Sabtu, 26 Februari 2011

cengeng

Kata itu tepat buat gambarin hati ku saat ini,
Bingung jg kenapa,
Kadang aku tuh sok tegar dan kadang suka nyebelin kalo' uda ngerasa gak ada apa-apa.

Mau cerita ke abang tapi tak mampu,
Banyak masalah yang dia hadapi sekarang,
Semester ini kami harus melewati jalanan terjal dan berduri,
Pasalnya abang gagal nunjukkin nilainya ke orangtuanya,

"Bagaimana mau nunjukkin, wong surat dari kampus datang tiba-tiba disaat nilaiku jatuh kabbeh" tandasnya pagi itu.

Abang kabur dari rumah kemarin sore,
Habis di marahi abah sama ambu abang tak lantas pulang,
"Gimana mau sabar, wong semua yang terjadi sama aku ambu selalu mengait-ngaitkannya pada dirimu e' neng"tandasnya lagi kali ini bertambah geram.

Malam kian larut,kakinya melangkah enggan, namun tujuannya makin kuat untuk sekedar melepaskan penat dan peluh yang menetes spontan untuk berteriak.

100 kali selularku mencoba untuk memanggil nomor diseberang sana, tanpa jeda,
Gemass rasanya, kekhawatiranku mulai menggila hingga berujung amarah yang tak terkontrol.

"Neng 'ndi kowe to le le"cemasku dalam hati

Deretan nama di phonebook mengisyaratkanku segera menghubungi mereka, entah siapa...

Dari abjad A hingga Z mulai menggelitikku,
Tak satupun yang ku kenal dekat,
"Wong ketemu mereka belum pernah, piye carane mau kenal mereka"setan usil menjawab kegelisahanku.



"Huuffft"nafas panjang mulai jadi kebiasaanku malam itu, tiap 5 menit rasanya ku ulangi sambil mengelus-elus dadaku yang semakin sesak.

Bukan, bukan karena bajuku yang kekecilan atau ukuran bra-ku yang menahan paru-paru ku berfungsi normal.
Tapi karena rentetan pertanyaan dibenakku yang semakin lama semakin banyak, yang semakin menggelayuti batinku tapi tak terjawabkan.
Dan menit ini sudah 4jam aku melawan kantuk hanya untuk mencari dimana sosok abang sebenarnya.
Lolongan anjing makin mencekam, Ўaŋƍ terbayang hanya maling dengan topeng menakutkan, si tante kunti Ўaŋƍ semakin panjang rambutnya, tuyul Ўaŋƍ keluar masuk cari duit untuk majikannya dan ribuan bayangan aneh lainnya.

"Come on, pick up my phone"harapku Ўaŋƍ ke sejuta kalinya.

Air mataku mengalir berkali-kali hingga kering rasanya tenggorokanku,
Bukan, bukan karna air mata ku bersumber dari tenggorokanku dan juga bukan karena aku menangis meraung-raung.
Tapi kering karena aku lupa seharian tak ku sentuh air putih,
Aneh? Begitulah aku, semua terkaitkan karna sebab yang datang dari satu hal ke hal yang lainnya,

mungkin itu cara pikir orangtuanya,
kalo' nilai anak-anak turun itu disbebakan tiga hal,
anaknya gak belajar, anaknya pacaran mulu dan temenan dengan orang gak bener.
padahal, belum tentu alasan itu benar, ya kan??
bisa saja karena anaknya males belajar yang dimungkinkan pelajaran yang terlalu mudah atau sulit untuk dimengerti,
minat pelajarannya si anak bukan di situ,
masuk kuliahnya tidak sesuai keinginan alias salah jurusan, yang mungkin disebabkan si anak gak tau potensi dirinya yang sebenarnya.
atau alasan terakhir meskipun pacarnya udah hidup-hidupan nyemangati si anak tapi si anaknya aja yang gak mau dan bebal piyeee??? (bukan mati-matian lho ya...)

aku selalu bisa kasih sejuta alasan untuk tiap tetes air mata yang keluar dari pelupuk mata ini,
cengeng alasan utama dan sisanya urusan hati,
mau bagaimana lagi,
wanita cuma punya air mata dan hati,
selebihnya kekuatan yang tidak akan pernah terkira.

Sumpah,,
Berat banget mata ini, sepertinya setan-setan mulai betah menggelayuti bulu mataku yang miris. Karena hampir tak berbulu mataku ini, jadi yah setab-setan itu pasti berebutan agar bisa menggelantung bebas disitu.

Tik tik tik..
Detak jarum jam dinding makin terdengar keras di gendang telingaku,
Suhu kamar semakin dingin walau bermodal kipas angin templok,
Ku rapatkan selimut ala tahanan itu,

Dan sekejap...

tangisanku terhenti,
begitupula air mata yang berubah wujud menjadi belek,
kering dan menempel lekat diantara kelopak mata atas dan bawahnya,,

kini....
Ku terbuai dalam mimpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..