Selasa, 05 April 2011

Istana Kecil Kita


Istana Kecil Kita

Seandainya saja aku bisa meminangmu sekarang mungkin tak jadi persoalan, tak semua orang tua memiliki pandangan sama, belum lagi masyarakat kita masih belum bisa menerima pernikahan diusia muda. Layaknya aku seorang mahasiswa semester lima di salah satu perguruan tinggi di bogor.
Tak ada niat di hati ini meski secuil ujung kuku untuk mempermainkanmu, tak ada keboongan di hati ini untuk membodohimu dengan segala perhatian yang kuberikan tiap hari, ditambah lagi kau gadis terhebat yang pernah kutemui. Jangankan untuk merestui kata-kata konyolku untuk menikahimu, mendengar usia kita yang terpaut lima tahun saja sudah pusing mereka dibuatnya. Berbagai macam alasan keluar dari seluruh anggota keluarga besar yang mendengar, yang gak usah macam-macam dululah, fokus kuliah dululah, jauhi zinalah, sampai pada akhirnya yang terdengar usia kalian terpaut sangat jauh.
Seandainya saja mereka melihatmu secara langsung seperti mata, kepala, kaki, tangan dan tubuh ini memandangmu alangkah berbedanya dirimu dengan usiamu. Aneh rasanya, mendengar ucapan mereka saat pertama kali melihatmu pada foto wisuda paman, mereka bilang kalau aku tak boleh memacari anak SMA. So, mereka menagnggapmu anak SMA, tapi setelah mengtahui umurmu di atasku lima tahun komentar miring mereka semakin nyaring didengar.
Kau dibilang tante-tnte genitlah, tak tahu dirilah menikahi brondong hingga dikira kau tak laku-laku makanya mencari anak bau kencur seperti aku. Rasulullah menikahi Siti Khadijah yang terpaut usianya lebih tua dari beliau, tak peduli berapa umurmu tapi pastikan kedewasaan yng mengikutimu. Seperti yang banyak orang lain tulis di status facebook “Tua itu pasti namun dewasa itu pilihan.” Kau sangat mengerti kondisiku, tak ada yang memandangku seperti engkau memandangku. Cibiran orang kau jadikan semangat untuk membuktikan, tudingan orang kau jadikan motivasi dan lebih hebatnya lagi kau mau memaafkan mereka dengan memperlakukan kejahatan orang lain dengan kebaikanmu.
Apa salah jika aku sanggup menikahimu dengan bekal segala kerendahan hatimu? Apa menikah diusia muda pada setiap orang itu sama? Apa menikah itu seperti mengunyah permen karet yang bisa dinikmati hingga rasa manisnya habis kemudian dibuang seenaknya?
Kesendirianku kini tak lebih dari sekedar curahan hatiku untukmu, yah, kau yang sudah terbaring di dalam pebaringan terakhir, yang tak lagi bisa bercengkrama di dunia nyata seperti ini. Ragamu lebih dulu meninggalkanku tapi jiwamu kuyakin masih bersanding denganku. Mungkin kau bisa mendengarnya dari atas sana, aku ingin memakaikan cincin perak seharga lima ribuan ini di jemari manismu. Masih ingatkah dirimu saat itu? Saat kau menunjuk sebuah cincin yang kau taksir saat kita jalan-jalan di Kota Tua. Namun aku tak menggubrisnya, karena aku ingin memakaikan cincin itu ketika aku melamarmu.
Begitulah dirimu, wanita sederhana yang tak peduli berapa harga sebuah barang namun jika sudah suka dengan barang itu tetap akan diingat. Apa pun yang kau kenakan selalu pantas, dari caramu memakai jilbab, berpakaian, bersepatu hingga tas kau sesuaikan dengan tema hari itu. Kadang tema bajumu mengikuti warna hatimu yang berubah-rubah, tak jarang kita mengenakan baju berwarna sama.
Bisakah aku meminangmu malam ini? Aku ingin menikah di usia muda hanya denganmu, wanita yang takkan pernah bisa aku lupakan, kemudian memiliki keluarga kecil yang kita bangun sendiri. Aku ingin menjadikanmu istriku satu-satunya di singgasana hati ini, tak ada yang bisa menggugatnya, melerainya dan memaksaku untuk melepaskan kenangan bersamamu.
Seperti katamu “Tak perlu mengatakan apa-apa, cukup pembuktian saja maka mereka akan melihatmu.” Lihat sayang aku mengenakan pakaian yang pantas untuk melamarmu, sudah ganteng bukan? Apa ada yang kurang? Kemeja, sepatu, dan suasana kamarku? Bagaimana Sayang? Seperti biasa penampilanku selalu menjadi fokus utamamu sebagai peƱata busana pribadiku. Aku harus ganteng seperti Tom Cruise pada hari ijab qabul ini.
Prosesi akadku berlangsung meriah, seperangkat alat solat, saksinya boneka-boneka kesayangmu, penghulunya teman-teman di dunia maya, dan sebuah cincin untuk yang tercinta, kamu An. Tak lupa diiringi lagu-lagu favortmu, Dygta-Karena Ku Sayang Kamu, Kahitna-Tak Sebebas Merpati dan Potret-Trocadero. Malam yang romantis, hanya ditemani alunan musik, tiga batang lilin, tak ada lampu dan cahaya bulan yang menyinari kamarku.
Mulai detik ini, aku sudah menikah denganmu dan komitmenku sebagai bata pertama menjadi pondasi istana kecil kita ya Sayang. Selanjutnya akan kita susun bata-bata itu menjadi istana yang megah dibuat dari seuntai benang pengikat hati, segenggam kasih, sekeping kejujuran, kepercayaan, kesetiaan dan pembuktian.
Yap, pembuktian paradigm orang lain tentang menikah muda, pembuktian kebenaran dari cara pandang yang salah dan membuktikan aku mencintaimu karena Allah yang mempertemukan kita. Menikah di usiaku menginjak 21 tahun, tak ada keraguan untuk mundur dan tak ada bara yang akan padam.
Janjiku untuk mengukir senyummu setiap saat takkan pernah lupa, bahkan reminder di Blackberryku “Bersemangatlah, ukir senyum di wajah yang tercinta.” Langkah kaki semakin ringan, tak lupa berpamitan denganmu dan mencium keningmu dalam figura setiap hari. Indeks prestasiku meningkat pesat bahkan aku sendiri tak mempercayainya, mungkin doamu tak pernah putus untukku di sana. Lomba-lomba penelitian dan karya tulis yang kuikuti semua jebol, namaku terangkat Sayang. Dosen-dosen sering mencariku untuk mengajakku dalam proyek-proyeknya dan sekarang Mama mulai menanyakanmu “Bagaimana kabar Ananda?”
Sabar ya Sayang, Mama belum tahu keberadaanmu, Mama belum tahu kepergianmu. Aku akan membicarakannya esok saja, setelah acara wisudaku berlangsung. Kamu jangan lupa datang ya Sayang, pakailah baju yang paling indah agar kecantikanmu melebihi Paris Hilton. Aku harus bersiap untuk acara esok, menghafalkan pidato singkat sebagai mahasiswa berprestasi, tiga semester berturut-turut mencapai IP 4. Alhamdulillah, itu berkat doamu Sayang, terimakasih.
“Sabil, mana Anna? Kok dia tidak datang hari ini? Apa kamu tidak memberitahunya?” Pertanyaan Mama seperti petasan saja bertubi-tubi.
Kepalaku tertunduk, toga yang kukenakan hampir basah dibuatnya, air mataku mengalir begitu saja tanpa permisi. Aku coba menjawabnya, menatapnya dan melihat jauh ke dalam matanya “Ma, Anna ada di sini, dia bahkan tahu lebih dulu daripada Mama dan Anna juga yang memaksaku untuk memberitahu Mama sesegera mungkin kelulusanku.”
“Lho, kok kamu malah menangis Bil?” Kebingungan nampak dari wajahnya, diseka air mataku dan mencari-cari sosokmu.
“Dia ada di sini Ma.”
“Iya, dimana tapi?”
“Di samping Mama dan mencoba memeluk Mama sejak tadi Ma.”
“Ah, kamu ngaco! Ada apa sebenarnya Bil?”
“Anna sudah meninggal Ma, dia meninggal saat adek memaki-makinya lewat komentar di facebook dan keluarga kita mojokin dia dengan komentar-komentar miring tentangnya Ma. Termasuk Mama.” Seperti ada yang ingin meloncat keluar dari hatiku, tak bisa kutahan dan begitu terlepas kata-kataku mungkin bisa menyakiti hati Mama.
Mama terdiam lamaaaa sekali, memintaku meneritakan kejadian 1,5 tahun lalu dimana kecelakaan yang menimpamu terjadi. Tergambar jelas diingatanku mobil dari arah yang tak kau lihat datang tiba-tiba dan menabrakmu saat kau lari menangis di bawah hujan malam itu. Meskipun aku mengejarmu takkan mampu menahan maut untuk merenggut nyawamu. Mama masih terdiam. Satu persatu menetes air matanya. Mama menunduk dalam, menyesali sikapnya dan perkataannya padamu.
Sayang, aku juga menceritakan pada Mama perjuangan kita selama ini, masalah-masalah yang kita hadapi, kamu yang kabur dari rumah, kita berjualan pulsa dan  Empek-empek, promosiin pulsa dan empek-empek lewat facebook, mengantarknnya ke kost teman-teman, menemaniku belajar sampai aku bisa mendapatkan prestasi tinggi serta yang paling penting pernikahan kita malam itu.
Semua kuceritakan dan kau dengar sendiri bukan “aku bisa melalui ini semua karena selalu ada Anna yang mau melihatku dengan hatinya Ma.” Dia yang mengajariku apa artinya melihat hati seseorang bukan fisik, dia yang mengajariku artinya persahabatan, kasih sayang, kedewasaan, kesederhanaan dan menjadi yang terbaik. Anna bahkan memintaku untuk terus semangat dan tak putus asa membuktikan pada Mama dan yang lain kalau kita bisa melalui ini semua dengan hati senang.
Senyum Mama terukir diwajahnya Sayang, Mama meminta maaf padamu, mungkin sudah terlamabt tapi aku yakin kamu pasti mau memaafkannya bukan? Guess what, Mama merestui pernikahan kita ini, sujud sukur langsung aku di tanah, tak peduli apa kata orang melihatku begitu.
Sekarang kamu harus tersenyum dan tetap setia menaminiku hingga kita bangun istana megah itu agar semua orang bisa masuk ke dalam istana kita ya Sayang. Aku mencintaimu selamanya, Alalh yang mempertemukan kita maka Allah jua lah yang memisahkan kita.

(Sabil Ananda)
5 Maret 2011



©Sabil Ananda_Istana Kecil Kita_diikutsertakan dalam lomba pernikahan dini
oktavianaa@yahoo.coom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..