, melainkan peran dan gayanya seperti tuhan. Jabawnya. Karena, sekali orang membaca satu tulisan, dan dari segi pemikiran lalu segala sesuatunya merasa sesuai dengan dirinya, biasanya secara tidak langsung makna-makna yang tertuang dalam tulisan tersebut akan menyerap dalam diri manusia, dan lambat laun posisi itu berubah menjadi identitas diri, sehingga mungkin saja pengaturan gaya bertindak dan berpikir di atur oleh bentuk-bentuk paham yang tersebar dalam karya-karya fenomenal yang ia baca. Bisa dikatakan tulisan yang menarik dengan ide yang istimewa, gaya bahasa yang memikat, dan pemikiran yang dashyat, akan menjadi sebuah bius yang memabokan. Apalagi jika para pembacanya merasa sesuai dengan apa yang ditulis, maka akan menjadi sebuah panduan hidup atau panutan hidup kedua selain kitab agama. Rasa yang hadir dalam diri-pun seakan-akan, apa yang ditulis dan apa yang dibaca semua itu adalah seruan Tuhan. Tuhan menyatakan firmannya melalui tulisan (Al-Qur’an, Al-Kitab, dan sebagainya), manusia menyatakan karyanya juga melalui tulisan. Jadi naiknya derajat seseorang ketika kita menjadi penulis, karena seruan-seruan yang baik pada seseorang (pembaca) akan membentuk pembaca menjadi lebih baik, dengan tuntunan nilai-nilai yang masuk dalam dirinya.
Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, mereka semua sudah menghadap pada Tuhannya masing-masing. Namun namanya terus menjalar sampai pojokan desa manapun, ajarannya selalu menjadi panutan banyak orang, ungkapan-ungkapan bijaknya selalu dipakai ketika orang menyampaikan sesuatu kebaikan maupun keburukan. Pendeknya, ketika diri kita merasa bahwa kita itu “ada” sebagai manusia, maka seharusnya kita menjadi “ada” yang benar-benar “ada”, bukan hanya “ada” yang meng-“ada”-“ada”. Tuhan menciptakan batu awal mulanya hanya bentuk yang buruk tanpa nilai, padahal Tuhan sangat mampu menciptakan batu langsung dengan betuk yang memukau. Tapi Tuhan tidak mau itu. Namun, dengan akal, dan kreativitas yang manusia punya akhirnya manusia membentuk, memahat batu-batu itu menjadi indah, menjadi patung-patung yang menarik dan akhirnya batu yang tadinya tak bernilai sekarang telah mempunyai nilai-nilai yang tinggi. Itu semua karena manusia meyakini bahwa ada potensi, ada kehendak, dan ada naluri yang berjalan jika difungsikan. Ya, begitupun menulis, menulis awal mulanya hanya sebuah hurup yang tak bermakna atau tanpa makna yang jelas (A, B, C, etc,……..) tapi dengan manusia mengorek seluruh daya imajinasinya manusia mampu menerapkan satu hurup itu kehurupnya lainnya, dan akhirnya mempunyai keterikatan arti yang luas, tentutnya dengan dukungan penerapan ilmu yang berlaku. Sehingga bisa menjadi tulisan yang menarik, dan menjadi seruan yang bermanfaat. Kesimpulannya, kreativitas yang ada itu bagian panutan kedirian kita, untuk menjadi “tuhan kecil” yang diserukan oleh Imam Ghozali (manusia adalah tuhan kecil) maka sosok manusia harus menjadi sosok yang bisa menggugah semangat kebaikan pada orang-orang lain, melalaui karya-karya kita, dan tulisan-tulisan yang megandung kesan dan pesan baik, serta ide yang menarik. sehingga tulisan kita dapat memberikan transfer of value pada pembaca. Sekali lagi karena AKU hidup bukanlah AKU yang sendiri, melainkan banyak AKU-AKU yang lain. Maka semburkanlah kebaikan AKU pada AKU-AKU yang lain..
SALAM KARYA…
“MARI BERKARYA SEBELUM DIKARYAKAN”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..