Minggu, 13 Maret 2011

Tak Sekedar Inspirasi

Makananku malam ini "sakinah bersamamu", lampu ingin dimatikan saja rasanya biar tak ada lagi yang mengetuk pinttu kamarku. Tapi mana mungkin membaca saja sulit,, *ingat ini bukan sekedar iklan* tapi memang benar membaca dalam keadaan gelap sangat susaahh, tak percaya?? Silakan dicoba!
Makananku kali ini agak berat, bukan dari ukurannya, tapi dari isi dan bumbu yang tercampur lezat di dalamnya. Untuk ukuran umurku isi ini sama sekali tak masalah, mungkin bagi sebagian teman-temanku makananku sungguh bergizi, lengkap, bermanfaat dan memperkaya pengetahuan akan pentingnya pernikahan.
Tandatangan yang menghiasi halaman depan membuatku berfikir sejenak., seandainya saja tandatangan ku juga ada di setiap buku yang ku tulis. Pastilah senang penikmatnya layaknya aku yang punya buku bertengger tanda tangan penulisnya.. "Asma Nadia", penulis buku ternama yang tak mungkin kalian tak kenal, apalagi Film RTJ alias Rumah Tanpa Jendela sudah bertebaran dibisokop-bioskop kesayangan anda. Don't miss it! *seperti marketingnya saja saya ini* :D
Sejak dulu, kakak pertamaku selalu menghadiahkanku novel-novel karangan Asma Nadia. Semua itu masih tersimpan dengan apik di kumpulan buku bergenre novel, cerpen dan majalah. Ada Aisyah putri pertama, bercover biru, seperti warna kesukaanku., judulnya Aisyah Putri: Chat For A Date kalau tak salah, karna aku tak mungkin membongkar kembali novel-novel itu satu persatu. Buku yang pertama kali terbit, belum ada revisi atau cetakan ulangnya, so... Aku menikmatinya, bahkan sejak saat itu aku membuat email aisyah_putri di salah satu situs jasa internet.
Aku sangat ingin menjadi seperti Aisyah putri, uda cantik, baik, rajin, pintar, supel, banyak teman dan disayangi kakak-kakaknya. Ceritanya mengalir seperti aku mengimajinasikan diriku yang ada di dalamnya, dialog demi dialog aku baca dengan intonasi yang ku ucapkan berbeda dari cara bicaraku biasanya. Intonasi dengan berbagai macam karater di dalamnya. Aku suka dan aku menyukainya.
Buku itu menemani hari-hari ku di kelas 3 SMP, menjadi wanita seperti Asiyah putri. Dulu bagiku amat susah mendapatkan rangking 10besar, kini juara I pun di akhir caturwulan bisa ku dapatkan. Entah bagaimana magicnya, dan TRINGG!!! I get my 1st rank.
Aneh memang, tapi begitulah kenyataannya, aku addicted dengan cerita-ceritanya. Belum selesai sampai di sana, buku Aisyah putri 2 keluar dengan cover oranye. Kakakku juga sering membawakan majalah islami begitu, sejak saat itu aku mulai mengenal Asma Nadia lebih dekat. Karya lainnya juga ku baca, penulis lainnya juga bagus. Walau sebetulnya aku kurang begitu suka dengan cerita bersambung yang ada di majalah tersebut, penasaran dibuatnya, mau tak mau harus menunggu terbitan selanjutnya dan itu yang gak ku suka. Aku lebih menyukai novel yang sudah jadi utuh dan gak harus menunggu terbitan berikutnya.
"Wo, besok beliin Aisyah putri 2 ya" bujukku waktu itu.
Soalnya untuk pelajar seperti aku tak kan mampu membelinya, uang pemberian ibu tiap hari saja hanya 5000, cukup cuma buat ongkos dan jajan aja.
*wo itu untuk panggilan kakak cewek pertama di daerahku, palembang.*
"Nih, buku Aisyah putri 2 nya" seru kakakku saat masuk ke kamarku esoknya.
Asik, asik, asik... Aku punya 2 buku Aisyah putri, apalagi kali ini isinya? Hatiku semakin ciut dibuatnya, goresan pena mba Asma begitu indah, aku iri dengan sosok Aisyah putri yang tergambar di sana. Ceritanya sungguh membuat wajahku berubah berkali-kali.
Aku ingin bisa menceritakan diriku seperti buku ini, aku ingin semua orang tau tentang keluargaku, yang tak biasa, agar semua orang bisa mendengarkan ceritaku.
"Jangan Jadi Muslimah Nyebelin" ku beli saat aku di kucilkan di sekolah, sekolah yang begitu "WAH!!". Dimana saat SMA harusnya masa yang paling indah, menjadi masa yang paling tidak ingin ku ingat. Dan aku membenci saat itu, tak peduli seberapa menterengnya namanya. Menyebutnya saja pasti kalian akan berfikir "hebat dong, kan isinya anak-anak pinter, anak-anak gaol". Yeah,,,itu mereka tidak denganku, "aku selalu berbeda dengan yang lain" itu prinsipku sejak dulu.
Tak ingin disamakan dengan yang lain dan memang aku berprilaku layaknya bunga mawar putih yang tanpa sadar tumbuh diantara luasnya kebun mawar merah. Indah bukan?? Karena perbedaan itu yang membuat ku uniq dan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Setiap buku Asma Nadia terbit, saat itu keadaanku membutuhkannya,  "Aisyah Putri*; Jadian Boleh Dong", buku itu hadir menemani hari-hari indahku. Saat aku dekat dengan seseorang, hati berbungai-bunga, indah rasannya, setiap hari berasa sabtu-minggu terus. Masa kuliahku menyenangkan, aku terbilang "playgirl", itu yang teman-teman bilang, saat tau aku selalu berganti supir untuk mengantarkanku kampus tiap bulannya.
Mereka semua salah, aku tak pernah memiliki ikatan dengan cowo-cowok itu, aku hanya BERTEMAN! That's it! Gak lebih. Apalagi, buku itu kugenggam erat saat kuyakini pacaran dengan banyak cowo bukanlah solusinya. Tapi aku bukan tipe pembual yang pandai berbicara dan meluruskannya. Aku hanya punya Allah, yang selalu mengetahui apapun yang dilakukan hamba-hambaNya tanpa terlewat dan tak kan bisa tersembunyi.
So, I just prove it! Sampai mereka tahu, aku sudah dekat hanya dengan satu pria, 3,5 tahun lamanya kami bersama, walau pada akhirnya putus juga. Tapi dalam hidupku tak pernah ada kata menyesal, karena penyesalan bukan sikap yang baik, itu hanya akan merusak dirimu. Malah aku jadikan waktu yang tak sebentar itu jadi pelajaran hidup yang takkan bisa kalian beli dengan uang.
"Bil, nih gw pinjemin buku La Tahzan For Broken Hearted for Muslimah" suara lisa mengagetkanku. Lagi-lagi Asma Nadia pikirku, buku itu ku baca baris demi baris, lembar demi lembar hingga habis ku telan mentah-mentah isinya. Tak perlu bersedih kawan, itu bukan akhir segalanya, tapi awal dari pintu kedewasaanmu yang lain, dimana hanya ada pelajaran akan kesalahan, keegoisan, juga kebohongan.
Basaaaaahhh,, tak terasa tumpah sudah yang lama ku tahan. Sejak hari tak ada lagi dia aku tak menangis sedikitpun, ku hanya berfikir lekat-lekat, mencari dimana letak kesalahanku, dimana kurangku, begitu terus hingga 3 hari lamanya tak ku pejam mata ini. Tak terasa lelahnya mata, laparnya perut dan bodohnya aku!
Aku menulis lagi,, Coretan pertama berisi semua yang indah-indah, saat dekat dan kami mulai berpacaran. Goresan kedua segala amarah dan pertanyaanku "KENAPA", sungguh aku tak mampu menjawabnya, walau hanya satu. Lembar ketiga hanya bait-bait puisi yang melingkar mesra dalam lembar putih itu.

-Ku Kecil, Bintang-

Aku sendiri saat itu,
Berteman debur ombak juga putihnya pasir,
Tak kundang kau datang,
Membuat aku jadi terdiam
Kecil, aku
Aku memang kecil, tubuhmu yang besar menenggelamkan aku
Bintang juga kecil, tapi langit menemani bintang meski luas begitu
Kau suka senyumku, menghiasi harimu bukan
Bintang tampak indah, bersinar begitu terang
Tapi ketika langit marah, bintang redup, hilang
Senyumku sirna tampa peduli itu salahmu

Tak sengaja ku lirik buku punya laras kali ini "Cinta Diujung Sajadah", aku terdiam lamaaaaa sekali. Sudah sebulan ku pendam sendiri meski banyak teman yang melihat perubahanku, tapi aku belum mengadu padanya. Dikeheningan malamMu, kuberanikan diri untuk menceritakan isi hati tanpa ampun. Tak terkontrol dan yang ada hanya isak tangis menggemparkan kesadaran di ujung sujud terakhirku.
Tak lupa ku selipkan kata cinta untukNya, bahwa aku mencintaiNya karena nikmat yang tak bisa aku dustakan walau hanya hembusan debu sekalipun. Tersadar kembali bahwa aku masih bisa bernafas walau sudah tak ada dia.. Isak tangisku membangunkan laras malam itu.
"Bil, Allah menantimu sebulan lalu untuk bercerita diujung sajadah itu, tak usah kau pendam amarahmu sendiri. Biarkan Allah yang merengkuhmu agar kau aman dalam dekapanNya, biarkan Allah yang menemanimu dalam menggapai citamu, biarkan Allah yang menjadikanmu cantik dalam kedewasaanmu agar kau mengambil hikmah dari tiap masalahmu" ujar laras menenangkanku.
Lusuh buku tulis ini, kubiarkan air mata menetes di tiap helai halaman buku ini, kubiarkan basah hingga mengering dengaan sendirinya. Sebagian bilang buku diary, tapi buatku buku ini nyawaku, yang begitu lekat dengan kejadian masa susah dan senangku, kisah hidupku sejak ku mengenal Aisyah Putri. Taak peduli seberapa murahnya buku ini,tapi begitu mahal isi didalmnya. Seperti aku, tampak biasa saja tapi aku luar biasa di dalamnya. (Ucapan penghibur diri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..