Senin, 04 April 2011

Karya Sebagai Sebuah Dialog



Written by Sofie Dewayani   
Wednesday, 14 October 2009 10:08
Apa yang lekat di benak Anda saat mendengar kata "penulis"? Mungkin Anda akan membayangkan seseorang yang asosial, gemar merenung, menyendiri, dan kesepian. Satu-satunya gemuruh yang menemaninya hanyalah kelebatan ide dan gagasan riuh-rendah di kepalanya.Orang mungkin beranggapan bahwa inspirasi adalah fenomena yang tumbuh di jalanan ide dan lalu-lintas gagasan, lalu dipetik dan disemai di dalam kepala penulis. Memang inspirasi dipupuk oleh pengalaman hidup. Akan tetapi pengalaman hidup tidaklah tumbuh di jalanan lengang. Pengalaman matang oleh hantaman, benturan, tercampakkan oleh ujian, dan teruji oleh kekecewaan. Penulis mampu menggali inspirasi karena terus mendialogkan pengalaman dengan penghayatannya terhadap hidup. Sebuah pohon pengalaman yang sederhana di penglihatan telanjang orang awam dapat dikemas oleh penulis mumpuni menjadi pohon yang berbuah hikmah dan pelajaran.
Seorang penulis, dengan demikian, adalah dia yang membangun gubuk asketiknya di tengah keramaian. Penulis selayaknya mampu berkiprah di keramaian dan merenung di saat yang sama. Penulis mengabdikan diri kepada kemanusiaan, dengan menciptakan karya-karya yang sarat perenungan dan dekat dengan realitas sosial.
Jangan Abaikan Pembaca!

Karya tidak terlahir dari ruang vakum, menurut Bakhtin, melainkan tercipta dari sebuah dialog. Karya sastra adalah produk ideologis, yang dengannya penulis merespon sebuah fenomena sosial dengan pemahaman dan penghayatannya. Salah satu jejaring dialektikal itu adalah dialog dengan pembaca. Penulis yang menyadari bahwa sesungguhnya dia sedang berbincang dengan pembaca niscaya tidak hanya berusaha untuk menuangkan gagasan dengan baik, namun juga menjadi komunikator ulung. Memang, salah satu tantangan penulis dalam menciptakan dialog adalah tidak adanya respon seketika dari pembaca. Teman dialog dalam proses menulis eksis dalam wilayah imajiner penulis. Dia memberikan masukan dan respon terhadap ide dan gagasan penulis. Singkat kata, pembaca selayaknya selalu dihadirkan dalam benak penulis saat berkarya.

Salah seorang teladan komunikator handal adalah Rasulullah SAW. Efektivitas dakwah beliau merupakan buah komunikasi yang tepat sasaran dan disampaikan dengan memperhatikan kebutuhan dan karakteristik pendengar. Rasulullah SAW, konon menggunakan bahasa dan metode yang berbeda setiap kali berdakwah, sesuai dengan target pendengarnya. Sebagai salah satu sarana komunikasi, menulis pun berada dalam ruang dialog tersebut. Menulis tidak hanya untuk dimengerti dan dipahami, namun juga untuk melayani pembaca, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Mengapa saya merujuk kepada pembaca, dan bukan "pembeli karya"? Salah satu problem spesifik dalam era kapitalistik ini adalah pemasaran karya. Sebuah karya bisa jadi sangat komunikatif dan menarik, namun tingkat pemasarannya tidak meraih prestasi yang (menurut standar penerbit) "dapat dibanggakan," sehingga diminati oleh mayoritas pembeli. Saya memisahkan "pembeli buku" dan "pembaca karya" karena dua alasan. Pertama, para pembeli adalah pelaku pasar yang berperan dalam menentukan angka keberhasilan penjualan karya. Satu hal yang tidak digambarkan oleh angka ini adalah kesuksesan sebuah karya dalam menggugah, memikat, dan mengembangkan pembaca. Pembaca karya adalah mereka seharusnya terlibat dan dipertimbangkan dalam proses berkarya. Dibandingkan dengan pembaca, pembeli relatif berada di luar jangkauan penulis karena perilaku pasar cenderung dipengaruhi oleh budaya populer dan aktualitas yang bersifat sesaat. Kedua, tingkat penjualan hanya mencerminkan lintas keterserapan buku, sedangkan karya memiliki media sebaran yang lebih luas, yang meliputi media online juga cetak, dalam format harian atau majalah. Di samping itu, di negara yang budaya literasinya sedang tumbuh seperti Indonesia, sukses penjualan tidak selalu mencerminkan tingkat keterserapan buku. Pembaca bisa menikmati karya dengan meminjam, memperbanyak, atau mengakses versi online sebuah karya.

Jadi, bagaimana penulis bisa menghasilkan karya yang berkualitas dan bisa diserap pasar? Saya cenderung menghindari cara pandang dikotomis. Dalam paradigma kapitalistik, penciptaan karya adalah upaya spekulatif. Sementara selera pasar berada di luar kendali pencipta karya, tugas penting penulis adalah melibatkan pembaca dalam proses mencipta. Menulis bukan masturbasi; upaya memuaskan diri sendiri. Karya yang mampu memuaskan, apalagi mencerahkan pembaca, setidaknya memiliki peluang lebih baik untuk diserap oleh lalu-lintas pasar.

Memikat Pembaca Sejak Kalimat Pertama

Apa yang membuat Anda bertahan dalam sebuah perbincangan? Anda dan teman berbincang Anda mungkin terpaut oleh minat dan kepentingan yang sama. Namun sebuah perbincangan sering bertahan lama karena ada kebaruan-kebaruan yang terus tumbuh. Ada tema-tema, yang meskipun usang, namun dikemas dengan sudut pandang baru. Sebuah perbincangan hidup karena minat yang tertambat, bahkan sejak saat pertama.

Pembaca perlu ditambatkan minatnya bahkan sejak kalimat pertama. Paragraf pembuka menentukan apakah pembaca akan meneruskan membaca atau tidak. Pengantar yang panjang dan bertele-tele cenderung kurang disukai dan dianggap tidak menarik. Untuk memikat pembaca, paragraf pertama bisa memuat elemen sebagai berikut:

1.      Memberi clue permasalahan, baik berupa dialog, atau deskripsi singkat konflik.
2.      Penjelasan setting yang tidak biasa.
3.      Dialog yang menggambarkan pengembangan karakter.

Setelah menambatkan pembaca dengan paragraf pertama, tugas penulis berikutnya adalah mempertahankan atensi pembaca dengan menjaga konsistensi alur, konflik, dan mengembangkan karakter cerita. Pembaca juga selayaknya dilayani dengan menawarkan gaya bertutur yang segar dan baru. Menggunakan metafora yang lazim digunakan semisal "seperti kerbau dicocok hidung" tentu tidak menawarkan apa-apa selain pengetahuan kebahasaan yang usang. Penulis perlu membuat "kuburan kata-kata dan metafora." Masukkan sebanyak mungkin kata-kata metafora "klise" dalam daftar kuburan tersebut, dan buatlah daftar perbendaharaan baru.

Penulis juga perlu belajar untuk menjadi teman berbincang yang sabar. Salah satu kesalahan tipikal penulis pemula terburu-buru dalam bertutur. Penulis cenderung menghujani pembaca dengan terlalu banyak banyak informasi. Tak jarang, penulis menyajikan alur cerita dalam rentang waktu yang panjang dengan ragam informasi yang berjejal-jejal. Kelemahan tulisan jenis ini adalah kegagalannya untuk memberikan ruang jeda bagi pembaca. Tulisan dengan terlalu banyak informasi juga sering kekurangan ruang reflektif. Sebagai teman berbincang yang baik, seorang penulis tentu menginginkan tulisannya meninggalkan jejak dalam benak penulis. Salah satu jejak tersebut, adalah "emosi."

Mengapa Emosi Penting?


Emosi adalah dermaga yang menautkan penulis dan pembaca. Emosi melabuhkan pembaca, dan memberi mereka jeda. Emosi adalah ikatan penting yang menautkan pembaca dengan cerita dan tokoh yang dibacanya. Sering terjadi, penulis "menargetkan" pembaca untuk merasakan emosi tertentu. Keinginan ini membuat emosi "diwartakan" begitu rupa oleh penulis. Sebuah cerita sedih misalnya, sering dipaparkan dengan derai air mata yang berlebihan dan nada bertutur yang nelangsa.

Marilah kita belajar dari sinetron Indonesia dan telenovela. Seberapa sering Anda merasa tersentuh oleh adegan yang menampilkan tangisan dan derai air mata? Tokoh sinetron dan telenovela, sering hanya sibuk menangis sendiri. Mereka tak mampu membuat pemirsa mencucurkan air mata bersama-sama. Kalaupun ada yang berhasil, mungkin jarang sekali.

Anehnya, kita sering tersentuh oleh kesedihan yang tersurat. Sebuah berita kematian mungkin dapat disikapi tokoh dengan senyum getir. Kekecewaan dan patah hati tak hanya diberitakan dengan derai air mata, namun juga kegagapan tokoh dan kecerobohannya dalam menjalani hari-harinya. Seberapa sering dalam realitas sosial, kita menyaksikan figur-figur yang berusaha tegar saat menghadapi kemalangan bertubi-tubi? Atau sosok yang berusaha melucu untuk meratapi nasibnya sendiri? Melihatnya kita akan tertawa namun menangis dalam hati.

Sebagaimana realitas, emosi itu tak sederhana. Tak hanya ada tawa dan air mata. Banyak realitas abu-abu, begitupun emosi yang kelabu. Ada tawa getir, tawa bahagia, dan berbagai ragam rasa yang terlalu kaya untuk dijelaskan dengan satu-dua kata saja. Tugas penulis adalah melukiskannya. Biarkan pembaca menyikapinya dengan emosi yang berbeda-beda sesuai dengan interpretasi pengalamannya.

Pembaca Adalah Teman Berbincang yang Sejajar


Setelah memikat pembaca dan menautkan emosinya, tugas penulis berikutnya adalah menjadi rendah hati. Pembaca bukanlah entitas kosong yang tak mengerti apa-apa sehingga kita merasa perlu "memberitahu" mereka tentang berbagai hal. Pembaca adalah teman berbincang yang sejajar. Mereka bukanlah sekadar penerima, reseptif pasif atau ember kosong karena membaca adalah kegiatan aktif yang dengannya pembaca menafsirkan, menyimpulkan, berimajinasi dan mengambil hikmah secara mandiri.

Ironisnya, penulis sering meremehkan kemampuan imajinatif ini dengan terlalu banyak menggurui pembaca, misalnya dengan menggunakan kata sifat dan nilai-nilai moral seolah pembaca adalah anak kecil yang memang perlu diberitahu. Salah satu kaidah dalam teori kepenulisan adalah show not tell yang menganjurkan penggunaan kata kerja (action words) untuk menjelaskan sebuah karakter ketimbang kata sifat.

Bagaimana Menciptakan "Dialog"?


Anda bisa menjadi teman dialog bagi proses menulis Anda. Namun, agar tercipta suasana dialog yang obyektif, Anda sebagai penulis perlu menciptakan subyektifitas baru. Salah satu strategi untuk menciptakan subyektifitas ini adalah sedapat mungkin berjarak dengan tulisan Anda. 

1. Setelah menulis, cobalah untuk membaca karya Anda dengan suara kelas (read aloud), dan bayangkan seperti Anda pertama kali membaca karya itu. Kadang-kadang, Anda mampu mencernanya secara berbeda dengan membacanya keras-keras.
2. Selesaikan sebuah tulisan, lalu endapkan tulisan itu beberapa saat, beberapa hari, atau beberapa minggu. Dengan begitu Anda memberi kesempatan kepada diri Anda untuk menumbuhkan subyektivitas baru yang mampu membaca tulisan itu dengan perspektif dan rasa yang berbeda.
3. Ciptakan dialog yang sesungguhnya. Libatkan pembaca kritis, seperti anggota keluarga, suami, istri, mereka yang menyukai atau bahkan yang kurang akrab dengan karya fiksi. Melibatkan pembaca ahli dan pembaca awam sangat penting untuk mengetahui beragam perspektif terhadap karya Anda.

Dunia sastra Islami saat ini tengah menggeliat oleh banyak karya-karya baru yang bermunculan. Pekerjaan rumah penulis-penulis Islami saat ini adalah meluaskan arena dialog dengan meluaskan segmen pembaca karya Islami. Sebagai teman berbincang yang baik, sudah selayaknya kita paham bahwa pembaca karya kita semakin kritis. Mari menjadi penulis dengan semangat memberi dan melayani yang paham bahwa pembaca adalah individu yang selalu tumbuh dan rindu bacaan-bacaan yang melimpahi mereka dengan sesuatu yang baru, menyejukkan, dan mengembangkan.

Wallahualam bissawab.
Bandung, 10 Juli 1008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..