Senin, 04 April 2011

MENULIS: BAHASA + PIKIRAN = CUKUP

oleh Penerbit Azam Jaya Press pada 31 Maret 2011 jam 22:40


Manusia dalam berkomunikasi menggunakan bahasa, selain alat ucap yang baik dalam bertutur atau berbahasa. Korelasi antara bahasa dan pikiran adalah cukup. Pikiran sebagai daya kontrol manusia dalam mengolah bahasanya. Yang mana pikiran sebagai bentuk daya ingat, sebab faktor ingatan yang kuatlah, akan mendorong manusia untuk berbahasa dengan lancar. Setiap manusia walaupun dia tak bisa berucap secara lisan, tapi ada komunikasi khusus dalam menyampaikan pesannya. Pikiran mempunyai peran penting, baik dalam menyimak, membaca, menulis, dan sebagainya. Dalam penyimakan, pikiran menangkap dan menahan untain fonologis ucapan dari lawan bicara untuk dijadikan pesan yang bermakna. Dalam membaca, pikiran menangkap dan menahan informasi yang dibaca dalam bentuk untaian kata, frase, klausa, kalimat, paragraf sampai wacana/teks. Sedangkan dalam menulis, pikiran berfungsi sebagai alat pencurah informasi yang ditangkap dari proses penyimakan, dan membaca. Dengan pikiran yang terus bergejolak pada setiap informasi yang masuk, maka akan tercipta kolaborasi yang sesuai antara pikiran dan bahasa. Yang mana, bahasa sebagai penuangan pikiran. Pada kaitan tulis-menulis. Pengkelompokan antara pikiran dengan bahasa yang sistematis masuk dalam kategori penting. Maka dari itu, ada sebuah kucuran pemanfaatan pada penggunaan pikiran, dari segi menyimak, membaca, dan lalu menulis.

Kalau ditelisik lebih dalam lagi mengenai keterikatannya, pikiran mempunyai fungsi menerima, menyimpan, dam memproses pesan/ide. Sedangkan bahasa, sebagai bentuk lambang atau mediator primer pembawa pesan/ide (komunikasi). Dan kemudian menulis, ialah bentuk pencurahan bahasa yang dikemas secara rapi dan runtut, sebagai dorongan agar pesan bisa tersampaikan secara universal. Karena menulis adalah bahasa diri, yang bisa menghipnotis pikiran manusia. Tapi semuanya harus disesuaikan, karena kemasan yang baik, bahasa yang baik, atau aplikasi bentuk pikiran yang baik, akan melahirkan kesan penyampaian yang baik juga. Ketika pesan atau ide yang disalurkan bisa ditangkap dengan sempurna oleh penerima pesan (pembaca, pendengar, dan sebagainya), maka tulisan kita baru bisa dianggap sukses. Jadi dalam menulis lebih baik memilih bahasa yang sederhana, gamblang, dan mudah dicerna. Karena prinsipnya, penulis yang baik, bukanlah membuat bingung para pembaca, tetapi memberikan pikiran yang segar kepada pembaca. Keindahan berututur kata, bahasa yang tinggi—tidak menjamin kualitas tulisan kita baik atau tidak.

Baik atau buruknya hasil pemikiran yang dituangkan pada bahasa lisan dan tulisan tergantung dari baik buruknya teknik yang digunakan. Karena bahasa bukan hanya alat mati dari pikiran, tapi di luar logika, bahasa mempunyai peran-peran lain dibidang kehidupan manusia. Yang dapat menumbuhkan sendi-sendi tindakan manusia, pemahaman manusia, dan penghayatan manusia, serta penguatan insting manusia. Hipotesis yang paling terkenal tentang hubungan pikiran dengan bahasa adalah hipotesis relativitas kebahasaan dari Sapir & Whorf. Hipotesis ini mengatakan bahwa, “Bahasa memengaruhi pikiran”. Menurut Whorf (1966:213), setiap bahasa memaksa atau memberikan suatu, “pandangan dunia” pada penuturnya baik lisan maupun tulisan.

Beranjak dari itu, Aristoteles pernah bertanya tentang bahasa, “Apakah Bahasa itu?” dia sendiri menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Begitupun menulis, menulis adalah pengungkapan pikiran dan perasaan yang dituangkan pada beberapa kata, kalimat, paragraf, membentuk sebuah keindahan wacana (menulis sama juga dengan berbahasa). Berhubung bahasa sebagai mediator, maka bahasa adalah alat vital bagi terbentuknya sifat seseorang, yang menurut Whorf tersebut sebagai pandangan dunia. Dalam kajian menulis, pengungkapan bahasa jujur, bahasa yang tidak menggurui, bahasa yang mudah dipahami menjadi tolok ukur bahasa yang sesuai (bahasa yang bersifat satu kata, satu jiwa, dan satu hati).

Dalam pemanfaatan bahasa sehari-hari, sebenarnya kita telah banyak mengumbar bahasa dalam satu hari. Bisa dikatakan ribuan bahkan jutaan bahasa kita hambur-hamburkan. Kalau semisal kita sambungkan dengan kaitan menulis, maka jika difungsikan dan dimanfaatkan bahasa (20%-nya) saja dituangkan dalam bentuk tulisan setiap hari, maka bahasa tidak akan menjadi mubadzir, melainkan menjadi sebuah bentuk pencurahan pikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Bukan hanya bahasa yang setiap hari berjalan, pikiran pun setiap hari berlari dengan porosnya, maka jika pikiran dikemas pada pembentukan bahasa yang bagus, pikiran pun akan menjadi fungsi yang dahsyat.  Dengan demikian, untuk mengawali gerbang menulis dalam tahap awal. Jangan pusing-pusing memikirkan bahasa apa yang harus digunakan, yang paling penting adalah bagaimana kita mengamati, membaca, dan menyerap semua apa yang masuk ke dalam pikiran kita, lalu kita tuangkan sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Pendeknya, jangan segan-segan untuk meliarkan pikiran kita, dan berani menghujat setiap kata yang keluar melalui perantara bahasa. jangan sampai juga pikiran dan bahasa terpenjara oleh kotak kosong yang membunuh kreativtas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..