Rabu, 23 Maret 2011

Goresan Memori di Kotamu

Goresan Memori di  Kotamu
Sabil Ananda
oktavianaa@yahoo.com

Pesan singkat dadakan untuk teman lama yang tak pernah bersua kukirimkan “Sas, aku boleh ya menginap di kosanmu jika aku berkunjung ke Surabaya?”
“Boleh, memang kapan kamu mau ke sini,” balasan yang sepertinya basa-basi.
“Oya Sas, apa nama stasiun yang paling dekat dengan kosanmu?”
“Stasiun Gubeng.
Langsung online diperiksa petugas begitu kusebutkan nama stasiun yang dituju, namun sayangnya tak ada kereta ekonomi yang murah meriah seperti biasanya aku datangi Yogyakarta. Hanya kereta eksekutif dengan harga melambung yang rasanya sama saja seperti kereta ekonomi maupun bisnis. Air conditioning (AC), selimut, bantal dan snack juga tirai yang membedakan eksekutif dengan bisnis tapi tidak untuk ekonomi yang dengan tambahan kursi yang jelas berbeda. Kursi untuk kereta ekonomi lebih keras, alot dan tak disarankan untuk wanita manja; duduk sebangku bertiga, saling berhadapan dengan kursi di depannya belum lagi lutut bertemu lutut.
“Wuih, gak ada Sas. Kalau sama Pasar Turi, piye?”
“Stasiun Pasar Turi jauh Bil, tapi tidak mengapa, wong aku naik sepeda motor kok.”
“Nama keretanya apa Sas yang biasa kamu gunakan bolak-balik dari Jakarta-Surabaya?”
Smsan itu terus berlanjut hingga aku menemukan semua jawaban dan kepastian di Stasiun Kota seminggu sebelumnya, aku langsung membeli tiketnya dari loket bukan dari calo.
Sasi Mahardika dan aku sudah berteman sejak delapan tahun yang lalu, pertemuan pertama yang tak bisa dikatakan sebagai awal pertemuan yang indah tapi sulit dingat oleh kami berdua. Hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, menerka-nerka bagaimana gambaran yang sebenarnya terjadi saat perkenalan pertama itu. Bahkan Nyonya Bambang selalu menanyakan bagaimana kami bisa saling mengenal melihat keakraban kami yang tak biasa.
“Nduk, kalian itu bisa kenal tuh darimana toh?” pertanyaan berulang saat kami tertangkap basah berduaan untuk bercerita seru dan lupa bahwa bulan sudah menutupi langit yang mengelabui mimpi.
Saat itu aku berumur delapan belas tahun dan dia tujuh belas tahun. Walaupun kami berasal dari latar belakang yang sangat berbeda—Sasi memiliki orangtua yang sangat menyayanginya meski mereka hidup sangat sederhana, sementara aku tidak pernah mengetahui betul apakah orangtuaku menyayangiku seperti orangtua pada umumnya—seolah keluargaku bukan masalah bagi kami berdua.
Kekontrasan kami membuat kami menjadi lebih memaklumi arti perbedaan. Aku dulu kecil, biasa saja dan memakai jilbab sejak SD; sementara Sasi dengan rambut panjang yang selalu tergerai mengikuti rambut Nyonya Bamang sepertinya. Dia masih sama seperti yang dulu, belum mengenal dirinya dengan baik seolah pembawaanya yang dulu masih bisa diterima mata lelaki zaman sekarang.
Kini, matanya terbelalak melihat perbedaanku yang sangat jauh dari delapan tahun yang lalu saat dia menjemputku di stasiun Pasar Turi, Surabaya pagi-pagi buta. Aku lebih tinggi, ramping dan kulitku sewarna dengan rok coklat muda yang kupakai. Ideal!
Sasi senang snorkling alias menyelam di dalam laut tepatnya di dasar laut melihat kindahan laut yang tercipta dari sentuhan lembut sang pelukis Agung yang Maha Mencipta tanpa cela sedikitpun; daripada harus berkutat setiap hari di antara tumpukan jurnal, buku dan skripsi-skripsi angkatan atas sebagai contoh untuk membantunya melanjutkan skrispi yang tak kunjug selesai. Sementara aku sangat bahagia berada di antara laptop, buku, kertas, pulpen dan telpon selularku meski jalan-jalan dan berpetualang menjadi hobi utamaku. Tetapi kami selalu menemukan kesukaan kami bersama dalam hal jalan-jalan, terutama mengeksplorasi tempat yang belum pernah kami jajah bersama.
Selama bertahun-tahun kami tidak bersama, waktu yang kami lewatkan untuk mencari ilmu dan pendidikan yang layak untuk otak kami, waktu yang tak pernah kami bertegur sapa kecuali melalui dunia maya dan jejaring pertemanan yang entahlah!  Kami merasa waktu itu kini kembali memihak pada kami untuk berbagi dalam indahnya kebersamaan kami.
Aku lebih suka berpetualang dan hidup nomaden (berpindah-pindah) mencari kesenanganku sendiri. Mencari tempat paling nyaman yang seharusnya adalah rumah sendiri, yang tak pernah kurasakan. Aku orang paling miskin di dunia ini, rumah yang seharusnya menjadi kekayaan batin kini hilang bersama ego dan idealismeku dalam memandang hidup.
Kali ini Surabaya menjadi pilihan utamaku sekaligus menemui teman lamaku, Sasi, melihat kondisinya yang terakhir kudengar kecelakaaan yang menimpanya dua tahun yang lalu. Dadakan merupakan cara terbaik untuk mendatangi sahabat daripada direncanakan namun hasilnya gagal! Pesan singkat yang dikira hanya pertanyaan belaka tak mengandung makna, tapi kini aku sudah menjejakkan kakiku di kota Pahlawan.
“Di mana kosanmu?”  kini aku bertanya, melihat-lihat pemandangan kota yang baru pertama kalinya aku datangi seumur hidupku dari Jakarta.
“Nanti juga kamu lihat kok, santai saja. Nikmati perjalananmu melihat kotaku ini. Pastikan nanti kita mau jalan-jalan ke mana saja aku antar wissss,” promosi Sasi padaku. Gayaku yang norak ala pelancong langsung diketahui Sasi.
“Asiiiiiiik!”sahutku kegirangan dari boncengan belakang.
Kuyakinkan Sasi bahwa aku ingin kebersamaan ini akan kulukiskan dalam sebuah cerita yang nantinya akan dibaca oleh kalian; “Yeah, oleh kalian!!”
“Eh Bil, kok aku jadi tau jalan gini ya pas ada elo,” katanya tiba-tiba membuatku bingung sendiri.
“Bukankah dia sudah lama tinggal di kota ini? Kenapa dia bisa tidak tahu jalan ya?” batinku.
Ditengokkannya kepala ke belakang melihat aku terdiam dengan wajah melongo’ kebingungan dengan penuturannya barusan.
“Sebab aku itu tidak pernah jalan-jalan tau! Paling rute kosan-kampus, kampus-kosan, rute rutin tiap harinya 2 tahun belakangan ini.”
“Oooh. Kirain amnesia udah nangkring di kepalamu. Hehehe.”
“Siaul!”
“Kamu ajak aku kenal Surabaya yah!” pintaku.
“Tunggu saja sampai kamu lihat bagaiman indahnya kota ini. Surabaya mengagumkan!”
Setelah membersihkan diri dari keringat juga kepulan asap rokok dari penumpang kereta semalam kami mulai berpetualang. Semakin menjauhi Wonokromo (letak kosan Sasi), aku berdecak kagum mengagumi kebersihan kota dari jok belakang motor Mio kesayangan Sasi. Tak ada onggokan sampai, sehelai plastik pun tak mewarnai keindahan kota ini. Angin bertiup seiring laju motor, sejuk, tak kurasakan panas seperti pesan Afri padaku sebelum meninggalkan kota hujan. Sebab Afri sempat berpesan padaku, Surabaya itu panas, teriknya saja bikin kulit gosong, badan basah kuyup dan kapok keluar siang hari.
Angin sepoi-sepoi membawa aroma asin air laut dan suara Burung Camar yang terbang berputar menukik di sepanjang pantai. Di bawah kami, di depan gerbang dewa-dewa yang terpampang di vihara dalam Kenjeran Park (Kenpark), Pantai Kenjeran; bibir pantai ini bernama Kya-Kya Kenjeran, membuat pemandangan terhampar di depan mata. Memotret hamparan laut luas yang siap dilahap kamera pengunjungnya. Langit biru yang hidup dan awan putih yang menggumpal tampak sangat kontras dengan bangunan-bangunan juga taman dalam Kenpark. Bangunan di taman ini tertata rapi, monumen yang berdiri
Sedikit tentang Kenpark, dulu terkenal dengan wisata pantai, wisata religi, hingga wisata olahraga dengan tiket masuk terjangkau, hanya dikenakan biaya Rp 2.500,- paling mahal Rp 10.000,- bila menggunakan mobil, jam bukanya tidak terbatas alias 24 jam. Ada Sunbu Siset, berbagai permainan anak-anak, seperti ayunan dan perosotan, pengunjung bisa berkeliling dengan mobil golf berkapasitas 4 orang.
Sewanya, Rp 15.000,- per 30 menit. Bila ingin yang murah sekaligus berolahraga, becak wisata yang tarifnya Rp 5.000,- per 30 menit bisa menjadi pilihan. Di lokasi tersebut, pengunjung harus memarkir kendaraan bermotor. “Pilihannya jalan kaki atau sewa kendaraan yang bebas polusi, seperti becak dan mobil golf ini,” jelas Hari Widodo, manajer Kenpark.
Di Sunbu Siset, juga terdapat pujasera yang langsung menghadap Pantai. Jadi, pengunjung yang datang bersama keluarga bisa bersantai menikmati pemandangan pantai sambil mengudap makanan kecil atau kesegaran kelapa muda. Bila ingin rekreasi murah meriah, wisatawan sah-sah saja membawa makanan dari rumah. Jangan lupa membawa tikar untuk alas duduk.
Selain di Sunbu Siset, utara Kenpark terdapat lokasi pujasera, makanan yang ditawarkan lebih beragam. Mulai rawon, soto ayam, bakso, hingga lontong kupang. Harganya rata-rata Rp 5.000,-. Di sekitarnya, terdapat beberapa kios yang menjual oleh-oleh. Berbagai jenis kerupuk dari hasil laut. Harga yang ditawarkan juga beragam, tergantung jenisnya.
Bersantai sejenak di Kenpark tak lantas membuat kami jadi puas, ajakan selanjutnya meluncur begitu saja dari mulutnya, “Ayo Bil, kita pergi ke tempat yang lebih asik lagi dari ini! Masih banyak tempat selagi matahari baru tenggelam.”
“Baiklah, tapi kali ini ke mana tujuannya?”
“Jembatan Suramadu,” jeritnya membuatku semakin surprise karena tempat itu yang memang ingin kulihat, hanya bisa mendengar lewat berita di televisi maupun radio.
“Berangkaaaaaatt.”
Mio hijau miliknya melaju dengan kencangnya membelah jalan yang agak lengang menuju Jembatan Suramadu, jembatan yang baru dibangun oleh pemerintah untuk memudahkan transportasi dari Surabaya menuju Madura hingga tak perlu lagi menggunakan kapal. Dari kejauhan sudah mulai tampak warna-warni jembatan itu, indah!
“Liat Bil, itu jembatannya!” seru Sasi menunjuk ke arah depan membiarkan mio melaju hanya dengan menggunakan satu tangan.
“Sas, hati-hati! Jalan ini sempit kalau tidak kita bisa jatuh ke bawahnya” kataku mengingatkannya.
“Wah, kita ada di atas Laut Madura Bil!” kali ini pandangannya ke depan tak fokus, sibuk melihat ke arah samping melihat hamparan Laut Madura.
“Iya Sas, aku lihat. Tapi ya kamu jangan begitu nanti kita jatuh,” takutnya aku hingga memeluknya erat dari belakang.
Jalanan khusus motor dibuat seperti lorong agar tidak masuk dalam kawasan khusus kendaraan lain beroda empat, sehingga mau tak mau kami harus berhati-hati. Jarak lorong itu hanya muat dua motor dan di sampingnya Laut Madura. Angin makin kencang, perjalanan semakin jauh dan bensin semakin mendekati garis empty.
“Waduh Sas, piye iki?” khawatirnya aku tak bisa kembali ke Surabaya.
Yowislah, kita cari di sepanjang perjalanan ke depan.”
Awalnya kami masih bisa optimis, namun sudah 15 menit kami tak menemukan pom bensin dan tanda-tanda kehidupan, sepanjang jalan itu hanya jalan gelap dan rawa-rawa. Menakutkan buatku. Maklum saja, aku memang penakut. Kulambaikan tanganku pada motor di belakang yang lewat tak ada satu pun yang mau berhenti. Kucoba lagi sampai ada bapak-bapak yang mau berbaik hati menunjukkan tempat pembelian bensin eceran.
“Hati-hati ya dek, kalian gadis, jangan pulang terlalu malam,” pesannya meninggalkan kami di sebuah rumah yang menjual bensin eceran.
“Iya Pak, makasih ya Pak,” sahut kami berbarengan.
Kami tertawa sendiri mengingat ketakutan kami yang berlebihan, mio terus melaju setelah mendapatkan bensin tadi. Kami berjanji tidak akan seceroboh tadi, bisa-bisa kami tidak akan kembali ke Surabaya dan menjadi korban mutilasi seperti yang ada di koran dan televisi.
Sasi mencontohkan suara “Telah ditemukan dua mayat wanita di sepanjang rawa Jembatan Suramadu dengan ciri-ciri bla.. bla.. bla..”
“Hiiiiii.. Itu sungguh mengerikan!” teriakku.
Malam ini kami bahagia, tak pernah ada rencana untuk kembali bertemu dan menikmati perjalanan yang tidak terduga. Tak terasa ada yang mengalir dari pelupuk mataku, suaraku bergetar mengatakannya, “Aku tidak pernah membayangkan bisa menikmati perjalanan bersama denganmu hingga malam seperti ini Sas,” kusandarkan tubuhku ke punggungnya.

 
©Sabil Ananda_goresan memori di kotamu
oktavianaa@yahoo.coom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..