Sabtu, 30 April 2011

JADI PENULIS JUGA HARUS ADIL !!!

oleh Penerbit Azam Jaya Press pada 28 Maret 2011 jam 15:41

Ada berbagai macam corak dan gaya menulis. Walaupun menulis hanya bentuk susunan huruf yang disambung dalam bentuk kata, kalimat, dan paragraf. Tetapi menulis itu sendiri mempunyai aturan dan norma yang berlaku, sepertihalnya orang hidup dalam sebuah lingkungan masyarakat. Dimana setiap manusia harus mematuhi hukum yang ada, budaya yang tersebar, dan aturan-aturan yang ditetapkan. Semua itu bertujuan tidak lain untuk mewujudkan keselarasan dan keseimbangan hidup. Hukum alam menyatakan, ketika semuanya berposisi pada tempat yang sesuai, maka segala sesuatunya akan kelihatan menarik, indah, dan elok. Kita tidak bisa asal bertindak semaunya kita. Karena kenapa?, sebab kita adalah manusia yang terlahir pada saat budaya, kebiasaan, hukum, dan metode itu sudah terlahir. Boleh saja, kita keluar dari norma yang ada, dengan tujuan untuk menetukan identitas yang sesuai dengan diri kita. Namun, kita harus ingat satu hal, bagaimana caranya kita membentuk sebuah identitas baru tetapi tetap menjadi identitas yang ramah lingkungan, dan sesuai dengan apa yang ada. Dalam buku dunia shopie ada sebuah kata-kata anggun, “Kita sebagai manusia tak pernah bisa memilih dimana kita dilahirkan, dan seperti apa kita dilahirkan, serta menjadi anak siapa kita dilahirkan, tapi kita masih bisa menentukan siapa teman kita, dan bagaimana tujuan kita”. Nah, di sini ada banyak indikasi. Bahwasanya, kita adalah manusia yang harus mempunyai posisi yang sesuai dengan kedirian kita, tentunya harus melihat asal-muasal dari setiap ketentuan yang ada. Yang mana semua itu hanya sebagai keseimbangan untuk melahirkan komunikasi yang fungsional dalam perjalanan hidup kedirian manusia. Bukan hanya proses kehidupan kita harus menampatkan tempat duduk (posisi) yang pas, melainkan dalam keseharian kita, khususnya dalam membuang sampah, kita juga harus buang sampah pada tempatnya, bukan lagi membuang tempatnya pada sampah. Jadi memang, lagi-lagi semuanya harus bersikap “adil” apapun itu, karena adil dalam definisinya ialah wadkhu say’I fi mahallihi (menempatkan sesuatu pada tempatnya). Lantas apa hubungannya dengan menulis?

Banyak budaya yang tersebar di dunia ini, dari sekian budaya dan norma yang berlaku mempunyai ketentuan nilai yang berbeda. Begitupun menulis, banyak juga corak dan gaya dalam menulis, apalagi metode menulis, kalau dijabarkan satu-persatu tentang bentuk kepenulisan, mungkin saja bisa membutuhkan waktu yang cukup lama, dan cukup panjang (buat buku kalee ya harusnya). Dalam hal ini hanya akan dikuak bagaimana menjadi penulis yang adil dalam menulis karyanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kata yang diterapkan dengan metode yang digunakan. Takutnya, ketika penempatan posisi kata dan metode salah (tidak sesuai) dalam sebuah tulisan, maka akan memunculkan arti yang berbeda, dan melahirkan bentuk yang tidak sesuai, efek yang ditimbulkan ialah terilahatnya pemborosan energi dalam bertutur, dan inkonsistensi dalam berkata-kata dalam sebuah tulisan. Jadi untuk merakit sebuah tulisan, kita tidak bisa egois dengan apa yang ada. Karena kadangkala ada beberapa orang yang seakan-akan tidak mau mencoba belajar dari setiap karakter tulisan, karena ada sebuah anggapan, apa yang berjalan dari diri kita sendiri itu adalah benar. Menurutnya, ada sebuah penodaan besar ketika harus meniru sedikit gaya tulisan yang dipadukan. Padahal jika ditelisik, perpaduan gaya menulis yang ada, penghayatan membaca karakter dari setiap penulisan-penulisan yang baik, itu hanya bertujuan ingin mengkohkohkan, atau menguatkan bentuk bahasa karakter kita dalam menulis, supaya ada beberapa refrensi model penulisan yang menyerap pada kepala kita, dan dalam menulis akhirnya kita tidak menjadi monoton, akan lebih variatif.

Intinya, bukan masalah ternoda atau tidaknya, melainkan bentuk penguatan karakter gaya kepenulisan kita. kita tidak bisa egois dengan apa yang ada dalam diri kita, memang setiap penulis seharusnya mempunyai karakter atau gaya menulisnya masing-masing. Tapi yang perlu ditekankan, bagaimana kita mampu mengorek itu tanpa melihat perbandingan dari semua tulisan yang ada. Penggalian potensi bisa digali melalui kedirian kita, begitupun naluri. akan tetap penggalian kreativitas, digali bersama dgn kreativitas-kreativitas yang lain. Boleh sedikit menukil sastrawan dan ekonom terkenal asal irlandia, yaitu Oscar Wilde dia mengatakan, "Hasrat kita adalah hasrat orang lain, keinginan kita adalah keinginan orang lain, kedirian kita adalah kedirian orang lain, apapun yang kita lakukan adalah yang dilakukan orang lain, begitupun selanjutnya". Jadi sejatinya kita adalah bentuk manusia yang berpacu pada manusia lainnya, itu dari segi apapun. dan kita juga tidak bisa memungkiri, kelahiran kita didahului oleh kelahiran sistem, hukum, budaya, kebiasan, dan metode yang berlaku. Jadi bisa dikatakan pacuan perujukan pada penulis-penulis yang sudah malang melintang di dunia persilatan cukup lama, itu bisa dijadikan sebagai titik pijak awal, untuk terus menambah dan mengembangkan gaya kepenulisan kita menjadi baik dan terbaik. semua ide, semua pembahasan, semua gaya kepenulisan itu sudah ada semua sejak lama, kita sekarng bukan berposisi sebagai “penemu”, melainkan sebagai “pengemas” atau “penyusun”, karena ilmu sudah bergletakan dimana-mana, dan tidak dipungkiri pada saat ini semua model tulisan dan ide itu sudah ada semua, dan telah bergaluntungan pada pikiran manusia. Lantas apa yang menjadi sasaran utama kita? Dimanakah kita berposisi?
 Yang harus dipikirkan pada kedirian kita dalam menulis ialah Bagaimana kita membuat tulisan yang mempunyai kemesan yang berbeda, mempunyai nilai manfaat yang tinggi, dan mempunyai fungsi universal. kalau kita hanya berpikir pada karakter dan kreativitas kita sendiri, maka saya akan merasa yakin, kita hanya akan terpenjara dalam "KOTAK KREATIVITAS YANG MATI". tidak munafik buat kita, bahan pertimbangan, bahan rujukan, bahan refrensi itu penting. Apalagi penulisan ilmiah, tanpa refrensi maka itu semua adalah buruk. Terkecuali kita hidup di zaman Anselmus, Imam Ghozali, Imam Ays'ari, Abdullah al-Bahili, Amr bin 'Ubaid, Hasan Al-Basri atau lebih tua lagi Aristotels, Plato, Socrates, dan sebagainya. Nah, kalau mereka mempunyai titik pijak gaya masing-masing, karena pada saat itu belum ada rujukan yang sesuai, tapi mereka pun masih melihat bagaimana bentuk gaya penulisan yang sesuai dan yang mudah dicerna oleh masyarakat, mereka tidak egois dengan gaya kepenulisan yang ada dikepalanya, mereka harus adil melihat semuanya (sebelum menulis). Mereka lakukan, melalui penilikan pada kebiasaan manusia atau masyarakatnya. Pendeknya, tata cara kepenulisan mereka harus kita masukan sebagai bahan pertimbangan dan perbandingan, karena pembendaharaan kata akan lebih variatif ketika kita menguasai berbagai macam gaya model tulisan, tidak menggunakan metode asal-asalan.

Jadi sekali lagi ditekan-kan, segala sesuatu harus ditempatkan pada tempatnya, apalagi masalah menulis, karena yang namanya tulisan juga butuh keadilan. Kita harus bisa berlaku adil ketika kita menulis, tidak mungkin kita menulis penulisan ilmiah tapi menggunakan gaya bahasa atau metode penulisan cerpen, dan tidak mungkin juga kita menulis puisi dengan gaya penulisan ilmiah. Jadi segala sesuatu sudah pada tempatnya. Nah, dalam hal ini biasanya ada pertanyaan yang mengglitik, yaitu, lantas bagaimana dengan penulisan novel, kadangkala novel bergaya puisi? Jawabnya, itu tergantung bagaimana penempatan posisinya. Yang namanya sastra itu kan sifatnya BEBAS. jadi apa saja boleh, kalau penulisan novel yang bergaya puisi, itu hanya bergaya, dan lebih condong ke gaya bahasa puitis, karena yang lebih ditekankan setting bahasanya yang tinggi. Tapi metode penulisan tetap metode penulisan novel. Kalau gaya bahasa apa saja boleh dan bebas. Yang keliatan tidak adil dan ngawur, ketika methode penulisan diterapkan pada satu penulisan yang tidak sesuai, itu bukan pada tempatnya. Dan seharusnya dalam menulis bahasa yang dipakai harus sesuai dengan ide dan alur yang ada. Yang paling penting lagi, ialah bagaimana kita memperhatikan kata per katanya, kalimat per kalimatnya, dan paragraf per paragrafnya, agar tdak pemborosan kata-kata dan supaya alur menjadi koheren, serta ide juga bisa tersampaikan dengan baik, pesan-pesan bisa terserap ke para pembaca (Itu yang paling penting!!!). Jadi dalam bertutur juga diusahakan konsisten, dan semuanya disesuaikan dengan alurnya. Untuk para penulis, tenang saja sangat banyak gaya kepenulisan yang bisa kita pelajari, dengan bentuk gaya bahasa yang berbeda-beda Nah, oleh karena itu kita harus berpangku bahu dengan penulisan-penulis yang lain juga (Baca buku agar banyak pembendaharaan kata yang masuk). Biar tulisan kita tidak monoton. Kesimpulannya, tidak menjamin satu gaya bahasa bisa pas pada semua porsi. Intinya tergantung bagaimana kita mengemasnya saja, yang penting ada sebuah keadilan dalam menulis. Keadilan pada ide yang kita usung, keadilan pada kata yang kita gunakan, keadilan pada gaya bahasa yang kita terapkan, keadilan pada hati yang kita rasakan, dan keadilan dari tema yang kita pasang.

SELAMAT BERKARYA, DAN BERKARYALAH SEBELUM KITA DIKARYAKAN.
SALAM KARYA
Terilhami dari diskusi kemaren di catatan, "PENULIS BAGAIKAN tuhan-tuhan kecil MEREKA"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..