Senin, 04 April 2011

MENJADI PENULIS JUJUR

oleh Penerbit Azam Jaya Press pada 03 April 2011 jam 19:01


Dalam perkembangan modern, fasilitas untuk mencari data dalam penulisan ilmiah sudah tersedia semua. Komplotan dari berbagai ilmu telah hadir mengintai masyarakat sekitar. Segala rupa genre ilmu, dari berbagai macam aliran telah bergelimangan. Pengambilan refrensi, atau kutipan sebagai pendukung penguat sebuah tulisan. Dewasa ini, bukan hanya ada pada tulisan ilmiah saja, melainkan dalam kaitan sastra (fiksi) juga kadang kala diperlukan, seperti: novel sejarah, novel pendidikan, novel motivasi, dan sebagainya. Kenapa kita sangat perlu data atau refrensi? Karena dalam penulisan ada sebuah istilah demikian, “Pemikiran X adalah konsekuensi bagi kita sendiri”, ketika kita tak mampu membendung banyaknya konsekuensi yang ada, maka perpaduan gaya pemikiran menjadi titik pijak yang “klop”. Jadi saat kita mengambil banyak data, dan semua sumber kita tampilkan, maka bobot timbang kualitas tulisan kita akan lebih ber-power, kenapa? Sebuah buku akan dianggap berkualitas, khususnya buku-buku ilmiah dan akan diakui sebagai ukuran standar internasional, ketika buku banyak menampilkan sumber (sejara jujur, dan transparan). Buku tanpa data adalah buta, ia hanya bisa berbicara—tapi tanpa melihat. Pertanggung jawaban yang diusung pun akan lebih berat.

Selain itu, perpaduan pemikiran akan lebih menghiasi alur jalan buku yang kita susun. Alangkah indahnya, jika pemikiran-pemikiran brilian ikut serta mengisi kelengkapan karya kita. Yang disayangkan, kadangkala orang gengsi untuk menampilkan banyak data. Memunculkan dari mana sumber data itu didapat, karena anggapan mereka seakan-akan menukil pendapat, dan memuat pemikiran orang lain adalah kebodohan buat mereka. Padahal bagi saya itu merupakan kepintaran, di mana kita mampu mengolah banyak sumber untuk membentuk definisi baru atau pemikiran baru, kita bisa menanggapi,  menambahkan, dan bahkan diperbolehkan mengkritisi jika kita tidak spendapat. Namun, gara-gara gengsi yang berlebihan, dampak yang ditimbulkan ialah bukan malah ada pengembangan diri pada kreativitas, tapi malah menjadi plagiat, meminjem istilah, menukil kata, merengek kalimat—tapi tidak dijelaskan dari mana asal-usulnya. Nah, hal itu sama saja kita hanya penulis kacang goreng yang suka-suka meniru. Malah parahnya, tidak sedikit juga penulis. Memanipulasi keseluruhan isi buku (biasanya dilakukan buku-buku berbahasa luar), merombak semua kata-katanya, mencoba mereka terjemahkan dengan bahasanya sendiri tapi dari isi dan substansi keseluruhannya sama. Dan mereka mengaku bahwa itu adalah karyanya, padahal BUKAN. Nah, kita tak jauh beda dari orang-orang model tersebut, jika kita mengambil data atau refrensi tidak memberitahu kelahirannya dimana.

Ironisnya, ketika orang dikasih masukan untuk mencari kelengkapan sumber tulisannya, kebanyakan mereka malah mengeluh, darimana kita dapatkan itu semua? Sedangkan saya gak punya buku? Itu bukan sebuah alasan dasar untuk kita tidak kreativ mengorek ilmu. Semua, sekarang ini sudah disediakan, tekhnologi berkembang, semua ilmu sudah dikemas dalam satu buku, kalau tidak ada penjual buku, sudah banyak tersedia buku-buku elektronik. Internet mungkin bisa jadi jalan alternatif untuk mengorek keseluruhan pengetahuan, apalagi sekarang ini ada istilah keren, “untuk masuk surga dan neraka, sudah tidak perlu repot-repot, tinggal tekan enter maka akan terbuka ke dua pintu itu”. Dari cletukan tersebut berarti segala rupanya sudah tersedia di dunia ini. Tinggal kita mau “mencomot”nya apa tidak. Nah yang jadi pertanyaan, bagaimana cara kita dalam mengumpulkan data dan refrensi untuk kebutuhan tulisan kita.

  1. Tentukan Temanya dulu apa, dan ide apa yang mau ditawarkan dalam tulisan.
  2. Susun konsep dasarnya dari pemikiran kita. Bentuk karakter pemikiran apa yang mau kita gunakan. Lalu korek semua apa yang kita ketahui dari tema itu.
  3. Cari buku-buku yang berkaitan dengan tema kita, bisa dari buku bacaan, bisa juga dari media-media, atau tulisan-tulisan yang lain.
  4. Cari lebih dulu sumber data atau refrensi yang mutlak kebenarannya, dan yang cocok dengan tema tulisan. Kita tidak harus membaca satu per satu buku yang kita buka, melainkan coba kita amati dari daftar isinya saja, maka akan ketahuan mana data atau refrensi yang penting buat kita.
  5. Setelah kita mendapatkannya, maka kita tandai yang mau kita ambil, dan untuk penempatan akan ditaroh dimana refrensi itu, kita sesuaikan dengan kebutuhan tulisan, dan harus sesuai dengan pengkolaborasian dengan bentuk pemikiran kita pada tema tulisan, biar tidak terjadi benturan, dan agar tulisan kita koheren.
  6. Dan ketika kita menemukan sumber tanpa data yang jelas dari sebuah buku, maka kita bisa menyebutkan bukunya saja, semisal kutipan kata-kata dari seorang tokoh.
  7. Selanjutnya, dalam pemberitahuan sumber informasi data wajib hukumnya ditampilkan.
  8. Yang terakhir buat daftar sumber data dan refrensi, bisa berbentuk footnote atau bisa juga endnote.

Mungkin poin-poin itu bisa dijadikan sebagai sumber solusi awal untuk mengorek dan memperbanyak data kita, agar tulisan kita menjadi berbobot. Dalam perkembangan pemikirannya, maka dengan kelengkapan sumber dan refrensi, secara tidak langsung pengetahuan yang menyerap pada pikiran kita pun akan menambah, dan banyak keuntungan dari kreativitas kita dalam mengorek pengetahuan. Intinya, pikiran yang satu, jika digabungkan dengan pikiran-pikiran yang lain, maka akan menjadi pikiran yang dahsyat. Tapi jangan lupa tampilkan semuanya, jangan hanya Cuma meminjem pemikiran mereka, tapi kita tidak mau memperkenalkan yang punya pikiran siapa, JADI PENULIS HARUS JUJUR.

Maaf Mengotori lagi….
Semoga Bermanfaat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..