Rabu, 09 Maret 2011

Self Publishing Fever


Menulis memang sangat menyenangkan pastinya untuk semua orang yang melakoninya, seperti saya contohnya, entah apa saja yang terjadi dalam hidup saya, semua tertulis mesra dalam kutipan yang mengadu. Bukan sekedar curhat belaka tapi lebih tepatnya mengabadikan tiap kejadian menjadi nyata. Tak jarang sebuah tulisan bisa menjadi insipirasi buat orang lain, introspeksi, menghibur hati maupun informasi yang diperlukan.
Walau tidak sebagus goresan Asma Nadia, Bunda Pipiet Senja dan Habiburrahman el-Shirazy, tak ada salahnya menulis untuk kekayaan pribadi. Memang tak dipungkiri seorang penulis sangat ingin coretannya dibaca oleh penikmatnya. Bisa jadi, penikmatnya memberikan komentar, saran maupun kritik membangun.
Sekarang Self Publishing menjadi demam dikalangan para penulis, layaknya Justin Bieber yang baru muncul tiba-tiba mem-booming. Semua wanita keranjingan ingin menyaksikan dari dekat sentuhan lirik dari mulut sang penyanyi bertalenta itu. Semua itu mudah sebenarnya, tapi langkah seperti apa yang ingin diikuti, tahapan seperti apa yang harus dilewati agar menerbitkan buku sendiri menjadi kenyataan. Self Publishing bukan sekedar mimpi kawan, jangan biarkan kreativitasmu dimatikan oleh komentar editor yang bilang tak layak untuk naik cetak lah, musti belajar menulis lagilah, atau omongan usil yang mengubur impian dahsyat kita menjadi seorang penulis.
Dari namanya saja sudah dipastikan, untuk menerbitkan buku sendiri semua-mua nya yah dari si penulis tersebut. Mulai dari bikin konsep produksi sampe selesai produksinya alias penjualannya (marketing). Konsep produksi bisa dari nyetak bukunya, apa mau ngeprint sendiri, taruh dipercetakan, kemudian pemilihan cover, desain covernya sampai bentuk buku yang ingin dicetak seperti apa.
Media semakin canggih, tak melulu harus melakukan secara konvensional, bisa menggunakan internet untuk produksi hingga marketingnya. Bisa meminta bantuan teman yang jago nge-desain, bisa mencari di “mbah google”, bisa menjadi teman para penulis agar bisa mendapatkan tips-tips bermutu seperti fanspagenya Asma Nadia, Isa Alamsyah, Helvy Tiana Rosa dan penulis lainnya.
Ada juga penerbit yang mau membantu menerbitkan buku kita dengan syarat-syarat tertentu yang mereka ajukan seperti http://www.pro.indie-publishing.com/.  Ada juga penerbit yang mencari penulis dengan kategori-kategori yang mereka cari seperti Bentang Pustaka. Dan banyak penerbit yang mau membantu secara gratis tanpa syarat yang memberatkan seperti Leutika, nulisbuku.com dan banyak lainnya.
Dari informasi yang saya baca maupun saya dengar, posisi yang paling menguntungkan adalah penerbit kebanyakan, karena penulis hanya terima beres dan berarti penulis hanya mendapatkan beberapa persen dari hasil bersih. Alasan Self Publishing yang mungkin bisa ditelaah dan dipikirkan kembali oleh para penulis:
Ø  Adanya pengalaman
Dimana-mana mencari pekerjaan dibutuhkan suatu pengalaman, tidak ada salahnya dan benar adanya jika saat di CV dituliskan pengalaman kerja : Self Publishing. Aneh memang, tapi menerbitkan buku sendiri sama saja kita me-menej diri kita untuk melakukan hal baru yang membutuhkan keahlian khusus. Seperti membuat buku, seharusnya itu pekerjaan editor, orang yang musti kuliah di sastra dulu mungkin? Memasarkan buku, butuh seorang marketing handal yang mungkin harus duduk dibangku management or accounting maybe??
Ø  Kepuasan lahir batin
Yeah, kepuasan saat buku yang kita buat terbit dan dibaca khalayak ramai. Belum lagi ekspresi wajah mereka yang berubah saat membaca alur cerita yang mengalir dari buku yang kita buat. Teringat kenangan saat menulis cerita-cerita di dalamnya, saat mengedit cerita demi cerita, dibaca kembali, dibuat sedemikian bagusnya agar pembaca merasakan emosi yang tercurah saat tulisan itu kita buat. Yang paling penting, ada nama kita di sebuah buku. Wow,, it’s an amazing!!
Ø  Tidak tergantung
Seperti yang saya katakan di atas, untuk penulis amatir seperti saya, belum tentu penerbit seperti bentang pustaka, asma nadia publishing house, mizan dll mau menerima karya saya. Apalagi saya belum pernah menerbitkan satu buku pun, hanya bisa bermain kata-kata dalam imajinasi yang hilang kemudian pergi. Kalau menerbitkan buku sendiri semua terserah kita, mau bagaimana isinya, bentuknya maupun cara kita ngejual, tidak perlu khawatir. Just do it for youself!
Ø  Kebebasan berkarya
Layaknya menulis cerpen, puisi, skrip sinetron, itu semua adalah karya seseorang. Tak peduli apa kata orang, tulisan itu merupak sebuah karya. Seperti sinetron di televisi, mau bagaimana alurnya penonton ada saja yang menonton, entah karena ceritanya yang bagus, penonton gak punya kerjaan lalu adanya sinetron itu lalu ditonton, atau sekedar iseng.
Self Publishing menjadi bermakna ketika cerita yang kita buat benar-benar asli dari awal kita menulis, bukan editan sang editor karena ceritanya aneh, kata-kata yang rumit atau apalah. Setiap orang itu tidak sama, manusia yang kembar saja tidak memiliki pandangan yang sama. Begitu juga dengan pemikiran setiap orang, mungkin ada yang mengerti dengan bahasa baku, ada yang enjoy dengan bahasa elo-gue, ada yang tersentuh dengan kalimat menyentuh, dan gak sedikit orang yang senang berbahasa berbelit-belit baru ke intinya.
Ø  Financial yang lebih menguntungkan
Saya pernah ditawari untuk menerbitkan buku dari sebuah penerbit bisa juga jadi acuan untuk para penulis bagaiman alurnya, saya copy kan beberapa paket yang ditawarkan dengan syarat dan ketentuan seperti ini:
CARA PENGHITUNGAN HARGA BUKU & ROYALTI
Rumus Harga jual buku:
Biaya produksi + Royalti yg diinginkan penulis + Fee penerbit  = Harga buku
Catatan:
·         Biaya produksi tergantung faktor tebal tipis buku setelah dilayout.
·         Ukuran buku standar: 14 x 21 cm
·         Anda bisa menentukan sendiri berapa rupiah royalti yang Anda mau
·         Fee Penerbit = royalti yang diinginkan penulis (persentase 50 : 50)
Contoh:
Harga jual sebuah buku akan ditentukan oleh 3 hal yang disepakati antara Penerbit dan Penulis. Untuk buku setebal 100 halaman, jika biaya produksinya Rp 30.000 dan Royalti yang diinginkan oleh penulis sebesar Rp 2500, maka fee untuk Penerbit juga Rp 2500. So, harga jual buku tersebut adalah Rp 35.000 (Biaya Produksi Rp 20.000 + Royalti Penulis Rp 2500 + Fee Penerbit Rp 2500 = Harga jual Rp 35.000)
Ketentuan Penjualan Buku:
·         Buku-buku yang diterbitkan oleh Penerbit hanya akan dijual via online di situs Penerbit Publishing.
·         Biaya kirim buku ke tempat pembeli/penulis disesuaikan dengan biaya kirim paket melalui jasa pengiriman JNE.
·         Hasil penjualan akan dilaporkan tiap bulan kepada penulis.
·         Penulis diharapkan  bisa mempromosikan buku karyanya sendiri lewat jejaring sosial miliknya seperti FB, blog dan komunitas lainnya.
·         Laporan penjualan buku akan dikirimkan via email setiap 2 bulan.
·         Pembayaran royalti penjualan akan ditransfer setiap 2 bulan

Ø  Nilai Plus
Seorang dosen di suatu perguruan tinggi ternama saja butuh diakui dengan membuat sebuah buku, entah sang dosen buat sendiri baru dengan begitu sang dosen memiliki nilai plus dimata mahasiswanya. So, jangan ragu-ragu nerbitin buku sendiri ya!

2 komentar:

  1. Halo Anna,

    Abis baca posting Anna yang ini jadi pengen nerbitin buku deh. Meskipun tulisan Gita nggak bagus, Gita suka banget nulis dan punya mimpi pengen jadi penulis hehehe. Cuma nggak pede banget kalo mau ngirim tulisan ke penerbit. Tapi sekarang udah ada self-publishing program kayak gini rasanya bakal banyak ya penulis Indonesia yang mulai pede untuk nerbitin karya mereka, apalagi prosesnya relatif mudah. =)

    Good post!

    BalasHapus
  2. Dear gita,,
    kemarin sm leutikaprio anna dibilangin gini,
    "tapi tak ada yg bs menyembuhkan gak pede selain memberanikan diri tampil :)"

    Let's move on!
    saling support juga oke..

    BalasHapus

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..