Sabtu, 27 Februari 2010

Kosong Sob,,

Rimbunan pohon besar-besar tegap tinggi dan menjulang menutupi saya yang bukan siapa-siapa, 
hilang... makin dilihat makin kecil dan tak tampak hingga mata sakit. 
Mungkin mikroskop dapat membantu kalian meneropong jauh kehidupan yang sama sekali aneh 
dan tak wajar, tapi saya selalu menyukainya.

“Mut, lo pindah kelas yak??“ tanya ketua kelasku.
“Ho-oh” singkat padat dan malas berlete-lete untuk menjelaskan, 
karena saya tergolong deretan ke sejuta dari 1000 manusia yang ada di populasi dan sampel mungkin...

Saya memutuskan memutar haluan, dengan harapan kali ini lebih baik. 
Setidaknya, mencoba itu tidak dilarang dan gratis!!!

Mahasiswa gratisan dengan kosan yang selalu berantakan, 
karena hobi istimewa saya merapikan kamar tidur sebelum tidur. 
Berlagak desainer interior ternama saya berkecak pinggang dalam mengatur posisi ruangan, 
lemari, meja, tempat tidur atau sekedar kotak dan box sampah biru imut kesayangan saya.

Malam kian larut,
bahkan kelelawar enggan bersungut-sungut menggantung di depan jendela kamar 
agar segera saya menarik selimut dan menapik kegelauan yang sejak tadi tak bisa hilang.

Henpon smart yang tak berhenti berbunyi itu makin surut suaranya, 
kemungkinan besar para penghuni milis dan group chat sudah terlelap dalam igauan yang membahana.

Tak pelak saya utak atik dan membaca ulang email yang datang dari kawan-kawan. 
Sudah seminggu ini, penghuni milist ribut mencari kawan seperjalanan dengan pembimbing yang sama. 
Kertas pengumuman sudah di tangan, 
tapi dari nama itu tak ada yang saya kenal kecuali Habib, ketua BEM yang baru terbentuk. 
Itupun, kenal di muka, saat masa orientasi peserta (MOP), dan tau nama. 
Nangkring bareng si doi di poon jambu biji pak Aji juga belon pernah, 
begimana mau bisa seperjalanan kami.

Nama pembimbing pun tak kenal, ngajar apa, orang mana, kesukaannya apa 
atau sekedar hobinya nangkring dimana pun tak tau. 
Begimana saya bisa enak konsultasinya nanti ya?? 
Trus, kalo’ sudah ketemu mau bicara apa ya? Tanya apa ya?

Garuk-garuk, rebahin badan, bolak balik badan sampai menutup mata di spring-bed berlapis-lapis kayak kue legit pun gak ngaruh 
pertanyaan yang menggantung di pikiran ini layaknya kelelawar diluar itu.  
Ribeut...
riweuh..

Bed-cover sudah saya tarik hingga menutupi kepala, capek berfikir keras, 
bingung dengan siapa harus bercerita, 
pikiran aneh-aneh mulai berkecamuk, 
skenario esok tergambar jelas di bayangan, mulai dari berkali-kali ganti kostum, l
akon yang akan saya lakukan nanti, 
raut wajah ketakutan malu bingung dan tidak tahu apa-apa juga mengelabui hati yang makin kecut.

4 jam kemudian……

Setan-setan masih rela menggelayuti, 
merayu mata agar tetap pada posisi aman, pewe dan melanjutkan mimpi-mimpi yang mengerikannnn. 
Adzan berkumandang sudah sejak 45 menit yang lalu, 
tapi niat mengadu pada yang berhak itu makin kuat. 
Dinginnya air tak surutkan langkahku mengambil air wudhu mengusir ayunan setan di mata, 
agar hati ini sedikit tenang dan tak begitu risau.

Allahu akbar……
….
“Tenangkan hati ini ya rabb, tak pernah berubah sifatku yang tak tenang dan berfikir terlalu jauh dan begitu jauhnya hingga melampaui kuasaMu. Berikan ampunan untuk hambaMu yang tak berdaya dan slalu meminta padaMu ya Rabb..”

Ruang tunggu Komisariat Akademis Kemahasiswaan (KAK), 
begitulah nama samarannya kira-kira kalau tak salah, mungkin ya benar. Heheheh…

“Lo Sabil Aput Mutiara??” tanya Habib, tepat disampingku.
“Bukannya nama lo muti??” tanya nya lagi.
“yup, itu bener semua, lo liat dong nama gw lengkapnya, ada mut-mut nya kan??" jawabku sekenanya.

Kami ber-tiga duduk pada meja segiempat, kegelisahan berkecamuk tapi tidak dengan kedua kawanku, 
wajah sumringah dan yakin makin menciutkan batinku. 
Kawanku yang satu lagi si-eneng, cantik dan senyumnya meluruhkan ketenanganku pagi tadi.

“Yuk kita masuk” ajak eneng memecah keheningan.

….
didepan sebuah meja bulat kulihat seorang wanita,
Sosoknya yang energik langsung terpancar,
tak terlihat beliau seperti layaknya pembimbing yang sudah jago di dunia per-pembimbingan 

dan pergulatan dunia kesehatan-masyarakat.

“Assalamualaikum, kenalkan nama saya Ayu Wahyuni, selaku pembimbing kalian dalam mencari dan mendapatkan masalah yang ada dan membuat karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya ingin kalian memperkenalkan diri dan sebutkan nama, asal sekolah sebelumnya, jurusan, lulusan angkatan berapa, sudah bekerja arau belum, kalau sudah dimana kalau belum apa yang kalian lakukan, dan apa kalian sudah tau mau mencari masalah dan membuat apa.” jelasnya, ucapannya begitu cepat tapi runut.

Beliau tidak suka bertele-tele tampaknya,
lugas dan cepatnya berbicara menandakan itu semua bagiku.

Wanita disebelahnya .. mulai memperkenalkan diri.
Saya Eneng, jurusan kesehatan-masyarakat Universitas Garuda Pancasila, angkatan 2007, 
sudah bekerja di Depkes bagian memverifikasi data khusus bagian jaminan kesehatan masyarakat. 
Saya hanya ingin melanjutkan karya saya sebelumnya, 
dan kali ini di unit lebih besar yaitu di RSUD kota situ.


Habib, membenarkan letak kaca-matanya, berdehem, 
"ehem…"
Saya Habib, jurusan benerin gigi masyarakat bagian yang rusak-rusak alias dokgi (dokter gigi) 
Universitas Selalu Sakti angkatan 2004. 
Saya sudah bekerja di klinik di Mall Mergokuto dan deket rumah Hutan-Bambu. 
Saya ingin mengambil tempat di rumah sakit di Kalimantan, 
tempat saya praktek awalnya dan temanya tentang jumlah berapa yang bla.. bla.. bla..

hati kecut, bingung dan keringat semakin deras.

"Masya Allah, saya harus bilang apa? Saya belum punya persiapan apa-apa, bahkan blum pernah kerja menetap"bathinku bergejolak.
"Memang sih, saya pernah kerja di suatu klinik hanya sebagai asisten dokter gigi di sebuah gedung bilangan kuningan dengan gaji yang lumayan tapi situasinya gak mendukung dan bikin mabok tiap kali datang, karena manajemennya yang bikin empet, apalagi sikap sok nge-bossy dari asisten yang satu lagi, padahal juga dia baru 1 minggu  lebih dulu saja" timpal bathinku yang lain.

Belom lagi dia tidak menghargai pendidikan saya yang lebih tinggi, seolah saya hanya lulusan SMA yang baru belajar mengenal alat-alat kedokteran gigi, apa saja yang dibutuhkan dokter gigi tiap tindakan dan teknik menyedot ludah sekalipun.

Giliranku…
Glek,,
“Saya muti, jurusan utak-atik gigi manusia hampir sama dengan Habib, hanya saya gak sampai jadi dokter, alasannya sebab-akibat Bu. 
dari Universitas Matahari Bersinar lulusan baru kemarin, belon pernah kerja dan hanya sebagai mahasiswa KoKamWarKo (Kosan-Kampus-Warnet-Kosan). 
Semester awal kuliah senin – kamis pagi hingga siang, sisanya di warnet buat tugas, lebih tepatnya copy-paste bahan dari internet yang gak jelas alamatnya, tapi tak apalah mau bentuknya blog, artikel, jurnal atau sekedar berita kacangan tetap saya copas (copy-paste). 
Saya belum tau apa-apa Bu, juga belum pernah kenal namanya rumah sakit, apalagi ingin melihat masalah yang ada itu apa aja. 
Saya mohon bimbingan dari Ibu, saya harapkan kedepannya bisa mendapatkan masalah yang ingin saya ambil dan diangkat menjadi sebuah karya Bu.” 

penjelasanku yang panjang semakin membuat gugup dan malu, 
bukan karena tidak pakai celana atau lupa meresleting jeans. 
Malu jika pengetahuanku diukur dengan kawan-kawanku.

Tertunduk lesu…
Benar-benar kosong Sob ide dan pikiran,, 
sama sekali gak tau harus bagaimana menjawabnya tadi, 
menjelaskan atau sekedar menjaga gengsi dengan asal jawab mungkin?? 
Tapi tidak satupun itu dapat saya lakukan.

“Baik, saya sudah mengenal, mengerti dan mencoba menjelaskan pada kalian. Saya ingin sekali membimbing, tapi jika tidak sesuai dengan ability, pengetahuan juga kompetensi saya tidak bisa membimbing kalian, sebaiknya kalian mendapatkan pembimbing yang sesuai. Untuk Eneng, kalian saya arahkan ke Ibu Arumi, beliau ahli pada bidang SDM (Sumber Daya Manusia) khususnya Leadership dan rumah sakit. Habib dan Mut tetap dengan saya, sambil berjalan saya harapkan kalian banyak membaca dan mendapatkan masalah yang benar-benar ingin diangkat.” penjelasannya kali ini membuatnya tampak sekali kecerdasan serta kepribadiannya yang to the point.

Di luar ruangan…

“Mut, gw baru tau kalo’ lo baru lulus dan  gak nerusin sampe gelar dokter.” heran Habib.
“yah, begitulah gw Bib,, beda dan gak wajar…” masih dengan nada pasrah.

Indah memang jika berbeda dari yang lain, itu dari sudut pandangku memang… 
tapi lain halnya jika mereka yang memandang, 
terlihat aneh, freak, agak saiko atau bisa jadi terkucil diantara semak belukar 
dan ranumnya buah mangga yang sedang musim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang mau komen ala komentator di raja gombal silakeunnn..