Rabu, 30 Maret 2011

KUNCI HIDUP TENTERAM.... BISAKAH KITA?????


Sepotong cerita ringan di bawah ini adalah sepenggalan dari beberapa cerita hikmah. Walaupun seperti rekaan, tapi bila dikaitkan dengan Hadits Rosulullah yang dicuplikan, akan terasa dalam maknanya. Mudah-mudahan bisa menginspirasi.

===========

Dahulu kala disebuah perkampungan tinggal seorang nenek yang sudah sangat tua. Kondisi tubuhnya masih sangat sehat. Walaupun usianya sudah lanjut, dirinya masih bisa mencari nafkah sendiri. Walaupun hidup sendiri, dirinya tidak pernah terlihat sedih. Setiap waktu bibirnya selalu mengembangkan senyum dan raut muka yang ceria.

Nenek ini tidak menjadi beban para tetangga, sebaliknya para tetangga menjadikan beliau sebagai tempat mencari jalan keluar untuk berbagai masalah, karena Sang nenek memang terkenal suka membantu terhadap sesama. Beliau akan memberikan bantuan sebanyak yang ia bisa. Kalau memang harus memberikan bantuan berupa materi, ketika ia punya, dirinya tak segan-segan memberikan kepada yang lebih membutuhkan. Tidak hanya orang yang tidak mampu saja yang sering minta bantuan kepada Sang nenek, banyak juga orang kaya bahkan pejabat setempat mendatanginya untuk sekedar meminta nasehat. Masyarakat setempat sangat mengagumi dan menghormati Sang nenek mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua.

Suatu hari, dirinya pun didatangi seorang pejabat desa setempat. Pejabat ini terkenal sangat dermawan. Namun pejabat ini tetap merasakan pamornya kalah dengan Sang nenek. Ia merasakan apa yang dilakukan jauh melebihi sang nenek.
Ia selalu membantu rakyatnya yang kesusahan dan ia merasakan apa yang didapatkannya tidak setimpal. Hatinya sangat gelisah dan pejabat ini ingin mencari tahu apa yang diperbuat Sang nenek sehingga dia mendapatkan simpati yang melebihi dirinya.

”Nenek, aku ingin tahu rahasia nenek sehingga nenek begitu dihormati disini ?” Tanya pejabat.

”Nenek tidak melakukan apa-apa” Jawab nenek dengan gaya khasnya yang selalu tersenyum tulus kepada siapa saja.

”Aku benar-benar ingin tahu nenek. Aku merasakan aku sudah berusaha yang terbaik untuk rakyatku tetapi mengapa aku masih tetap saja gelisah. Bukankah kata orang-orang bahwa yang selalu berbuat baik hidupnya akan tenang”

”Itu betul tuan pejabat” Nenek menjawab singkat.

”Kalau berbicara kebaikan, aku yakin aku jauh lebih banyak berbuat baik dibandingkan nenek. Bagiku bisa membantu orang merupakan satu karunia terbesar yang harus aku syukuri”

”Itu juga betul tuan pejabat”

”Aku bisa merasakan dan sangat yakin hidup nenek jauh lebih tentram dan bahagia dari aku” Tuan pejabat makin gelisah.

”Lagi-lagi tuan pejabat betul” Sang nenek memberikan jawaban yang sama dan pembawaannya juga tetap tenang.

”Mengapa bisa demikian?” tanya pejabat dan air mukanya mulai berubah. Wibawa Sang pejabat hampir tidak terlihat dan berganti sosok yang memelas, yang sedang membutuhkan pertolongan.

”Apakah tuan pejabat benar-benar ingin tahu penyebab kegalauan tuan?” Sang nenek pun melontarkan pertanyaan.

”Iya nek”, balas tuan pejabat.

”Sesungguhnya nenekpun belum tahu apa penyebabnya. Yang bisa nenek lakukan adalah mencari akar permasalahan yang menyebabkan tuan gelisah”. Kali ini nenek berbicara dengan nada yang sangat berwibawa. Dan kewibawaannya semakin membuat si pejabat ciut.

”Baiklah. Nenek ingin bertanya, hari ini tuan sudah berbuat kebaikan apa saja, dan kejahatan atau kesalahan orang lain apa saja yang tuan terima ?” Nenek menatap dalam-dalam, sedangkan tuan pejabat tidak berani membalas tatapan Sang nenek.

Ia tertunduk sedih.
”Hari ini aku telah membantu sebuah keluarga yang kelaparan. Aku terharu melihat mereka menitik air mata saat menerima bantuan dariku. Tapi yang membuatku kesal adalah saat aku menuju kesini. Di tengah jalan aku bertemu seorang yang terpeleset dijalan. Aku menolongnya. Akan tetapi, dia bukannya berterimakasih kepadaku, tapi malah memaki-maki aku dengan kata yang kasar.Katanya, aku jadi pejabat tidak becus. Masa, jalan lagi rusak tidak diperbaiki. Nenek tau? Kondisi jalan sama sekali tidak rusak. Aku benar-benar tidak bisa diterima ketika air susu dibalas dengan air tuba” Jelas pejabat panjang lebar.

”Lupakan itu semua maka hidup tuan akan tenang”

”Maksud nenek?” Tuan pejabat makin bingung.

”LUPAKAN KEBAIAKAN KITA kepada ORANG LAIN dan juga LUPAKAN KESALAHAN ORANG LAIN terhadap KITA”

Akhirnya tuan pejabat pun paham apa yang membuat dirinya TIDAK TENANG dan mengapa hidup Sang nenek begitu dihormati. Tuan pejabat pun berpamitan pulang dan ia telah menemukan KUNCI HIDUP TENTERAM. Setelah itu, wajah tuan pejabat pun selalu terlihat ceria dan mengembangkan senyum. Dirinya pun tidak mengingat kebaikannya dan kesalahan orang lain.

============

Cuplikan Hadits:

Suatu ketika seorang pria bertanya kepada Rasulullah SAW tentang akhlak yang baik, maka Rasulullah SAW membacakan firman Allah:
“Jadilah engkau PEMAAF dan PERINTAHKAN orang mengerjakan yang MA’RUF, serta BERPALINGLAH dari orang-orang yang BODOH.” (QS al-A’raaf [7] : 199).

Kemudian beliau bersabda lagi, “Itu berarti engkau harus MENJALIN hubungan dengan orang yang MEMUSUHIMU, MEMBERI kepada orang yang KIKIR kepadamu dan MEMAAFKAN orang yang ZHOLIM kepadamu.” (Hr. Ibnu Abud-Dunya)

=====
Wallohu a'lamu bisshowaab....

1 komentar:

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..