Kamis, 10 September 2009

PROTOKOL KYOTO

oleh Anna Oktaviana pada 10 September 2009 jam 14:01
 
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.

Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003)

Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). [1] Ia dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.


Detil Protokol

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB:
"Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca - karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia." [2]

Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC, yang diadopsi pada Pertemuan Bumi di Rio de Janeiro pada 1992). Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang.

Sebagian besar ketetapan Protokol Kyoto berlaku terhadap negara-negara maju yang disenaraikan dalam Annex I dalam UNFCCC.



Status persetujuan

Pada saat pemberlakuan persetujuan pada Februari 2005, ia telah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi [3]. Negara-negara tidak perlu menanda tangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya: penanda tanganan hanyalah aksi simbolis saja. Daftar terbaru para pihak yang telah meratifikasinya ada di sini [4].
Menurut syarat-syarat persetujuan protokol, ia mulai berlaku "pada hari ke-90 setelah tanggal saat di mana tidak kurang dari 55 Pihak Konvensi, termasuk Pihak-pihak dalam Annex I yang bertanggung jawab kepada setidaknya 55 persen dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari Pihak-pihak dalam Annex I, telah memberikan alat ratifikasi mereka, penerimaan, persetujuan atau pemasukan." Dari kedua syarat tersebut, bagian "55 pihak" dicapai pada 23 Mei 2002 ketika Islandia meratifikasi. Ratifikasi oleh Rusia pada 18 November 2004 memenuhi syarat "55 persen" dan menyebabkan pesetujuan itu mulai berlaku pada 16 Februari 2005.


Status terkini para pemerintah

Lihat pula: Daftar penanda tangan Protokol Kyoto

Hingga 3 Desember 2007, 174 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia dan 25 negara anggota Uni Eropa, serta Rumania dan Bulgaria.

Ada dua negara yang telah menanda tangani namun belum meratifikasi protokol tersebut:

* Amerika Serikat (tidak berminat untuk meratifikasi)
* Kazakstan

Pada awalnya AS, Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang. [5] Namun pada awal Desember 2007 Australia akhirnya ikut seta meratifikasi protokol tersebut setelah terjadi pergantian pimpinan di negera tersebut.

Rabu, 09 September 2009

AKU BENCI bubu..

oleh Anna Oktaviana pada 09 September 2009 jam 16:06
 
aku benci setiap malam menguras tenaga hanya untuk menangisi sikap mu yang semakin tak ku mengerti...
aku benci setiap malam tidak bisa tidur...meskipun sekedar menutup mata sampai siang...
aku benci setiap hari bertambah besar kantung mata ku...
aku benci selalu mendengar kata "MAAF" mu diakhir pagi..
aku benci selalu memaafakn mu...
aku benci pernah menyayangi mu setulus hatiku...
aku benci sampai sekarang gak bisa membencimuuuuuuuuuu.........................

utk bubu ..

POJOK KULINER JOGJA

Kalau anda penggemar SOTO atau SOP dan GULE, maka Jogja adalah tempat soto/ sop berkumpul. Tetapi berbeda dengan konsep Soto dan sop di Jakarta, dimana kalau di Jakarta kata Soto konsepnya adalah dengan santen dan sop adalah tanpa santen, Sedangkan di Jogja tampaknya soto dan sop bisa saja dengan/ tanpa santen. Umumnya harga bervariasi dibawah 10 ribu rupiah dengan nasi, kecuali sop buntut yang memang agak mahal.

Inilah list tempat Soto di Jogja:

  1. Soto Ayam Miroso, terletak di Jalan Solo buka dari pagi hari jam 6 s/d jam 9 malam. Jadi kalau kita datang dari jakarta dengan pesawat pagi jam 6 dan tiba di Jogja jam 7, maka Miroso adalah tempat yang strategis karena lurus dari airport kearah kota, dan seblum masuk kota ada disebelah kanan jalan. Soto ayamnya panas dan gurih, apalagi kalau dicampur dengan bergedel tambahan, dan tahu atau tempe bacem….wah nikmat, dan murah….
  2. Soto Madura Cak ALIM, juga terletak di Jalan Solo dari airport sekitar 5 menit disebrang Hotel Quality Jogja. Yang terkenal adalah soto daging sapi campur telor, harganya hanya Rp 8.500 dan daging sapinya tebal dan bersih dari lemak. Tempat paling favorit kalau cari soto yang enak dan bebas lemak….
  3.  Soto Kudus, terletak di Jalan Monjali (monumen Jogja kembali) kira kira 10 menit kalau dari kota Jogja (Tugu). Letaknya disamping pom bensin Monjali. Dengan bentuk seperti Rumah Asli Kudus yang memang dibeli dan dipindahkan dari Kudus ke Jogja. Sotonya adalah soto ayam campur dengan mihun, jadi harus ditambah bergedel atau tempe goreng kering supaya nikmat. Harganya juga hanya Rp 8.500 jadi enak dan murah…
  4.  Sop Ayam Pak Min, jenisnya adalah air sop diberi daging ayam, makannya harus panas2, dibarengi dengan tempe/ tahu goreng yang tersedia. Harganya tergantung daging ayam yang anda pilih, tetapi paling mahal adalah 10 ribu. Lokasi karena sudah jadi Franchise bisa di Jalan Kali Urang, ada di Jalan Solo, dan ada di Monjali.
  5.  Sop Buntut Sederhana, yak betul ini Sederhana restoran Padang di jalan Kali urang, tetapi jangan tertipu dengan lauk pauk Padang lainnya, karena sifat sop buntut ini adalah lauk tambahan maka harganya relatif miring hanya sekitar Rp 13.500 tetapi rasanya lamak nian. Jadi kita bisa makan di resto padang tetapi yang diorder adalah sop buntut, mungkin ini hanya ada di Jogja.
  6.  Soto Daging Sapi Pak Soleh, lokasi di Maguwo sebelum Musium Diponegoro, tetapi cabangnya juga ada di mana2, Kita akan diberikan kuah soto dan nasi dengan daging sapi sedikit, jadi harusnya kita tambah dengan mengambil daging sapi yang kita inginkan lalu akan dipotong kecil2 sehingga terasa nikmat.
  7.  Soto Bangkong Semarang, lokasi di jalan Magelang sekitar 10 menit dari pusat kota. Kalau anda pernah ke Semarang dan makan Soto Bangkong maka anda akan tahu nikmatnya. Dasarnya adalah Soto Ayam tetapi dicampur dengan mihun dan bumbu khas soto bangkong. Makannya harusnya dengan tempe goreng panas. Wah, mak nyos rasanya..
  8. Sop dan Gule Jamur di Jejamuran, lokasi di Jalan Magelang lampu merah ketiga dari kota lalu belok kanan. Bumbu gule atao sop tetapi isinya diganti dengan Jamur, rasanya seperti daging ayam, kalau gule pedasnya ya pedas gule tetapi isinya jamur, bukan daging.  Buat yang vegetarian dan gak suka daging2an maka anda pasti akan menikmati Resto Jejamuran ini. Buat kita yang non vegetarian, tentu Jamur adalah variasi sehat dari makanan daging atau ikan yang kita konsumsi sehari hari.
  9.  Sop Buntut Jawa Timuran di Rek Arek, lokasi di Jalan Affandi (dulu Gejayan) tanya saja di Gejayan resto Rek Arek semua orang tahu. Anda bisa menikmati makanan Jawa Timuran seperti Rujak Cingur, dan juga Sop Buntut yang khusus dimasak dengan bumbu Jawa Timuran.
  10.  Sop Kepala Ikan Kakap, di Resto Gulai Kepala Ikan di Kauman samping RS PKU Muhammadiyah, atau Jl Parang Tritis. Bisa dibuat dengan bumbu Tomyum atau Gule. Harganya sekitar Rp 12.500 sangat murah dibanding Sop Kepala Ikan di Jakarta yang bisa 75 ribu per porsi.


Jadi mau coba yang mana, Soto ayam, soto sapi, Sop ayam, sop ikan, sop buntut, gule jamur……semua ada di Jogja dengan harga yang tidak merobek kantong.  Going to Jogja anyone