Sabtu, 29 Januari 2011

I hate this feeling

Gw suka sebel dan benci banget sama situasi hutan kayak gini,
Makin panas dan membara layaknya bara yang makin disulut makin menjadi,
Heboh, liar juga mengerikan untuk didengarkan,

Lengkingannya seolah menghancurkan lautan manusia yang berada di dalam nya,
Hampir musnah peradaban hutan dengan ketenangan yang tak pernah muncul dipermukaan, aku benci, hancur dan berlari terus menapik kebencian dari tahun ke tahun. 

Mulutku manis mulus mematikan bagai bisa ular yang melekat pada kepribadianku. 
Setenang air meliuk-liuk melawan derasnya arus menghimpit bebatuan dan mengikis kerasnya batu besar.

Kepribadian gandaku mematikan diriku sendiri nantinya, 
perlahan tapi pasti bahkan aku sudah tau sejak dulu. 
Kenapa harus minder dan tak percaya dengan ucapannya. 

Tak ada salahnya jika ku coba untuk melakukan ucapannya, 
toh mungkin kekuranganku itu bisa menjadi senjata ampuhku dalam melawan kerasnya hidup.
Entah menyakitkan siapapun, 
semua orang pasti melakukan hal yang sama dengan ku dengan cara yang berbeda pastinya.

Jangan kalian kira lelaki sopan, celana cangkring, pemalu dan selalu menunduk tak ada secuil noda di dirinya. 
Jangan kalian yakin, wanita berjilbab panjang, anggun, menutup auratnya dengan segelondong kain gorden menutupi mata hingga kakinya tak punya nilai merah di raportnya.

Kebencianku pada mereka bisa membuka semua aib yang tergambar jelas tepat didepan mata juga bathinku. 
Bahkan tak satu katapun yang tak benar bisa ku jelaskan dari rangkaian kata yang aku kembangkan bagai sayap yang siap terbang dan di caci maki para pemakainya.
Wanita cantik, tinggi, putih, mulus dengan rambut tergerai indah menari-nari dibelakang punggungnya itu juga penuh kotoran yang tak bisa hilang meski di cuci dengan tanah 7x dan bersuci dengan air zam-zam sekalipun.

Kemarahanku sudah memuncak. 
Tak terkendali. 
Kacau. 
Aku benar-benar terbakar. 

Kemunafikan wajah-wajah lugu yang menjijikkan. 
Muak aku, 
muntah rasanya melihat tingkah polah serasa itu hal yang biasa dan wajar sehingga masyarakat lainnya tak berkutik bisa jadi mengikuti gerak-geriknya.

Ketikan ini bukan sekedar tulisan lebay gaya anak alay yang tanpa arah.
Ini sumpah serapah dan aib yang kubeberkan dan merasa tidak perlu pembenaran dari orang-orang munafik macam kalian. 
Toh, kemunafikan kalian tiap hari menyiksa juga menyakitiku dalam diam yang mengeras layaknya tumor.


Gw sangat menyayangkan sikap abah dan ama, tak pernah berubah sejak dulu. 
Aku tak ada dalam daftar prioritas mereka. 
Untuk menyembuhkan luka ku segera, senyum getir dan memasang topeng kepalsuan baik dan I’m fine aku katakan “gpp” pada mereka dengan kecut penuh kecewa.

Kini aku dipaksa menikah, aku benciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……………………………………………………….  11/28/2010 9:55 PM

Sakitttttttttttttttttttttttttt hatiii iniiiii………………………………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..