Senin, 02 Januari 2012

Resolusi 2012


Sebelum memulai tuk menuliskan resolusi, kebiasaan di keluargaku adalah bermuhasabah diri, paling dikenal dengan sebutan introspeksi diri. Meski kami tak berada dalam satu tempat, kami dituntut tuk berdiam diri dan menuliskan segala hal yang sudah kami lewati, baik-buruknya, kemudian menuliskannya dalam sebuah kertas. Kertas tersebut bisa disimpan tuk dijadikan pelajaran atau dibakar atau dibuang agar yang sudah terjadi tak terulang lagi, tergantung cara pandang masing-masing.

Hal-hal yang sudah pernah kulewati selama 2011, dimulai dari bulan Januari :
-          Mengerjakan Tesis dalam bab hasil dan kesimpulan
-          Sidang akhir Tesis
-          Dinyatakan lulus
-          Ada masalah di rumah, sehingga aku memutuskn untuk meninggalkan rumah

Bulan februari :
-          Ibu dan ayah menemuiku di bogor tuk membicarakan hal penting
-          Ayah sakit, salah satuny disebabkan karena kepikiran denganku, meninggalkan rumah beberapa lama.
-          Wisuda, mendapatkan gelar Master. Alhamdulillah ayah tetap datang meski dalam keadaan pincang.
-          Kondisi di rumah masih panas dan makin membuat kepala tak bisa tenang

Bulan Maret :
·         Awal mengenal dunia kepenulisan lebih serius
·         Mengikuti lomba-lomba kepenulisan di facebook
·         Beberapa kali kalah lomba menulis artikel, essay dan cerpen.
·         Berkutat dengan laptop dan deadline

Bulan April :
  • Lebih banyak berteman dengan teman-teman penulis
  • Memiliki 1000 teman yang memiliki hobi yang sama
  • Mengatur keuangan yang sekarat, karena masih jauh dari orang tua
  • Beberapa kali menang lomba
  • Ada naskah cerpen yang dibukukan.
Bulan Mei :
  • Kembali ke rumah dengan harapan baru walau hanya setitik 
  • Melupakan sejenak dunia kepenulisan
Bulan Juni :
  • Melamar kerja dimana-mana
  • Sembari menulis untuk diri sendiri
Bulan Juli :
  • Mendapat panggilan di RSUD Tarakan
Bulan Agustus-Oktober :
  • Bekerja di RSUD Tarakan
  • Menjadi Sekretaris dadakan dan sangat konyol
November dan Desember :
GALAU, bingung, bimbang dab gak jelas


Ini harus ada perubahan tahun ini

  1. Menghasilkan novel roman
  2. Menghasilkan novel anak-anak dan harapan
  3. menghasilkan novel kocak, lucu dan humoris
  4. Menghasilkan naskah-naskah inspiratif
  5. Mendapatkan pekerjaan tetap
  6. Menikah
  7. Umroh bareng calon suamiku
  8. Punya penghasilan pasif
  9. Punya toko sendiri
  10. punya buku sendiri dari penerbit mayor
  11. punya penghasilan tetap more than 5 million.
  12. punya mobil
  13. punya anak asuh
  14. biayain kebutuhan Hasan


:

Minggu, 01 Januari 2012

Buku “Kumpul Guru Jadi Guru” ada di Annida Online..!!




Judul     : Kumpul Guru Jadi Guru (Inspiring Teacher)
Penulis   : Sismanto, dkk.
ISBN      : 978-602-8597-88-3
Terbit     : Juni 2011
Tebal     : 237 halaman
Harga    : Rp. 47.700,00
Penerbit: LeutikaPrio



Meneladani Pejuangan Guru-guru Indonesia
Sebagian orang beranggapan bahwa guru selalu dikaitkan dengan istilah “Oemar bakrie”. Bersepeda ontel, masa depan suram, dan berpendapatan kecil,. Tapi itu dulu. Kini, guru Indonesia telah menjelma menjadi para pengajar profesional yang  pengabdiannya diharapkan memiliki dedikasi tinggi serta komitmen kuat yang didukung oleh kejujuran, membawa sekolah pada jalur persaingan di antara sekolah-sekolah. Merekalah para guru yang siap berjuang demi pendidikan. Bukan hanya semata-mata untuk mencari gaji belaka, melainkan memiliki jiwa pengabdian.
Di beberapa lokasi seperti yang dikisahkan oleh beberapa penulis (kontributor), ada guru yang nampaknya masih belum memiliki kebebasan berpendapat, berada jauh di pedalaman, dan yang lebih parah lagi adalah masih banyak guru Indonesia yang belum memiliki kebebasan finansial dalam menjalan tugas dan profesinya sebagai guru dan pendidik.
Misalnya, simak saja cerita Pak Guru Imam Syafii, yang menuturkan keperkasaannya di medan pendidikan yang ia lakoni di tengah rimba hutan belantara dan di tengah kampung Dayak Kalimantan Timur. Di masa-masa awal profesinya sebagai guru di ibu kota Kutai Timur, Kalimantan Timur, beliau masih sanggup berbica tentang metode-metode dan ritual-ritual pendidikan lainnya. Namun ketika dihadapkan pada kondisi yang serba kekurangan dari sisi sarana, prasarana, maupun teknologi informasi dan komunikasi di hutan, beliau berbicara dengan lantang dalam tulisannya,
Sekedar tawaran saja, barangkali ada diantara pembaca yang sudah sukses mengajar di kota dengan aneka jurus mengajar dan masih punya simpanan jurus ampuh, ada baiknya dicoba mengadu kesaktian dengan makhluk bernama Busang. Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa perlu “kecerdasan khusus” untuk menjadi guru di tanah hulu, Kalimantan Timur,” katanya.
Buku ini merupakan karya nyata perjuangan dari para guru pembelajar yang telah memberikan pengalaman dan inspirasi kepada kita semua Tersaji atas kontribusi besar para kontributor naskah yang tak lain adalah para guru dan begawan pendidikan yang telah malang melintang di dunia pendidikan. Beliau-beliau inilah yang layak disebut para pahlawan pendidikan yang memberikan ilmu pendidikan dengan hati. Bila perlu dengan nyawa sekalipun!.
Sangat sayang bila Sobat Nida tidak memiliki buku ini. Karena di dalamnya mengupas lebih dalam bagaimana seharusnya guru di masa kini dan masa mendatang. Bukan guru yang muluk-muluk (guru ideal) atau manusia setengah dewa, melainkan guru yang mampu survive dan mampu menghadapi tantangan jaman yang tidak menentu, serta mampu menghadapi tantangan untuk hidup layak dan bermartabat.
Khusus buat Sobat Nida di manapun berada, buku ini sudah bisa dipesan sekarang juga via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Satu eksemplar buku ini seharga Rp. 47.700.Pembelian buku minimal Rp 90 ribu, maka GRATIS ONGKOS KIRIM seluruh Indonesia. Met order, All!! [Sismanto]

Sumber ANNIDA-ONLINE
http://www.annida-online.com/artikel-3270-kumpul-guru-jadi-guru-inspiring-teacher.html

Senin, 19 Desember 2011

Ngalor-ngidul @jobseekerkonyol

Desember 19th, 2011 by jobseekerkonyol
 
All is well :)
 
gw suka dengan sebutan @jobseekerkonyol, meski gw pendatang baru di dunia pergo-blog-an penuhhumor, namun sebelumnya gw uda sering nulis di blogspot. eniwei, berawal dari perkenalan ’sesuatu’ itu akan dikenal. “Alhamdulillah ya..” postingan pertama di blog ini agar nuansa @jobseekerkonyol makin kental di blog ini.
 
salam kenal untuk para leluhur yang sudah malang melintang di dunia pergo-blog-an ini. I’m newbie, butuh bimbingan dan komentar maut kalian tuk menyemangati gw tuk selalu mengisi blog ini dengan postingan ala @jobseekerkonyol.
 
ambisius sekali dengan nama cute @jobseekerkonyol, sebab musabab yang gw dapat habis bersemedi di kolong tempat tidur bareng ponakan gw yang unyu-unyu. gak bisa ditebak darimanaarah datangnya ide, tiba-tiba nembus, meski gw uda pake yang bersayap.
 
okelah, nanti gw lanjut lagi di postingan seanjutnya yaw. sii yuk!

Selasa, 06 Desember 2011

aku bimbang

Bimbang,
begitu banyak deadline, tapi gak satu pin bikin kepalaku dingin, yang ada malah tambah ngepul.
Alhasil, kini 5 deadline gw kerjain.
Berasa otak ada banyak aja.
So, temani gw ya malam ini guys..

Kamis, 17 November 2011

YOUNG CHEMIST BLOG COMPETITION

Tema :
“Peran dan kontribusi kimia dalam dunia kesehatan”


Kriteria Peserta :
Lomba di buka untuk umum


Hadiah Lomba :
Juara I : Rp750.000,00
Juara II : Rp500.000,00
Juara III : Rp300.000,00


SYARAT-SYARAT dan Ketentuan Young Chemist Blog Competition
  1. Peserta harus memiliki web-log (blog) sendiri menggunakan mesin blog berbasis blogspot.
  2. Peserta diwajibkan mengisi surat keterangan kepemilikan blog yang dapat diunduh disini 
  3. Peserta diwajibkan untuk melakukan posting sesuai tema lomba minimal 3 artikel atau lebih.
  4. Mencantumkan Banner utama “YCBC Chemical Fair 2011” pada halaman utama/side bar/footer.
  5. Memuat tautan ke laman chemical fair http://chemicalfair2011.blogspot.com
  6. Peserta diperkenankan untuk melakukan promosi tulisannya melalui jejaring sosial untuk mengundang lebih banyak respon (contoh lewat facebook, twitter , plurk, dan lain-lain) 
  7. Penggubah blog (blogger) dapat berinteraksi dengan pembaca dan mengembangkan diskusi dengan tema “Peran Kimia dalam Dunia Kesehatan”.(Penilaian melalui respon yang didapat melalui komentar/keaktifan dalam berdiskusi).
  8. Peserta bebas untuk mengembangkan tema lomba.
  9. Penyelenggara berhak menganulir materi blog yang tidak sesuai dengan tema lomba.
  10. Materi yang diposting merupakan hasil orisinalitas/ide pemikiran pribadi dari penggubah blog/pemilik blog.
  11. Isi blog dibatasi hanya pada masalah peran kimia dalam dunia kesehatan.
  12. Pembahasan boleh difokuskan hanya pada informasi dan pengetahuan kimia atau kimia dalam kesehatan.
  13. Isi blog terutama memuat gagasan penggubah blog, yang dapat berupa topik/artikel baru sebagai pengembangan tanggapan dari pembaca.
  14. Peserta yang lolos proses registrasi dan seleksi diwajibkan melakukan pemutakhiran/update blog secara berkala dengan pemajangan artikel ataupun diskusi/interaksi dengan pembaca.
  15. Pemutakhiran blog dilakukan sampai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan pihak penyelenggara.
  16. Peserta adalah pemilik blog itu sendiri, peserta tidak dapat mengusulkan blog milik orang lain.
Surat Keterangan Kepemilikan Blog
  1. Surat dapat diunduh disini 
  2. Peserta wajib mengembalikan surat pernyataan tersebut ke pihak panitia baik melalui email ke chemical.fair2011@gmail.com maupun secara langsung ke Sekretariat HMD Kimia UI di Lantai Dasar Gedung G,  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,  Kampus Baru Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 16424
  3. Peserta yang tidak mengisis surat pernyataan akan didiskualifikasi
Pendaftaran Peserta :
  1. Mengisi formulir pendaftaran yang telah dipersiapkan.(dapat mengisi formulir online disini).
  2. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 22 Oktober 2011 sampai dengan 20 November 2011.
  3. Pendaftaran lomba ini dikenakan biaya Rp 20.000,00
Kriteria Penilaian :
  • Konten blog
  • Keaslian
  • Kualitas isi
  • Kesesuaian dengan tema lomba
  • Kedalaman isi
  • Desain dan Tampilan
  • Harmonisasi warna
  • Tata letak
  • Kerapian widget 
  • Kerapian foto artikel/header
  • Kemudahan akses konten (10%)
  • Navigasi
  • Animasi (gif atau flash, dll)
  • Content (informatif,berkaitan dengan tema)
  • Inovasi (Originalitas, Kreativitas).
  • Nilai kemanfaatan dari postingan artikel blog yang didaftarkan.
  • Kemudahan pencarian lokasi postingan baik di blog maupun mesin pencari.

Penilaian :
  • Penilaian utama dinilai dari kualitas tulisan (postingan).
  • Web belum pernah dipublikasikan (dengan disertai surat pernyataan bermaterai bahwa web adalah milik pribadi dan belum pernah menjadi juara pada perlombaan sejenisnya ).
  • Boleh menggunakan source code open source yang telah dimodifikasi.
  • Kreatifitas/keunikan dalam mengolah sumber daya yang ada menjadi sebuah konten multimedia yang nyaman untuk dinikmati dan memiliki konsep edu-kasi.
  • Penilaian akan dilakukan pada seluruh pendaftar yang lolos seleksi dan memenuhi persyaratan.
  • Panitia akan memilih 3 postingan blog terbaik.
  • Panitia tidak melayani surat menyurat diluar proses seleksi, kecuali surat pengaduan adanya tindak kecurangan.
  • Keputusan Team Juri tidak dapat diganggu gugat.
  • Penilaian berlangsung pada tanggal 26 November 2011
Penjurian :
Dewan Juri Lomba Young Chemistry Blog Competition 2011 adalah :
  • Pakar Kimia
  • Pakar Teknologi dan Informasi
  • Pakar Jurnalistik dan Publikasi
Pengumuman Pemenang :

Pemenang akan dipublikasikan pada laman http://chemicalfair2011.blogspot.com dan akan dihubungi lebih lanjut oleh panitia.

Contact Person :
Rahma (083890691096), Ade (085648270496)

CHEALTHMISTRY : Contribution of Chemistry in Health

Soal penerbit indi atau POD itu

Posted on 22 October 2011 by Administrator
Pagi ini sebuah status FB yang saya baca berisi tentang curhatan sipemilik tentang betapa kesalnya dia dengan lakon seorang pengelola penerbitan indi yang sampai dua bulan lebih tidak mengirimkan buku yang sudah di pesannya; dan tentu saja dia sudah membayar sejumlah uang ke rekening yang bersangkutan. Di FB lain saya baca bagaimana dia sudah mentransfer uang ratusan ribu rupiah untuk biaya layout dan desai kaver, namun sampai sekarang bukunya tidak terbit juga. Di FB lainnya lagi saya lihat sebuah status yang curhat kalau layout halaman bukunya berantakan, masak di halaman satu fontnya X dan di halaman lain ada dua fontnya Z, padahal ia sudah membayar setengah juta untuk biaya itu semuanya.
Aih, apakah yang terjadi di dunia penulisan cum penerbitan saat ini?
Semua bermuara dari kemajuan teknologi pencetakan. Sebuah buku saat ini tidak lagi harus melalui cara, prosedur, dan kuantitas konvensional. Dulu, dengan hitung-hitungan bisnis, sebuah buku harus dicetak minimal 2000 atau 3000 oleh sebuah penerbit mayor. Jumlah itu akan didistribusikan ke toko buku dan jumlah itu juga memuat berapa hitung-hitungan angka yang harus dibagi ke berbagai pihak, seperti biata operasional, penulis, distributor, toko buku, sampai bayar rekening listrik kantor.
Namun, saat ini, dengan kemajuan mesin cetak sesuai permintaan atau istilahnya Print On Demand (POD), menyebabkan jumlah buku yang dicetak bukan menjadi persoalan. Mudahnya menggunakan tenaga lepas seperti desainer dan layouter serta gratisnya pengurusan ISBN menyebabkan semua urusan yang berbelit dan memakan waktu lama seperti dalam penerbitan mayor menjadi seperti menjentikkan jempol-telunjuk: klik, buku pun bisa terbit saat itu juga.
Sistem POD juga menyebabkan kemudahan penulis untuk menerbitkan karyanya. Bahkan jika yang ditulisnya tidak bermutu pun bukan jadi persoalan, asal punya duit kita bisa bikin buku sendiri. Ini berbeda dengan ‘tradisi’ penulis yang menawarkan naskah di penerbitkan mayor. Bahwa semua naskah harus mengalami seleksi yang super ketat, tidak hanya dari sisi konten semata melainkan juga dari aspek bisnis. Biarpun kontennya jelek, asal itungan bisnis bagus, maka naskah itu akan dijadikan buku dan dijual oleh penerbit mayor. Ini berbeda dengan POD, jika mengambil simpulan seramnya; biar kontennye buruk dan nilai bisnisnya buruk, buku tetap bisa terbit.
Kondisi ini menjadi semacam angin surga bagi para (calon) penulis atau mereka yang sudah putus asa karena naskahnya sering ditolak penerbit-penerbit mayor. Nah, dengan POD ia bisa tiba-tiba menjadi penulis; menjadi seseorang yang memiliki buku dan dengan bangganya memasang kaver di FB hanya untuk menegaskan bahwa bukunya sudah terbit dan mendapat endors dari pengunjung FB bahwa mereka pun turut senang dengan pencapaian tersebut. Sampai pada akhirnya yang komen di FB pun mengikuti jejak si (calon) penulis tersebut; mulai membongkar file lama di komputer, disusun menjadi sebuah naskah, dan diproses menjadi buku dengan sistem POD atau jika memiliki modal banyak dicetak dengan jumlah ratusan bahkan ribuan. Intinya dia menulis, dia mengeluarkan duit, dan dia yang berpromosi. All in one.
Peluang inilah yang dilihat oleh si insting bisnis. Banyaknya (calon) penulis yang benar-benar ingin bukunya diterbitkan dan melihat namanya terpampang di kaver buku menjadi semacam peluang bisnis yang luar biasa. Mulailah berdiri satu-dua “penerbitan” yang bisa menyediakan cara mudah bagi (calon) penulis untuk menerbitkan bukunya secara POD atau istilahnya indi, penerbit minor. Mereka menyediakan jasa layout, desain, edit, dan promosi. Sebaliknya penulis hanya menyediakan naskah saja.. ups, dengan duit secukupnya.
Tapi, apa daya…. para penerbit minor dadakan ini lupa bahwa proses sebuah buku itu tidak hanya asal POD saja di mesin cetak, atau malah mesin fotokopian. Sebuah buku harus mengalami proses sunting yang baik, tataletak yang enak di pandang, kaver yang sesuai, dan tentu saja sebuah naskah yang memuat konten baik, baik di sisi isi dan baik di sisi penjualan.
Persoalan kedua, bagi penerbit minor yang punya mesin POD atau sudah bekerjasama dengan percetakan yang memiliki mesin POD, soal menyetak berapapun eks buku bukan menjadi persoalan. Nah, bagi mereka yang tidak punya rekanan mau tidak mau harus bekerjasama dengan percetakan biasa yang punya batas minimal pemesanan buku. Hal ini terkait dengan jumlah tinta, lama bekerja mesin, kertas yang dibeli, dan sdm yang dipakai. Maka akhirnya si penerbit minor inipun mengambil langkah ajaib: meminta penulis mengeluarkan biaya sendiri untuk mencetak bukunya. Modusnya bisa macam-macam, salah satunya dengan membuat lomba untuk menjaring puluhan dan bahkan ratusan orang (calon) penulis. Jika ada 100 orang yang ikut dan masing-masing “menyumbang” Rp50.000 maka tertutupilah biaya produksi satu buah buku. Itupun kalo urusannya bener, kalo nggak.. ya lagi-lagi si penerbit minor ini angkat tangan dan buku pun tak kunjung nongol.
Lalu, apakah salah dengan angin surga POD itu?
Seseorang teman di FB sempat menulis bahwa ia tidak ada masalah berada di “kasta terendah” karena menerbitkan buku secara POD atau indi. Terlepas dari ada tidanya kasta dalam cara menerbitkan, yang pasti sistem POD atau indi tetap punya nilai positifnya.
POD ataupun indi memberikan jalan alternatif bagi siapa saja untuk menerbitkan buku. Ingat, jumlah penerbit yang terbatas sementara mungkin ada jutaan dan puluhan juta orang yang ingin menulis, menerbitkan buku, dan membagikan hasil pikirannya itu tidak mungkin bisa menampung naskah-naskah dari mereka. Bagi mereka yang sudah pengalaman menerbitkan buku pasti menyarankan untuk pilih penerbit mayor, tapi bagi mereka yang nggak tahu apa-apa pilihan POD dan indi menjadi lebih tepat. Karena persoalan tema atau konten berbeda menurut “siapa”. Bagi penerbit ada unsur bisnis dalam sebuah konten sementara bagi penulis ada unsur “ini penting dan layak dibaca”.Bagi penerbit males rasanya menerbitkan buku “Memelihara Jangkrik” karena siapa yang mau beli dan jangan berharap akan ada cap best seller jika buku ini terbit. Namun, bagi penulis buku ini ada pangsa pasarnya, yakni mereka yang hobi dengan ikan, jangkrik bisa jadi makanan ikan. Nah, karena unsur yang tidak nyambung ini, tak berlebihan kalau penulis memilih jalur POD atau indi. Begitu juga dengan nilai pasar naskah-naskah puisi yang ditulis oleh orang yang tidak dikenal tapi mau berkarya.
Persoalan mengeluarkan uang? Ini adalah salah satu risiko. Sebuah penerbitkan indi atau POD selalu ada uang yang dikeluarkan. Minimal uang untuk mendesai kaver, atau melayout isi, atau untuk mencetak buku. Kalau pun ada penerbitan indi yang tidak menarik uang tetap saja ia akan menagih harga buku jika penulisnya beli ke mereka, tidak seperti penerbit mayor yang memberikan 5 atau 10 buku sebagai contoh cetak-terbit. Artinya ada kesepakatan dalam melakukan ‘bisnis’ buku. Penulis menyediakan naskah dan uang, penerbit indi menyediakan jasa buku sampai terbit atau istilah kerennya pubslihing services. Rasanya tidak penerbitan indi, POD, dan atau publishing services benar-benar gratis dalam memberikan layanannya. Jika menilik teori komodifikasi Vincent Moscow atau Adorno, jika greatispun sebenarnya penulis sedang dikomodifikasi oleh sang penerbit sedang dibuat seolah-olah penulis tidak keluar sepeserpun padahal penerbit menarik keuntungan non-materi dari sipenulis, ya sekecil-kecilnya keuntungan adalah brandcommunication dari si penulis yang memberitakan bahwa “layanan penerbit ini oke” dan ‘beli dong buku saya di sini”.
Kondisi ini yang menyebabkan beberapa penerbitkan mayor besar menyediakan layanan ini. Meski pada awalnya beberapa penerbit tersebut menyediakan jasa POD hanya untuk melihat kualitas dummy dari sebuah buku, tapi apa yang dilakukan oleh Gramedia di Jakarta atau Kanisius di Yogyakarta merupakan dua contoh perusahaan penerbitan besar yang melayani sistem POD atau cetak sesuai jumlah pesanan, yang biasnaya terbatas. Konon kabarnya Penerbit Mizan mulai terjun ke usaha POD  atau publsihing services ini. Atau saat ini saya lihat beberapa tempat fotokopi di Jakarta, Depok, Bandung, Surabaya, Malang, atau Yogyakarta juga menyediakan jasa pubslihing services yang bisa mewujudkan impian (calon) penulis menerbitkan buku.
Jika ditilik kembali dari latar historis, kebiasaan POD ini memang dilakukan oleh penerbit mayor terlebih dahulu. Juga, bagi lembaga/institusi periklanan yang biasanya mengerjakan laporan tahunan perusahaan atau buku profil perusahaan. Dan toh, kalau mau jujur, banyak juga penerbit besar yang merelakan logo penerbitnya dipakai demi menyetak buku pesanan dari calon gubernur atau kepala daerah menjelang pilkada. Sama saja kan. Lagi-lagi ini adalah publsihing services dan semua sah-sah saja asal kedua belah pihak sama-sama puas.
Biarkan menjadi angin surga
Di tengah munculnya kasus ‘penipuan’ atau ‘layanan sembarangan’ atau ‘penulis harus keluar uang’ yang kelihatannya mulai muncul, ada baiknya untuk tidak menjatuhkan penilaian bahwa penerbit mayor lebih baik dari penerbit minor yang menggunakan sistem POD atau INDI. Banyak contoh bagaimana sebuah buku yang diterbitkan secara POD sangat sukses, sebagai misal buku cara membetulkan konsol gim meski dijual dengan bentuk buku elektronik telah menghasilkan puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah, atau bagaimana buku Harry Potter edisi pertama juga hanya dicetak 500 buah, karena belasan tolakan dari penerbit mayor, dan disebarkan di perpustakaan sekolah, atau bagaimana salah seorang anggota FLP setelah keluar dari posisi di penerbitan mayor membuat penerbitan sendiri, mengelola sendiri, menyetak dengan duit sendiri, mendistribusikan sendiri, dan akhirnya bisa mengeruk keuntungan… sendiri. Di lain lokasi ada novelis yang mengeluarkan uang sampai puluhan juta rupiah dan memakai jasa publishing services dengan penerbit indi dia juga puas kok dengan hasilnya; meski uang itu tidak kembali semuanya, tetapi dengan penjualan buku dan apa yang didapat dari sekadar uang (teman baru, relasi baru, karya terbit) sudah cukup untuk membayar jumlah nominal yang digelontorkan.
Yang harus dipastikan adalah sebuah konten yang kita tulis untuk diterbitkan dalm bentuk POD atau indi haruslah konten yang baik. Untuk membahas konten yang baik ini adadi ruang dan waktu khusus ya.. dengan konten yang baik akhirnya buku yang dicetak terbatas pun akan tetap menjadi bahan bacaan yang bagus dibaca dan berarti untuk orang lain. Meski yang membelinya hanya 5 orang, toh 5 orang itu sudah bisa mengambil manfaatnya. Tapi kalau ditulis, diterbitkan, dan hanya dibaca oelh si penulisnya sendiri itu sih namanya….
Tetapi jangan pula lengah dengan jasa publishing services yang marak menawarkan diri dengan label “penerbit” ini. Perhatikan 1) bagaimana kualitas pengelolaan mereka dengan melihat rekam jejak si pengelola dengan seksama. Diharapkan dengan si pengelola punya pengalaman dalam dunia penerbitan atau percetakan akan mampu memberikan layanan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. 2) Untuk itu perlulah banyak-banyak bertanya kepada siapa saja yang sudah pernah memakai jasa publishing services tersebut. Jangan karena semangat tinggi karena mau nerbitin naskah dan akan punya buku perdana membuat mata kita buta untuk langsung order ke penyedia jasa tersebut. 3) Kalaupun kita mengeluarkan uang, perhatikan apakah uang itu layak atau tidak dan atau akan digunakan sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Pastikan dengan sangat teliti berapa jumlah uang untuk keperluan X, berapa yang untuk keperluan Y, dan berapa yang untuk keperluan Z. Syukur-syukur kalau ada perjanjian hitam di atas putih. Tapi, kalau uang sudah keluar, kita tidak teliti, dan hasilnya membuat kecewa ya jangan marah-marah belakangan… toh, siapa suruh setuju langsung bayar. 4) Di sinilah perlunya membaca, memahami, atau bertanya soal apa yang dibayar dan apa yang didapat. Tak ada salahnya kita teliti dahulu seseksama mungkin sebelum kecewa di kemudian hari.
Toh, intinya kalau kita ikutan penerbit mayor atau minor, indi atau ternama, POD atau batas psikologis, itu sama saja tak ada bedanya. Jangan dikira penerbit mayor tak pernah bikin jurus tipu-tipu. Jangan menyangka naskah kita tidak akan diobrak-abrik penerbit ternama. Jangan dikiran buku kita akan ditangani secara tepat meski sudah dicetak dengan batas psikologis.
Juga, jangan mengira memasuki bisnis penerbitan indi itu mudah. Jangan dikira POD itu memudahkan segalanya. Jangan dikira mendistribusikan buku itu mudah. Jangan dikira semua bisa dilakukan, misalnya menerbitkan buku, hanya karena kita punya …. uang!
So, jika ingin angin surga, maka telitilah dengan seksama. Sebab, penerbit mayor atau minor sama-sama bisa meniupkan angin surga dan juga suatu saat bisa memberika hawa neraka.
Saya, secara pribadi, sangat percaya dan yakin kutipan seorang penulis ternama yang akhirnya memulai bisnis secara penerbitan minor (meski sekarang lebih tepatnya bermetamorfosis menjadi penerbitan mayor) bahwa “yang penting mau memulainya…”. Toh, banyak jalan ke Roma, dan tidak semuanya harus memiliki pengalaman pertama di penerbitan mayor, bukan?


http://media.kompasiana.com/buku/2011/10/23/angin-neraka-penerbit-indi-sistem-pod-atau-angin-surga-penerbit-mayor/

KIAT MENULIS RESENSI YANG BAIK

Posted on 03 November 2011 by trimanto
KIAT MENULIS RESENSI YANG BAIK
Oleh: Trimanto*)


Kita pasti sering mendengar istilah resensi. Di media massa, baik cetak maupun online, kita sering menemukan atau bahkan membaca sebuah artikel yang berisi resensi buku. Artikel itu bisaanya menginformasikan serba selintas tentang sebuah buku dilengkapi dengan ulasan-ulasan sebagai pertimbangan atas buku tersebut dari berbagai sudut pandang.
Resensi adalah tulisan atau ulasan mengenai suatu buku (pengetahuan, sastra, kamus, ensiklopedi, dan sebagainya) yang mengikhtisarkan, menggambarkan, menjelaskan, dan memberikan penilaian atas buku itu. Resensi merupakan penilaian mengenai kualitas buku, baik isi maupun perwajahannya disertai alasan dan bukti. Istilah resensi buku sering juga disebut timbangan buku atau bedah buku. Timbangan/penilaian itu dapat juga dilakukan terhadap film, drama, atau bahkan bentuk-bentuk pementasan seni lainnya. Oleh karena itu, kita juga sering mendengar istilah resensi ftlm atau resensi drama.
Buku yang diresensi biasanya buku-buku baru sehingga dengan membaca resensi buku tersebut, para pembaca mengetahui serba sedikit mengenai buku itu dan dapat mempertimbangkan perlu tidaknya membaca buku tersebut.
Tujuan pokok penulisan resensi mencakup tiga hal, yakni:
1) memberikan sugesti kepada pembaca, apakah sebuah buku film patut dibaca/ditonton atau tidak;
2) melukiskan dan memaparkan pendapatnya melalui sebuah timbangan atau penilaian; dan
3) menyodorkan kriteria-kriteria yang jelas dalam mengemukakan pendapatnya itu.
Sebuah resensi paling tidak memiliki tiga fungsi utama, yakni:
1) fungsi informatif, yakni menginformasikan keberadaan buku/film tertentu sehingga pembaca merasa tertarik untuk mengetahuinya lebih lanjut;
2) fungsi komersial, yakni mempromosikan produk baru untuk kepentingan komersial; dan
3) fungsi akademik, yakni interaksi antara penulis/pengarang buku, penerjemah, editor, dan peresensi dalam membentuk wacana keilmuan mengenai topik tertentu.
Prosedur Pembuatan Resensi
Secara umum, tulisan resensi buku terdiri atas dua bagian penting, yakni (1) gambaran umum isi buku yang diresensi; dan (2) kupasan, bahasan, dan penilaian atas isi buku itu sebagai hasil dari kerja analitis-kritis yang dilengkapi dengan perbandingan-perbandingan dengan karya lain.
Penyuguhan gambaran umum isi buku yang diresensi itu penting mengingat dua hal, yaitu (1) pembaca belum tentu pernah membaca buku itu (meskipun buku itu sudah terbit lama, terlebih untuk buku yang relatif baru atau baru akan terbit); dan (2) pembaca harus mendapatkan keputusan untuk membaca atau tidak buku itu. Bahkan, cukup banyak orang yang hanya mengandalkan resensi, karena memang tak mau atau tak bias membaca buku aslinya.
Kualitas kupasan dan bahasan atas buku yang diresensi terletak pada ketajaman analisis dan tingkat kekritisan si peresensinya. Tentu saja, kemahiran menulis resensi tidak bisa diperoleh secara serta-merta. Keterampilan membutuhkan proses, intensitas dan kemauan dan latihan yang terus-menerus.
Adapun kriteria yang dapat kita gunakan untuk mempertimbangkan buku sebagai bahan resensi, di antaranya:
1. Buku yang akan diresensi sebaiknya buku baru yang actual.
2. Buku yang akan diresensi adalah buku yang cukup baik, bermanfaat dan layak baca.
3. Buku yang akan memuat informasi penting untuk diketahui khalayak.
4. Topik/tema buku yang diresensi relevan dengan konteks situasi dan kondisi saat ini.
Untuk menjadi peresensi yang baik, peresensi harus memiliki latar belakang pengetahuan yang memadai mengenai tema buku yang diresensi serta memiliki pengetahuan bahasa dan kosakata yang memadai untuk menyampaikan gagasannya.
Sistematika Penyusunan Resensi
Sistematika resensi buku meliputi:
(1) Judul resensi (boleh sama dan boleh berbeda dengan judul buku yang di resensi);
(2) Perwajahan (jati diri buku), meliputi: judul buku, nama pengarang/penulis, nama penerbit dan tahun terbit, jumlah halaman, jenis huruf, halaman sampul (cover), dan harga buku;
(3) Pembukaan meliputi:
(a) uraian, deskripsi, rangkuman yang menjelaskan isi buku secara umum;
(b) kutipan bagian-bagian buku yang memperjelas isi buku;
(c) kaitannya dengan konteks situasi terkini;
(d) bersifat pemancing untuk menarik perhatian pembaca;
(e) kaitannya dengan hal di luar isi buku (bila perlu);
(4) Pembahasan berisi komentar, ulasan, analisis-kritis dan penilaian terhadai isi buku, meliputi:
(a) analisis terhadap isi buku disertai alasan dan bakti yang ada dalam isi buku;
(b) analisis kekuatan dan kelemahan (bila ada) isi buku yang di resensi;
(c) pembandingan dengan sumber-sumber yang berbeda;
(d) gagasan¬gagasan penulis mengenai buku itu; dan
(5) Penutup meliputi penilaian penulis resensi mengenai perlu-tidaknya pembaca resensi membaca atau memiliki buku tersebut.
(6) Identitas peresensi sering juga dicantumkan di bagian akhir resensi guna menunjukkan otoritas dan kredibilitas peresensinya.
Tahap dan Teknik Pembuatan Resensi
Ada tiga macam teknik meresensi buku, yakni:
1. Teknik cutting and glueing
Secara harfiah, cutting berarti memotong dan glueing berarti merekatkan. Meresensi buku dengan ini berarti merekatkan potongan-potangan tulisan. Potongan tersebut berupa materi yang menarik perhatian, yang terdapat di dalam buku yang hendak kita resensi, serta mencerminkan gagasan-gagasan inti si penulis buku. Teknik ini merupakan teknik yang paling sederhana dan mendasar dalam berlatih menulis resensi.
2. Teknik focusing
Teknik ini berkaitan dengan kegiatan “memusatkan perhatian” kepada satu aspek tertentu yang disajikan dalam objek resensi. Aspek-aspek itu bisa terletak pada tema, metode pembahasan yang digunakan penulis, sampul luar, sosok pengarang, gaya penyajian, atau latar belakang penerbitan buku. Pendek kata, apa saja yang dianggap menonjol atau paling menarik perhatian dapat diangkat dalam tulisan resensi.
3. Teknik comparing
Teknik ini mengajak seorang peresensi untuk melakukan pembandingan-pembandingan atas hal-hal yang terdapat dalam objek resensi dengan sumber lain mengenai topik sejenis. Pembandingan itu dapat dilakukan atas dasar topik atau tema yang sama dari pengarang yang berbeda, atau pengarang yang sama mengenai topik-topik lain yang berbeda.
Tips Menulis Resensi
Menulis resensi pada dasarnya sama dengan menulis karya ilmiah lainnya seperti artikel, opini dan feature. Menulis resensi dalam dilakukan dalam berbagai bentuk. Resensi di media massa biasanya berbentuk artikel yang panjangnya kira-kira 5000-8000 karakter. Ada juga yang berbentuk ulasan naratif seperti feature, panjangnya > 8000 karakter.
Resensi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yakni resensi berjenis (a) informatif, menekankan aspek informasi umum mengenai isi buku; (b) deskriptif, menekankan ulasan detail dan rinci untuk setiap bagian atau bab dari buku yang diresensi dan (c) kritis, menekankan aspek penilaian secara kritis dan objektif atas isi buku. Tentu saja, ketiga jenis resensi tersebut tidak bersifat kaki dan baku. Resensi yang baik dan lengkap adalah resensi yang memuat ketiga-tiganya.
Secara garis besar terdapat dua aspek penting yang harus dicermati dalam menilai resensi, yakni aspek luar (penampilan) dan aspek dalam (isi). Aspek luar meliputi perwajahan buku atau kulit muka buku yang akan di resensi.Aspek isi meliputi paparan isi buku, gagasan, konsep, fakta, informasi, esensi keilmuan.
Selamat menulis resensi!
Daftar Pustaka:
1. Akhmadi, M (1990). Dasar Komposisi Bahasa Indonesia. Malang: Yayasan Asah-Asih-Asuh.
2. Hadimadja, A.K. (1981). Seni Mengarang. Jakarta: Pustaka Jaya.
3. Hernowo (2003). Quantum Reading. Bandung: MLC.
4. Parera, J.D. (1983). Menulis Tertib dan Sitemik. Jakarta: Erlangga.
*) Humas FLP Wilayah Jakarta Raya

Selasa, 15 November 2011

Terjemahan Surat Ar-Rahman

[55.1] (Tuhan) Yang Maha Pemurah,
[55.2] Yang telah mengajarkan Al Qur’an.
[55.3] Dia menciptakan manusia,
[55.4] Mengajarnya pandai berbicara.
[55.5] Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
[55.6] Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.
[55.7] Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).
[55.8] Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
[55.9] Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.
[55.10] Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya).
[55.11] di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.
[55.12] Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
[55.13] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.14] Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,
[55.15] dan Dia menciptakan jin dari nyala api.
[55.16] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.17] Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.
[55.18] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.19] Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, [55.20] antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
[55.21] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.22] Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
[55.23] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.24] Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.
[55.25] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.26] Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
[55.27] Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
[55.28] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.29] Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
[55.30] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.31] Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin.
[55.32] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.33] Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
[55.34] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.35] Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya).
[55.36] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.37] Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.
[55.38] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.39] Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.
[55.40] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.41] Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.
[55.42] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.43] Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.
[55.44] Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.
[55.45] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.46] Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.
[55.47] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,
[55.48] kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.
[55.49] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.50] Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir.
[55.51] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.52] Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.
[55.53] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.54] Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.
[55.55] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.56] Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.
[55.57] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.58] Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.
[55.59] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.60] Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
[55.61] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.62] Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.
[55.63] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,
[55.64] kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.
[55.65] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.66] Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar.
[55.67] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.68] Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.
[55.69] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.70] Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.
[55.71] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.72] (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.
[55.73] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.74] Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.
[55.75] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.76] Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.
[55.77] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[55.78] Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia.

Selasa, 01 November 2011

Mengapa Naskah Anda Ditolak?

Salah satu Kebahagiaan terbesar seorang penulis adalah saat menerima kabar bahwa naskah yang dikirimkannya diterima oleh penerbit dan siap untuk diterbitkan. Suka cita ini akan makin besar kalau naskah tersebut akan menjadi buku pertamanya yang terbit. Tetapi jauh lebih banyak orang yang bersusah hati karena lebih banyak naskah yang ditolak oleh penerbit daripada yang diterima. Tulisan kali ini akan membahas apa yang menyebabkan sebuah naskah ditolak oleh penerbit. Kebanyakan penerbit tidak mencantumkan mengapa naskah tersebut ditolak. Bahkan banyak penerbit yang tidak memberi kabar apapun kalau suatu naskah ditolak, seolah-olah naskah Anda nyemplung ke laut. Banyak orang beranggapan kalau naskah ditolak maka alasannya adalah naskahnya yang jelek, kualitasnya tidak memadai atau berbagai hal teknis lainnya. Padahal sebenarnya alasan ini hanya salah satu alasan saja. Masih banyak alasan lain yang justru tidak ada kaitannya dengan kualitas tulisan.
Berikut ini adalah kemungkinan beberapa alasan naskah Anda ditolak oleh penerbit:

1. Kualitas naskah tidak sesuai dengan keinginan penerbit
Bila Anda seorang penulis pemula dan belum satupun memiliki buku yang diterbitkan, maka apakah naskah Anda ditolak atau diterima sangat bergantung pada kualitas naskah yang dikirimkan.

2. Penerbit memiliki prioritas buku yang akan diterbitkan
Setiap penerbit tentunya memiliki preferensi tentang buku yang diterbitkannya. Hal ini biasanya berkaitan dengan visi, misi dan latar belakang penerbit. Walaupun buku yang Anda tulis bagus, kalau tidak sesuai dengan visi dan misinya, jangan harap naskah Anda diterima.

3. Naskah Anda tidak sejalan dengan trend pasar
Penerbit yang berorientasi komersial akan berusaha mempertimbangkan pasar saat memilih naskah buku. Jika misalnya Anda mengirimkan naskah teenlit saat novel teenlit sedang booming di pasar, maka kemungkinan besar naskah Anda akan diterima, walaupun misalnya kualitas naskahnya biasa-biasa saja. Pada umumnya penerbit berusaha memanfaatkan momen trend yang cuma sebentar sehingga main sabet naskah yang sesuai dengan trend pasar.

4. Nilai jual naskah Anda rendah
Penerbit yang berorientasi komersial akan berusaha menghindari naskah buku yang "tidak menjual". Kata "tidak menjual" diberi tanda kutip karena sifatnya yang subyektif. Dengan asumsinya sendiri penerbit bisa menetapkan sebuah naskah memiliki nilai jual atau tidak. Kenyataannya, penerbit sering salah memprediksi nilai jual suatu naskah. Anda mungkin perlu tahu kalau buku best seller seperti Chicken Soup for The Soul, Who Moved My Cheese, bahkan Harry Potter pada awalnya ditolak habis-habisan oleh banyak penerbit.

5. Kapasitas penerbit sudah penuh
Beberapa penerbit memiliki kapasitas untuk menerbitkan buku dalam jumlah yang sangat minim. Bahkan penerbit besar pun memberi jatah jumlah yang bisa diterbitkan pada buku jenis tertentu. Jadi kalau kuota yang ada habis, maka naskah yang Anda dikirimkan kemungkinan besar akan ditolak oleh penerbit.

6. Naskah Anda terlewat tanpa sengaja
Ini adalah hal paling buruk yang dapat terjadi pada naskah Anda. Maklumlah, penerbit juga manusia. Surat proposal dan sinopsis yang buruk biasanya akan menyebabkan naskah Anda terlewat. Naskah yang belum jadi saat dikirimkan juga berpotensi merugikan karena mungkin penerbit akan beranggapan hanya seginilah kualitas naskah tersebut.
Jadi, kalau Anda melihat alasan-alasan di atas yang berkaitan dengan teknis menulis hanya sebagian dari alasan mengapa naskah Anda ditolak oleh penerbit. Bahkan lebih banyak alasan yang berada di luar naskah dan penulis. Kalau naskah Anda ditolak, mungkin bukan salah naskah Anda. Keep on writing!

oleh Didik Wijaya